Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 2025 Berapa Hijriah? Berikut Rincian Lengkapnya
Maulid Nabi Muhammad SAW 2025 di tahun ini yaitu 1447 Hijriah. Pelajari sejarah kelahiran Nabi dan penjelasan lengkapnya di sini.
Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW adalah sebuah momen yang sangat berarti dalam kalender Islam. Kegiatan ini tidak hanya sekadar memperingati hari kelahiran Nabi, tetapi juga berfungsi sebagai sarana spiritual untuk menguatkan iman dan menumbuhkan kecintaan kepada Rasulullah. Di Indonesia, masyarakat menunjukkan antusiasme yang tinggi terhadap Maulid Nabi dengan berbagai aktivitas, seperti pengajian akbar, lomba-lomba keislaman, serta tradisi lokal seperti Sekatenan dan Muludan.
Sejak awal kemunculannya, tradisi Maulid Nabi Muhammad SAW tidak hanya dianggap sebagai perayaan biasa, melainkan diyakini sebagai salah satu metode dakwah yang berperan dalam memperkuat identitas keislaman di masyarakat. Oleh karena itu, penting untuk memahami makna Maulid Nabi Muhammad SAW secara mendalam, agar pemahaman tentang perayaan ini tidak sebatas pada seremonial belaka.
Lantas bagaimana fakta sejarah dari tradisi besar umat Muslim ini? Berikut 6 fakta penting tentang Maulid Nabi Muhammad SAW yang berhasil dirangkum Merdeka.com untuk Anda, Selasa (26/8).
Maulid Nabi Muhammad SAW 2025 Berapa Hijriah?
Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW pada tahun 2025 bertepatan dengan 1447 Hijriah, yang jatuh pada tanggal 12 Rabiul Awal. Menurut kalender yang dikeluarkan oleh Kementerian Agama RI, acara peringatan tersebut dijadwalkan berlangsung pada hari Jumat, 5 September 2025. Namun, Muhammadiyah merayakannya sehari lebih awal, yaitu pada Kamis, 4 September 2025.
Kelahiran Nabi Muhammad SAW sendiri terjadi pada 12 Rabiul Awal di tahun Gajah, yang oleh para sejarawan diperkirakan setara dengan tahun 570 Masehi. Pada masa kelahiran beliau, kalender Hijriah belum ada. Penanggalan Hijriah baru resmi ditetapkan pada era Khalifah Umar bin Khattab, dimulai dari peristiwa hijrah Nabi ke Madinah pada tahun 622 M.
Dengan demikian, jika kita merujuk pada sistem kalender Hijriah, Nabi Muhammad SAW lahir sekitar 53 tahun sebelum tahun 1 Hijriah. Oleh karena itu, dalam catatan sejarah, beliau disebut lahir pada tahun Gajah dan bukan dengan angka Hijriah tertentu.
Maulid Nabi Muhammad SAW Jatuh Pada Jumat Tanggal 5 September 2025
Menurut Kementerian Agama Republik Indonesia, peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW pada tahun 2025 resmi jatuh pada tanggal 12 Rabiul Awal 1447 H. Dengan kata lain, jika merujuk pada kalender Masehi, hari besar ini akan dirayakan pada hari Jumat, 5 September 2025. Tanggal ini merupakan acuan yang umum digunakan oleh mayoritas lembaga keagamaan di Indonesia dan menjadi patokan untuk kegiatan resmi negara.
Namun, terdapat juga versi lain yang diusulkan oleh Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) Muhammadiyah, yang menetapkan bahwa 1 Rabiul Awal jatuh pada hari Minggu, 24 Agustus 2025. Oleh karena itu, Maulid Nabi akan diperingati sehari lebih awal, yaitu pada hari Kamis, 4 September 2025.
Perbedaan ini mencerminkan keragaman dalam metode hisab dan rukyat yang diterapkan oleh berbagai organisasi Islam. Meskipun terdapat perbedaan dalam penanggalan, umat Islam diharapkan tetap mengutamakan persatuan.
Sejarah Pertama Kali Maulid Nabi Diperingati, Ternyata di Mesir
Dalam kajian yang dilakukan oleh Moch Yunus berjudul "Peringatan Maulid Nabi: Tinjauan Sejarah dan Tradisinya di Indonesia", dijelaskan bahwa tradisi peringatan Maulid Nabi pertama kali muncul dalam catatan sejarah pada masa Dinasti Fathimiyyah di Mesir. Hal ini terjadi di bawah kepemimpinan Khalifah Mu'iz li Dinillah pada abad ke-4 Hijriyah, tepatnya sekitar tahun 341 H.
Meskipun perayaan ini sempat dilarang, namun Amir li Ahkamillah menghidupkan kembali tradisi tersebut pada tahun 524 H. Peringatan Maulid Nabi ini dilaksanakan sebagai upaya untuk membina spiritualitas umat dan menyebarkan semangat keagamaan di wilayah kekuasaan Fathimiyyah. Pada masa itu, fokus perayaan adalah untuk memperkuat identitas keislaman dan melawan potensi penjajahan dari bangsa asing.
"Ketika itu, Maulid diadakan oleh khalifah Mudhaffar Abu Said pada tahun 630 H secara besar-besaran. Saat itu, Mudhaffar sedang berpikir agar negerinya bisa selamat dari kekejaman Temujin yang dikenal dengan nama Jengiz Khan (1167-1227M.) dari Mongol. Jengiz Khan memiliki ambisi menguasai dunia, sehingga melakukan pecah belah ke berbagai bangsa. Ketika itu dihidangkan 5.000 ekor kambing, 10.000 ekor ayam, 100.000 keju dan 30.000 piring makanan. Acara ini menghabiskan 300.000 dinar uang emas serta mengundang para orator untuk menghidupkan nadi heroisme Muslimin," tulis studi tersebut.
Maulid Nabi dan Kaitannya dengan Masa Perang Salib
Moch Yunus juga mencatat versi kedua mengenai asal-usul perayaan Maulid Nabi yang berasal dari era Sultan Salahuddin Al-Ayyubi. Pada saat itu, Sultan menginstruksikan pelaksanaan Maulid sebagai sarana untuk mempersatukan umat Islam menjelang Perang Salib.
Kegiatan ini dipelopori oleh iparnya, Muzaffaruddin Gekburi, yang menjabat sebagai gubernur di Irbil, Suriah. Keyakinan bahwa menghidupkan kembali cinta terhadap Rasulullah dapat membangkitkan semangat jihad umat Islam semakin memperkuat gagasan ini.
Sultan Salahuddin mengadakan sayembara untuk penulisan pujian terhadap Nabi Muhammad SAW, yang dimenangkan oleh Syaikh Ja'far al-Barzanji, penulis kitab terkenal Barzanji. Tradisi pembacaan Barzanji ini masih dipertahankan hingga kini dalam perayaan Maulid di berbagai daerah di Indonesia.
Hasil dari upaya ini sangat efektif, karena semangat umat Islam meningkat, dan dalam waktu singkat, Yerusalem berhasil direbut kembali pada tahun 1187 M, yang merupakan pencapaian monumental dalam sejarah Islam. Hal ini menunjukkan bahwa perayaan Maulid tidak hanya berfungsi sebagai strategi perjuangan, tetapi juga sebagai media pendidikan spiritual.
Penyebaran Maulid Nabi di Indonesia Terjadi Bersamaan dengan Islamisasi Nusantara
Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW di Indonesia dimulai bersamaan dengan kedatangan para penyebar agama Islam, yang kemudian beradaptasi dengan budaya setempat. Pemerintah Indonesia mengakui pentingnya perayaan ini dengan menetapkannya sebagai hari besar nasional dan hari libur resmi. Kegiatan perayaan berlangsung di berbagai tempat seperti masjid, pesantren, dan surau, dengan rangkaian acara yang meliputi pengajian, khitanan massal, lomba keislaman, serta tradisi khas seperti Sekaten di Yogyakarta, Ampyang Maulid di Kudus, dan Barzanji di Lamongan.
