Rekor, Lukisan Hasil Robot Ini Dilelang, Harganya Tembus Rp 20 Miliar
Lukisan karya Ai-Da, robot seniman ultra-realistis, mencetak rekor dengan terjual Rp20 miliar di lelang.
Robot seniman ultra-realistis pertama di dunia, Ai-Da, mencetak sejarah dengan menjual lukisan Alan Turing seharga lebih dari USD1 juta (sekitar Rp20 miliar). Lukisan berjudul "A.I. God" ini dilelang di Sotheby’s Digital Art Sale, New York, dan terjual dengan harga fantastis, jauh melampaui prediksi awal sebesar USD120.000 hingga USD180.000.
Ai-Da, dinamai berdasarkan matematikawan abad ke-19 Ada Lovelace, menggunakan kecerdasan buatan (AI) untuk menciptakan karya seninya. Dalam prosesnya, Ai-Da menganalisis foto Alan Turing dan memutuskan sendiri gaya serta pendekatan artistik yang akan digunakan.
Proses Kreatif Unik
Aidan Meller, Direktur Proyek Ai-Da, menjelaskan bahwa proses penciptaan dimulai dengan diskusi dengan Ai-Da tentang tema "A.I. for Good". Dari sini, Ai-Da memilih Alan Turing sebagai tokoh yang ingin dilukis. Robot ini menggunakan kamera di matanya untuk mengamati foto Turing dan algoritma AI untuk membuat sketsa awal sebelum melukis menggunakan akrilik dan cat minyak.
Setiap lukisan membutuhkan waktu sekitar 6-8 jam untuk diselesaikan. Untuk proyek ini, Ai-Da menghasilkan 15 potret individu Turing. Tiga dari karya tersebut dipilih oleh Ai-Da untuk diproses lebih lanjut dan dicetak menggunakan printer tekstur 3D. Studio asisten kemudian menambahkan tekstur sebelum Ai-Da menyelesaikan detail akhir.
Pencapaian Seni dan Teknologi
Ai-Da adalah hasil kolaborasi internasional. Dikembangkan oleh perusahaan Engineered Arts dari Inggris, dengan kapabilitas AI yang dikembangkan oleh para akademisi dari Universitas Oxford dan Birmingham. Selain sebagai pencipta, Ai-Da juga merupakan karya seni konseptual yang bertujuan memicu diskusi tentang peran AI dalam kreativitas.
"Penjualan ini adalah momen penting dalam seni visual, di mana karya Ai-Da menyoroti perubahan dalam dunia seni dan masyarakat di tengah era AI yang terus berkembang," ujar Meller.
Lukisan ini tak hanya mencatat sejarah baru dalam seni digital, tetapi juga memicu diskusi tentang peran AI dalam seni dan kreativitas manusia.