Operasi Usus Buntu: Apakah Perlu Menggunakan Robot da Vinci Xi?
Operasi usus buntu sebaiknya dilakukan dengan metode laparoskopi atau menggunakan robot da Vinci Xi.
Robot bedah da Vinci Xi dianggap sebagai teknologi paling canggih dalam dunia kedokteran saat ini. Dengan sayatan yang hanya berukuran 8 mm, robot ini mampu menangani berbagai masalah kesehatan yang kompleks.
Namun, muncul pertanyaan, apakah penyakit usus buntu yang tergolong tidak terlalu rumit juga dapat dioperasi menggunakan da Vinci Xi? Menurut dokter spesialis bedah, Handy Wing, "Kalau kasus seperti usus buntu, mungkin termasuk kasus yang tergolong ringan. Kalau tidak terjadi komplikasi, usus buntunya tidak sampai pecah, mungkin enggak beda jauh antara laparoskopi sama robotik, karena sama-sama lukanya kecil," ungkapnya dalam acara Healthy Monday bersama Liputan6.com di Jakarta pada Senin, 22 Desember 2025.
Lebih lanjut, Handy Wing menjelaskan bahwa jika dibandingkan dengan metode bedah konvensional yang melibatkan sayatan besar, penggunaan laparoskopi atau robotik bisa menjadi pilihan yang lebih baik.
"Tapi, karena laparoskopi lebih murah, mungkin laparoskopi saja cukup," tambahnya.
Selama kondisi usus buntu dapat ditangani melalui laparoskopi, dokter akan merekomendasikan metode tersebut, yang memungkinkan pemeriksaan dan penanganan masalah di area perut dan panggul. Laparoskopi menggunakan kamera untuk mengamati bagian-bagian yang bermasalah di dalam perut.
"Tapi kalau misalnya dia (pasien) kanker atau usus buntunya sampai pecah, bernanah, infeksi, tumpah ke seluruh perut, robot lebih baik. Kalau tingkat kasusnya lebih tinggi, maka robot lebih superior dibanding laparoskopi. Kalau kasus-kasus biasa, robot dengan laparoskopi seimbang (kemampuannya)," ujarnya.
Robot da Vinci Xi Dirancang untuk Menangani Kasus-kasus yang Kompleks
Handy menjelaskan bahwa da Vinci Xi lebih sering digunakan dalam prosedur bedah yang memiliki tingkat kompleksitas dan kesulitan yang tinggi.
"Misalnya, pada kasus kanker yang terletak di area kolorektal (usus besar), lambung, kerongkongan, serta dapat diterapkan pada masalah hati dan pankreas. Selain itu, alat ini juga efektif untuk menangani kasus hernia dan operasi bariatrik yang bertujuan untuk mengatasi obesitas," ungkapnya.
Terdapat beberapa keuntungan yang dapat diperoleh pasien ketika menjalani operasi bariatrik menggunakan da Vinci Xi. Salah satunya adalah pengurangan rasa sakit yang signifikan karena sayatan yang dilakukan jauh lebih kecil, hanya sekitar 8 mm. Selain itu, proses pemulihan pasien menjadi lebih cepat dan risiko perdarahan yang dapat mengharuskan transfusi darah menjadi lebih rendah.
"Dengan luka yang lebih kecil, risiko infeksi juga berkurang. Karena perut tidak dibuka secara besar-besaran, kemungkinan kuman untuk masuk ke dalam tubuh pun lebih kecil," tambahnya.
Sistem Operasi da Vinci Xi
Handy menjelaskan berbagai keunggulan yang ditawarkan oleh sistem operasi da Vinci Xi. Beberapa kelebihan tersebut meliputi:
- Sayatan kecil berukuran 8 mm
- Pemulihan yang lebih cepat
- Durasi tinggal di rumah sakit yang lebih singkat
- Bekas operasi yang tidak terlalu jelas dan risiko keloid yang lebih rendah
- Komplikasi yang lebih kecil
- Fungsi organ yang tetap terjaga.
Dengan banyaknya keuntungan ini, muncul pertanyaan apakah biaya operasi dengan da Vinci Xi lebih tinggi. "Biayanya masih ditentukan oleh rumah sakit, karena memang harga untuk prosedur ini lebih mahal dibandingkan dengan operasi laparoskopi konvensional. Biayanya bisa mencapai dua kali lipat. Oleh karena itu, tidak semua pasien harus menjalani operasi robot," ungkapnya. "Namun, bagi pasien yang memerlukan operasi kompleks dan rumit, serta membutuhkan ketelitian tinggi, penggunaan robot ini bisa menjadi solusi yang tepat," tambahnya.
Apakah Anda dapat menangani kasus bayi?
Handy mengakui bahwa ia tidak dapat memberikan banyak komentar mengenai kasus bayi. Hal ini disebabkan karena spesialisasi yang dimilikinya adalah di bidang bedah digestif, bukan bedah anak. Ia menjelaskan, "Saya bidangnya bedah digestif jadi saya enggak tahu kalau untuk kasus bayi." Menurutnya, ukuran organ bayi yang lebih kecil menjadi faktor yang mempengaruhi penggunaan teknologi bedah, terutama robot yang memiliki panjang tertentu. "Jadi lebih dikhususkan untuk pasien dewasa," tambahnya, menegaskan bahwa prosedur ini lebih sesuai untuk orang dewasa dibandingkan bayi.