Ternyata Ini yang Dilakukan Dokter Zaman Dulu saat Obat Bius Belum Ditemukan untuk Operasi
Sebelum ada obat bius, dokter zaman dulu punya cara 'mengerikan' saat melakukan operasi.
Obat bius atau anestesi menjadi penemuan penting dalam dunia kedokteran modern. Pasien tak perlu merasakan sakit saat operasi atau pembedahan berkat penemuan ini. Penggunaan bius pertama kali dilakukan pada tahun 1842 dan mengubah dunia medis selamanya.
Namun, bagaimana jadinya jika operasi dilakukan tanpa obat bius? Metode apa yang digunakan oleh para dokter zaman dahulu untuk mengurangi rasa sakit pasien? Artikel ini akan membahas berbagai cara yang dilakukan dokter sebelum ditemukannya anestesi.
Tindakan operasi di masa lampau menjadi pengalaman traumatis bagi pasien. Minimnya pengetahuan tentang anatomi tubuh manusia membuat tindakan operasi sangat berisiko. Lalu, bagaimana cara dokter-dokter zaman dahulu melakukan operasi tanpa obat bius?
Ramuan Herbal Jadi Andalan
Sebelum penggunaan anestesi modern, dokter zaman dulu sempat mengandalkan ramuan herbal sebagai upaya meredakan rasa sakit pasien. Ramuan ini umumnya mengandung opium, jus mandrake, hemlock, empedu babi hutan, dan cuka. Kombinasi bahan-bahan ini memberikan efek pereda nyeri meski sangat terbatas.
Efek ramuan herbal ini tidak menghilangkan kesadaran pasien sepenuhnya. Tingkat efektivitasnya pun bervariasi pada setiap individu. Beberapa pasien mungkin merasakan sedikit pengurangan rasa sakit, sementara yang lain tidak merasakan perubahan signifikan.
Penggunaan ramuan herbal lebih berfungsi sebagai upaya menenangkan pasien daripada menghilangkan rasa sakit sepenuhnya. Dokter menyadari keterbatasan metode ini, tetapi pada masa itu, ramuan herbal menjadi satu-satunya pilihan yang tersedia.
Penekanan Fisik: Pasien Diikat Kuat-kuat di Meja Operasi
Selain ramuan herbal, penekanan fisik menjadi salah satu metode yang umum digunakan. Pasien akan diikat kuat-kuat di meja operasi untuk membatasi gerakan selama prosedur berlangsung. Tindakan ini dilakukan untuk mengendalikan pasien yang mungkin meronta kesakitan.
Tentu saja, metode ini tidak mengurangi rasa sakit yang dialami pasien. Penekanan fisik justru menambah trauma dan ketidaknyamanan selama operasi. Pasien merasa tidak berdaya dan hanya bisa pasrah menerima tindakan medis yang menyakitkan.
Mengikat pasien di meja operasi menjadi pemandangan yang lazim sebelum era anestesi. Metode ini mencerminkan betapa terbatasnya pilihan yang tersedia bagi dokter pada masa itu. Tujuan utamanya adalah mengendalikan pasien agar operasi dapat dilakukan.
Alkohol dan Hipnotisme: Upaya Meredakan Kecemasan
Alkohol juga digunakan sebagai upaya menenangkan pasien sebelum operasi. Alkohol diharapkan dapat memberikan efek relaksasi dan mengurangi kecemasan. Namun, alkohol sama sekali tidak mengurangi rasa sakit fisik yang dialami pasien selama operasi.
Selain alkohol, hipnotisme juga sempat dicoba sebagai metode untuk menenangkan pikiran pasien. Hipnotisme bertujuan untuk mengalihkan perhatian pasien dari rasa sakit yang akan datang. Sayangnya, metode ini tidak memberikan efek anestesi yang signifikan.
Penggunaan alkohol dan hipnotisme lebih bersifat sugestif dan psikologis. Dokter berharap kedua metode ini dapat membantu pasien lebih rileks dan mengurangi rasa takut. Namun, efektivitasnya sangat bergantung pada sugestibilitas masing-masing pasien.
Pada masa itu, seorang dokter bisa mendapat predikat 'terbaik' jika dia bisa melakukan operasi dengan cepat. Hal itu dianggap bisa membantu pasien agar tidak terlalu lama merasakan sakit.
Tahun 1824, seorang dokter Inggris Henry Hill Hickman mulai bereksperimen dengan menidurkan hewan dalam waktu yang singkat menggunakan karbon monoksida. Percobaan tersebut pun terus dikembangkan dari tahun ke tahun untuk keperluan medis.
Dalam catatan sejarah, obat bius pertama kali diaplikasikan pada pasien pada 30 Maret 1842. Adalah seorang ahli bedah asal Amerika Serikat, dr Crawford Williamson Long yang menggunakan obat bius untuk membantunya melakukan operasi.