Cedera Paling Umum Saat Lari, Ternyata Bukan Otot Robek atau Putus
Pelari perlu memahami berbagai jenis cedera yang sering terjadi baik saat berlari maupun setelahnya.
Cedera merupakan salah satu risiko yang tak terhindarkan saat melakukan aktivitas olahraga. Dalam konteks ini, cedera yang paling umum terjadi bukanlah robekan atau putusnya jaringan, melainkan lebih kepada inflamasi atau peradangan.
"Cedera olahraga, yang paling sering ditemukan adalah inflamasi. Jadi, sebenarnya bukan robek atau putus, tapi inflamasi yang ditandai dengan nyeri, bengkak, memar," ungkap dokter spesialis kedokteran olahraga konsultan, Zeth Boroh. Ia menjelaskan bahwa jaringan yang paling rentan mengalami cedera adalah otot dan tendon, terutama pada individu yang aktif berlari.
Zeth juga menambahkan bahwa pasien yang paling sering mengalami cedera adalah mereka yang rutin berlari.
"Pasien saya yang paling banyak cedera itu lari, mungkin karena sekarang banyak yang lari. Pas saya periksa dengan USG, ga ada robekan atau putus, tapi ada inflamasi," jelas Zeth. Ia mengingatkan kepada masyarakat yang kini semakin aktif berolahraga untuk segera menangani inflamasi yang muncul. Apabila setelah berolahraga merasakan nyeri, bengkak, atau memar, penanganan yang tepat sangatlah diperlukan.
"Penanganan inflamasi sangat penting karena kalau dibiarkan kan bisa kronik atau jadi kompensasi, maksudnya, awalnya lutut kiri yang cedera terus tetap berolahraga sehingga kaki bertumpu pada kaki kanan, akhirnya lutut kanan ikutan cedera karena kelebihan beban," tuturnya pada peluncuran gel 2-in-1 Thrombovoren di Jakarta pada Kamis, 17 April 2026.
Pengelolaan Peradangan Setelah Berolahraga
Zeth menekankan betapa pentingnya penanganan inflamasi, terutama dalam konteks cedera olahraga. Mempercepat proses inflamasi merupakan langkah krusial agar cedera tidak semakin parah dan proses penyembuhan dapat berlangsung dengan optimal.
Berbagai cara dapat dilakukan untuk menangani inflamasi, salah satunya adalah metode RICE (Rest, Ice, Compression, Elevation). Metode ini bertujuan untuk mempercepat proses inflamasi agar segera selesai dan tidak memperburuk kondisi, setelah itu baru disarankan untuk menjalani terapi lebih lanjut.
"Penting untuk mempercepat proses ini juga pemberian anti-inflamasi bisa dengan oral, topikal. Jadi penanganan cedera olahraga memang seharusnya secepat mungkin, bukan hanya sekadar mempercepat proses penyembuhannya, tapi kita juga terapi supaya proses pemburukannya kita hindari," katanya.
Selain itu, gel antiinflamasi yang direkomendasikan adalah yang mengandung diclofenac diethylamine, karena dapat membantu mengurangi inflamasi dan bengkak. Selain itu, gel yang mengandung heparin sodium juga efektif untuk mengurangi penggumpalan darah serta mencegah penggumpalan darah semakin meluas.