Dari segi sejarah, yang juga dijelaskan oleh Moch Yunus dalam studinya, perayaan ini memiliki relevansi yang kuat sejak awal kedatangannya di Indonesia. Pada masa itu, perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW dilakukan melalui pembacaan Sirah Nabawiyah, yaitu riwayat hidup Nabi yang diambil dari sumber-sumber kitab. Di beberapa daerah, masyarakat juga melakukan tradisi memandikan pusaka atau mengadakan arak-arakan makanan. Selain itu, pembacaan sejarah hidup Nabi dilakukan secara bergiliran dan terkadang dilagukan, yang menambah nilai edukatif dari acara tersebut.
"Biasanya mereka membaca sirahnabawiyah (sejarah hidup Nabi sejak kelahiran sampai wafatnya), dalam bentuk prosa dengan cara berganti-ganti dan kadang-kadang dengan dilagukan," tulisnya lagi di jurnal tersebut.
Amalan di Hari Maulid untuk Meneladani Rasulullah
Berbagai cara dapat dilakukan untuk memperingati Maulid Nabi, namun seluruhnya memiliki tujuan yang sama, yaitu menguatkan rasa cinta kepada Rasulullah SAW. Beberapa di antaranya mencakup membaca maulid atau sirah nabawiyah, memperbanyak sholawat, bersedekah, mengikuti pengajian, serta meningkatkan doa dan introspeksi diri. Amalan-amalan ini bukan hanya sekadar rutinitas, melainkan juga merupakan upaya untuk meneladani akhlak Nabi dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam sebuah khutbah yang bertema Maulid Nabi Muhammad SAW yang dikeluarkan oleh Kementerian Agama RI, ditekankan bahwa penting untuk menjadikan Maulid Nabi sebagai momentum dalam menyebarkan kasih sayang dan meneladani kebaikan universal yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW. Selain itu, Maulid juga berfungsi sebagai sarana dakwah untuk menghidupkan kembali nilai-nilai Islam seperti kejujuran, keadilan, kesederhanaan, dan kasih sayang.
Dengan melaksanakan amalan ini secara tulus dan berkesinambungan, diharapkan umat Islam dapat memanfaatkan momentum Maulid sebagai sumber energi moral dan spiritual dalam menghadapi tantangan zaman.
Keutamaan Merayakan Maulid Nabi: Dari Surga Tanpa Hisab hingga Pahala Perang Badar
Dalam berbagai kitab ulama, terdapat banyak keutamaan yang menegaskan betapa pentingnya merayakan Maulid Nabi. Salah satu keutamaan tersebut adalah, orang yang mengeluarkan harta untuk pembacaan Maulid akan diakui sebagai teman Rasulullah di surga, mendapatkan pahala yang setara dengan jihad di Perang Badar dan Hunain, serta akan masuk surga tanpa melalui hisab. Hal ini menjadi dorongan spiritual yang kuat bagi umat Islam untuk merayakannya dengan penuh kesungguhan.
Lebih dari itu, perayaan Maulid juga merupakan cara untuk mengekspresikan rasa syukur atas kelahiran Nabi, serta menjadi sarana untuk menghidupkan kembali nilai-nilai Islam yang mulai memudar. Dengan hanya menghadiri pembacaan Maulid, seseorang sudah dianggap menunjukkan rasa cinta kepada Nabi.
Meskipun keutamaan-keutamaan ini tidak bersifat wajib, dampak spiritual yang ditimbulkannya sangat besar dalam memperkuat hubungan antara umat dengan Rasulullah SAW.