Erdogan Tegaskan Hamas Bukan Teroris Tapi Membela Diri, Israel Pelaku Genosida Total Tak Kenal Ampun di Gaza
Erdogan menegaskan bahwa Benjamin Netanyahu bertanggung jawab atas tindakan "genosida total" yang terjadi di Gaza.
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengeluarkan pernyataan tegas yang mengecam tindakan Israel dalam Konferensi Internasional Tingkat Tinggi untuk Penyelesaian Damai atas Masalah Palestina dan Implementasi Solusi Dua Negara yang berlangsung di New York, Senin (22/9/2025).
Ia menuduh Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bertanggung jawab atas apa yang ia sebut sebagai "genosida total" di Gaza, sebagaimana dilaporkan oleh Anadolu Agency pada Selasa (23/9).
"Saya rasa kita tidak bisa menjelaskannya dengan cara lain. Ini sepenuhnya genosida dan genosida ini disebabkan oleh Netanyahu. Tanpa ampun, ia telah membunuh puluhan ribu orang," ungkap Erdogan dalam wawancara dengan Fox News di sela-sela sidang Majelis Umum PBB.
Erdogan juga menyampaikan bahwa lebih dari 120.000 orang mengalami luka-luka akibat serangan Israel, dan ribuan korban telah dibawa ke Turki untuk mendapatkan perawatan. Ia menegaskan bahwa Turki menolak segala bentuk genosida.
Ketika ditanya tentang kelompok Hamas, Erdogan menolak untuk menyebut mereka sebagai organisasi teroris.
"Saya tidak melihat Hamas sebagai organisasi teroris. Sebaliknya, mereka adalah kelompok perlawanan yang menggunakan apa yang mereka miliki untuk membela diri," tegasnya.
Ia juga menuduh Israel melakukan serangan yang membabi buta terhadap warga sipil, termasuk anak-anak dan orang tua.
"Mereka tidak kenal ampun, orang-orang ini dibunuh tanpa pandang bulu," ujarnya.
Lebih lanjut, Erdogan meragukan klaim bahwa perang di Gaza dapat segera berakhir, dengan membandingkannya dengan konflik yang masih berlangsung antara Rusia dan Ukraina.
"Trump pernah bilang akan mengakhiri perang Rusia-Ukraina. Apakah perang itu selesai? Tidak. Hal yang sama juga dengan Gaza," tuturnya.
Pendapat ini menunjukkan keprihatinan Erdogan terhadap situasi di wilayah tersebut dan menggambarkan ketidakpastian yang melingkupi upaya perdamaian.
F-35 dan F-16 Memiliki Keterkaitan yang Erat dengan Amerika Serikat
Selain membahas isu Palestina, Erdogan juga mengungkapkan rencananya untuk bertemu dengan Presiden Donald Trump di Gedung Putih pada hari Kamis mendatang. Pertemuan ini akan membahas sejumlah topik penting, salah satunya adalah program jet tempur F-35 yang mengalami penundaan setelah Ankara melakukan pembelian sistem pertahanan S-400 dari Rusia.
"Kami sudah membayar 1,4 miliar dolar. Beberapa pesawat hampir selesai, tapi pengiriman dihentikan. Ini bukan kemitraan strategis yang tepat," katanya.
Meskipun Amerika Serikat baru-baru ini menyetujui penjualan jet F-16, Erdogan menegaskan bahwa diskusi tersebut akan meliputi produksi, pemeliharaan, dan kerja sama pertahanan yang lebih luas.
Ia merasa optimis bahwa hubungan dalam bidang industri dan teknologi dengan Washington akan semakin baik.
Mengenai konflik Rusia-Ukraina, Erdogan berpendapat bahwa kedua pihak mengalami kerugian yang signifikan. Ia mendorong NATO untuk meniru pendekatan yang diambil oleh Turki, yang berusaha menjaga komunikasi dengan kedua belah pihak dalam konflik tersebut.
Selain itu, Erdogan juga mengkritik sikap Uni Eropa yang menolak keanggotaan Turki, meskipun negara tersebut telah menjadi anggota NATO selama lebih dari 50 tahun.
"Saya pikir ini tidak adil," ujarnya.