Robot Bedah ini Sukses Operasi Kantong Empedu
Robot ini bahkan mampu menghadapi situasi darurat tak terduga.
Dunia medis mencatat terobosan besar, robot bedah berhasil melakukan operasi pengangkatan kantong empedu secara otonom sembari mendengarkan dan menanggapi perintah suara layaknya seorang peserta didik manusia yang diarahkan oleh ahli bedah senior.
Robot ini bahkan mampu menghadapi situasi darurat tak terduga—kemampuan vital yang wajib dikuasai dokter bedah.
“Ini lompatan besar dari upaya sebelumnya karena mengatasi hambatan mendasar untuk menerapkan robot bedah otonom di dunia nyata,” kata penulis utama studi Ji Woong “Brian” Kim dalam pernyataannya dikutip IFLScience, Kamis (10/7).
Wong mengakui bahwa mngajarkan robot untuk melakukan prosedur bedah yang kompleks bukan hal mudah. Robot harus tahu tiap langkah operasi, termasuk area mana yang harus dihindari, sebagai contoh: pembuluh darah besar. Perintah itu harus dapat dipahami oleh robot.
Menurut Mathias Unberath dari Johns Hopkins University, kunci kesuksesan studi ini adalah imitation learning atau pembelajaran meniru.
“Bisakah saya menonton manusia untuk belajar? Jika jawabannya ya, maka segalanya jadi jauh lebih mudah,” jelasnya.
Dalam penelitian ini, tim melatih sistem menggunakan video operasi pengangkatan kantong empedu pada bangkai babi, dengan teks penjelas untuk setiap langkah. Prosedur ini dikenal sebagai kolesistektomi.
Kemampuan Melewati 17 Tahap Rumit
Tahun lalu, tim pimpinan Prof. Axel Krieger di Johns Hopkins sudah menunjukkan bahwa mereka bisa melatih robot untuk memegang jarum bedah, mengangkat jaringan, dan menjahit hanya dalam hitungan detik pembelajaran.
Namun, operasi pengangkatan kantong empedu jauh lebih kompleks. Pasalnya, membutuhkan 17 tahap berbeda mulai dari identifikasi jaringan, membuat sayatan presisi, hingga pemasangan klip.
Robot yang dikembangkan, bernama Surgical Robot Transformer-Hierarchy (SRT-H), bukan hanya menghafal rute operasi layaknya mengikuti jalur GPS, tapi bisa beradaptasi dengan kondisi tak terduga.
“Ini seperti mengajari robot untuk mengemudi di jalan mana saja, dalam kondisi apa pun,” jelasnya.
Hasil Akurat Meski Lebih Lambat
Dalam pengujian pada delapan kantong empedu babi (dilakukan ex vivo atau di luar tubuh), semua 17 langkah berhasil dijalankan dengan akurasi 100%. Walau prosesnya lebih lambat dari dokter bedah manusia, hasil akhirnya dinilai setara.
“Ini bukti konsep bahwa prosedur bedah kompleks bisa diotomatisasi dengan kerangka pembelajaran meniru yang sangat kuat,” tegas Krieger.
Robot bedah otonom yang bisa merespons suara dan situasi darurat bukan lagi sekadar khayalan film sains fiksi. Brian Kim menyimpulkan:
“Pekerjaan kami menunjukkan model AI bisa dibuat cukup andal untuk otonomi bedah—sesuatu yang dulunya terasa jauh tapi kini sudah terbukti layak.”