Unik! Ketua PWI Pusat Jalani Prosesi Adat Peusijuk di Aceh, Perkuat Silaturahim dan Amanah Jurnalistik

Ketua PWI Pusat Akhmad Munir dan jajaran pengurus menjalani prosesi adat peusijuk di Aceh, sebuah tradisi unik yang mempererat silaturahim dan menguatkan amanah jurnalistik.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Unik! Ketua PWI Pusat Jalani Prosesi Adat Peusijuk di Aceh, Perkuat Silaturahim dan Amanah Jurnalistik
Ketua PWI Pusat Akhmad Munir dan jajaran pengurus menjalani prosesi adat peusijuk di Aceh, sebuah tradisi unik yang mempererat silaturahim dan menguatkan amanah jurnalistik. (AntaraNews)

Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat, Akhmad Munir, bersama sejumlah pengurus inti, baru-baru ini menjalani prosesi adat peusijuk atau tepung tawar di Aceh. Acara penting ini merupakan tradisi masyarakat Aceh dalam menyambut tamu kehormatan.

Prosesi adat yang sarat makna tersebut berlangsung di Kantor PWI Aceh di Banda Aceh pada hari Sabtu, 01 November. Kegiatan ini juga dirangkai dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, menambah kekhidmatan suasana.

Kehadiran jajaran PWI Pusat ini tidak hanya mempererat tali silaturahim antaranggota, tetapi juga menjadi simbol penguatan amanah kepengurusan baru. Mereka disambut hangat oleh Ketua PWI Aceh, Nasir Nurdin, dan jajarannya.

Penguatan Silaturahim dan Amanah Kepemimpinan PWI Pusat

Ketua PWI Pusat Akhmad Munir mengungkapkan apresiasi dan rasa syukur atas prosesi adat yang dirangkai dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Menurutnya, momen ini sangat menguatkan silaturahim jajaran PWI yang sebelumnya sempat mengalami perbedaan pandangan.

Munir menegaskan bahwa PWI kini telah bersatu kembali di bawah kepemimpinannya. "Kini, PWI sudah bersatu kembali. Kami dipercaya menakhodai PWI lima tahun ke depan. Doakan agar amanah yang diberikan kepada kami terlaksana dan berjalan dengan baik," katanya, memohon dukungan dari seluruh anggota.

Selain Akhmad Munir, prosesi adat tersebut juga diikuti oleh Sekretaris Jenderal PWI Pusat Zulmansyah Sekedang. Turut hadir pula Wakil Ketua Bidang Kerja Sama dan Kemitraan PWI Pusat Amy Atmanto, serta Anggota Dewan Pakar PWI Pusat Muhammad Amru yang merupakan mantan Bupati Gayo Lues, Provinsi Aceh.

Kehadiran para petinggi PWI Pusat ini menunjukkan komitmen untuk memperkuat organisasi dan menjalin hubungan baik dengan PWI di daerah. Prosesi ini menjadi langkah awal yang positif bagi kepengurusan baru.

Meneladani Rasulullah dalam Jurnalistik Beretika

Akhmad Munir juga menyampaikan bahwa peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW bersama PWI Aceh mengingatkannya pada masa kecil ketika merayakan hari kelahiran Rasulullah. Ia menekankan pentingnya momen ini.

Menurutnya, kegiatan ini bukan sekadar merayakan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW, tetapi menjadi momentum untuk meneladani Rasulullah dalam kehidupan dan pekerjaan sehari-hari. Pesan ini sangat relevan bagi insan pers.

Munir menjelaskan bahwa meneladani Rasulullah berarti memperjuangkan kebenaran. Oleh karena itu, apa yang diperjuangkan Nabi Muhammad SAW harus menjadi teladan bagi setiap wartawan dalam menjalankan tugasnya.

"Teladan dengan menjunjung tinggi kebenaran, keadilan, tanpa fitnah. Kode etik jelas disebutkan wartawan tidak berniat buruk. Kemudian, tabayun atau memverifikasi untuk memastikan kebenaran sebuah informasi," kata Akhmad Munir, menekankan pentingnya etika jurnalistik.

Makna Peusijuk: Syukur dan Penghormatan Adat Aceh

Sementara itu, Ketua PWI Aceh Nasir Nurdin menjelaskan bahwa prosesi peusijuk merupakan bentuk rasa syukur atas terbentuknya kepengurusan baru PWI Pusat periode 2025-2030. Kepengurusan ini sebelumnya telah dikukuhkan di Solo, Jawa Tengah, pada awal Oktober 2025.

Nurdin menambahkan bahwa prosesi adat ini tidak hanya bertujuan untuk menghormati tamu yang datang. Lebih dari itu, ini juga merupakan wujud rasa syukur atas kepemimpinan baru PWI Pusat yang diharapkan membawa kemajuan.

"Prosesi adat ini selain menghormati tamu, juga sebagai bentuk syukur terbentuk kepengurusan baru PWI. Apalagi, tiga pengurus PWI yang menjalani proses peusijeuk merupakan asal Aceh," kata Nasir Nurdin.

Fakta bahwa beberapa pengurus PWI Pusat yang di-peusijuk berasal dari Aceh menambah kekhasan dan kehangatan dalam prosesi ini. Hal ini juga menunjukkan ikatan kuat antara PWI Pusat dan daerah.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi