Alan Turing, tokoh kunci dalam kemenangan Sekutu saat Perang Dunia II dan bapak AI, pernah menjadi korban dari hukum Inggris yang mendiskriminasi orientasi seksual.
Turing memainkan peran vital dalam memecahkan sandi Enigma milik Nazi Jerman di Bletchley Park, yang menurut para sejarawan seperti Prof. Jack Copeland dari University of Canterbury mempercepat akhir Perang Dunia II hingga dua tahun lebih awal dan menyelamatkan jutaan nyawa.
Setelah perang, ia bekerja di National Physical Laboratory dan University of Manchester, di mana ia mengembangkan konsep mesin universal yang kini dikenal sebagai komputer modern. Gagasan “Turing Machine” miliknya menjadi dasar teori komputasi di seluruh dunia.
Namun pada tahun 1952, kehidupan Turing berubah drastis. Ia melaporkan kasus pencurian kepada polisi, namun dalam proses interogasi mengaku menjalin hubungan sesama jenis—yang saat itu masih dianggap kejahatan berdasarkan Undang-Undang Pelanggaran Kesusilaan tahun 1885.
Pengadilan lalu menghukumnya. Ia diberi dua pilihan hukuman: penjara atau pengobatan. Pengobaran ini berupa kastrasi kimia menggunakan suntikan hormon estrogen.
Dari dua pilihan hukuman itu, Turing memilih opsi kedua. Tujuannya agar ia bisa tetap bekerja, meskipun efek sampingnya sangat berat, termasuk pembengkakan jaringan payudara dan perubahan fisik yang drastis. Tak hanya itu, dia juga kehilangan izin keamanan yang membuatnya tak bisa lagi bekerja pada proyek-proyek rahasia.
Turing ditemukan meninggal di rumahnya di Wilmslow, Cheshire, pada 7 Juni 1954, dengan apel yang sebagian tergigit di samping ranjangnya—mengandung sianida.
Koroner menyatakan kematiannya sebagai bunuh diri, tetapi beberapa ilmuwan seperti Prof. Andrew Hodges—penulis biografi Alan Turing: The Enigma (1983)—tidak menutup kemungkinan bahwa kematian itu bisa jadi merupakan kecelakaan akibat eksperimen kimia yang gagal.
Baru puluhan tahun kemudian, Inggris secara resmi mengakui kesalahan mereka. Pada tahun 2009, Perdana Menteri Gordon Brown menyampaikan permintaan maaf atas perlakuan negara terhadap Turing. Dalam pernyataannya, Brown menyebut tindakan terhadap Turing sebagai “sangat tidak adil” dan “mengerikan.”
Selanjutnya pada 2013, Ratu Elizabeth II memberikan pengampunan kerajaan (royal pardon) kepada Turing, atas usulan dari Menteri Kehakiman saat itu, Chris Grayling.
Puncaknya, pada tahun 2017, Parlemen Inggris mengesahkan Alan Turing Law, sebuah undang-undang yang memberikan pengampunan hukum secara retroaktif kepada lebih dari 65.000 orang yang dihukum karena orientasi seksual di bawah hukum lama Inggris.
Meskipun hidupnya berakhir dengan tragis, warisan ilmiah dan moral Alan Turing tetap hidup. Pada 2019, ia diumumkan sebagai wajah baru pada uang pecahan £50 Inggris, menggantikan James Watt dan Matthew Boulton. Bank of England menyebut Turing sebagai “raksasa ilmu pengetahuan Inggris.”
Penemuan arsip-arsip dan dokumen asli tulisan tangan Turing yang sempat hilang juga memberikan pemahaman baru tentang kedalaman pemikirannya di bidang matematika, enkripsi, dan biologi matematika.