7 Teknik Medis Tak Biasa dari Masa Lalu: Dari Pertumpahan Darah Hingga Tengkorak Manusia

Telusuri 7 teknik medis tak lazim dari masa lalu, termasuk pertumpahan darah, trepanasi, hingga penggunaan tengkorak manusia, yang kini dianggap berbahaya.

Rizky Wahyu Permana
Oleh Rizky Wahyu Permana - Reporter
7 Teknik Medis Tak Biasa dari Masa Lalu: Dari Pertumpahan Darah Hingga Tengkorak Manusia
7 Teknik Medis Tak Biasa dari Masa Lalu: Dari Pertumpahan Darah Hingga Tengkorak Manusia (Merdeka.com)

Dalam dunia medis, prinsip utama yang seharusnya dipegang teguh adalah "primum non nocere" atau "utamakan untuk tidak membahayakan". Namun, sejarah mencatat bahwa prinsip ini tidak selalu mudah diterapkan. Banyak praktik medis kuno yang, berdasarkan standar modern, tampak aneh, mengerikan, bahkan berbahaya. Artikel ini akan membahas tujuh teknik medis tak biasa dari masa lalu yang mungkin membuat Anda terkejut.

Praktik-praktik ini mencerminkan pemahaman yang terbatas tentang tubuh manusia dan penyakit. Seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, metode pengobatan yang lebih aman dan efektif telah dikembangkan, menggantikan praktik-praktik yang kini dianggap tidak ilmiah dan berbahaya ini. Mari kita selami beberapa contohnya:

Selama ribuan tahun, para praktisi medis percaya bahwa penyakit disebabkan oleh kelebihan "darah kotor". Praktik pertumpahan darah melibatkan pengeluaran darah dari tubuh pasien. Menurut catatan sejarah, praktik ini kemungkinan dimulai oleh bangsa Sumeria dan Mesir kuno, kemudian menjadi umum di zaman Yunani dan Romawi klasik. Dokter berpengaruh seperti Hippocrates dan Galen berpendapat bahwa tubuh manusia dipenuhi dengan empat zat dasar atau "humor"—empedu kuning, empedu hitam, dahak, dan darah—yang harus seimbang untuk menjaga kesehatan.

Pasien dengan demam atau penyakit lain sering didiagnosis dengan kelebihan darah. Untuk memulihkan keseimbangan tubuh, dokter akan membuka pembuluh darah dan mengalirkan sebagian cairan vital mereka ke dalam wadah. Dalam beberapa kasus, lintah bahkan digunakan untuk menghisap darah langsung dari kulit. Praktik ini sangat populer sehingga tukang cukur pun menawarkan layanan ini.

"Dengan pemikiran ini, pasien dengan demam atau penyakit lain sering didiagnosis dengan kelebihan darah. Untuk memulihkan harmoni tubuh, dokter mereka hanya akan memotong pembuluh darah dan mengalirkan sebagian cairan vital mereka ke dalam wadah," tulis Evan Andrews dalam artikelnya di History.com.

Pertumpahan darah akhirnya ditinggalkan setelah penelitian menunjukkan bahwa praktik ini lebih banyak merugikan daripada menguntungkan. Meskipun demikian, penggunaan lintah dan pertumpahan darah terkontrol masih digunakan saat ini sebagai pengobatan untuk penyakit langka tertentu.

Trepanasi adalah salah satu bentuk operasi tertua yang diketahui manusia, sekaligus salah satu yang paling mengerikan. Sejak 7.000 tahun lalu, peradaban di seluruh dunia melakukan trepanasi, yaitu praktik melubangi tengkorak sebagai cara untuk menyembuhkan penyakit. Alasan di balik praktik ini masih menjadi spekulasi di kalangan peneliti. Teori umum menyatakan bahwa itu mungkin semacam ritual suku atau bahkan metode untuk melepaskan roh jahat yang diyakini merasuki orang sakit dan orang dengan gangguan mental.

Beberapa ahli berpendapat bahwa itu adalah operasi konvensional yang digunakan untuk mengobati epilepsi, sakit kepala, abses, dan pembekuan darah. Tengkorak yang diretrapan yang ditemukan di Peru mengisyaratkan bahwa itu juga merupakan pengobatan darurat umum untuk membersihkan fragmen tulang yang tertinggal akibat patah tulang tengkorak, dan bukti menunjukkan bahwa banyak pasien selamat dari operasi tersebut.

Merkuri dikenal karena sifat toksiknya, tetapi dulunya digunakan sebagai obat umum. Bangsa Persia dan Yunani kuno menganggapnya sebagai salep yang berguna, dan alkemis Tiongkok abad kedua menghargai merkuri cair, atau "air raksa," dan merkuri sulfida merah karena kemampuannya untuk meningkatkan umur panjang dan vitalitas. Beberapa penyembuh bahkan menjanjikan bahwa dengan mengonsumsi ramuan berbahaya yang mengandung merkuri, belerang, dan arsenik beracun, pasien mereka akan mendapatkan kehidupan abadi dan kemampuan untuk berjalan di atas air.

Salah satu korban paling terkenal dari diet ini adalah Kaisar Tiongkok Qin Shi Huang, yang diduga meninggal setelah menelan pil merkuri yang dirancang untuk membuatnya abadi. Dari zaman Renaisans hingga awal abad ke-20, merkuri juga digunakan sebagai obat populer untuk penyakit menular seksual seperti sifilis. Meskipun beberapa catatan mengklaim bahwa pengobatan logam berat berhasil melawan infeksi, pasien sering meninggal karena kerusakan hati dan ginjal yang disebabkan oleh keracunan merkuri.

Bangsa Mesir kuno memiliki sistem medis yang terorganisasi dengan baik, lengkap dengan dokter yang berspesialisasi dalam menyembuhkan penyakit tertentu. Namun demikian, obat yang mereka resepkan tidak selalu memenuhi standar. Darah kadal, tikus mati, lumpur, dan roti berjamur semuanya digunakan sebagai salep dan pembalut topikal, dan wanita kadang-kadang diberi air liur kuda sebagai obat untuk libido yang terganggu.

Yang paling menjijikkan dari semuanya, dokter Mesir menggunakan kotoran manusia dan hewan sebagai obat mujarab untuk penyakit dan cedera. Menurut Papirus Ebers tahun 1500 SM, kotoran keledai, anjing, gazelle, dan lalat semuanya dirayakan karena khasiat penyembuhannya dan kemampuannya untuk menangkal roh jahat. Meskipun obat menjijikkan ini kadang-kadang menyebabkan tetanus dan infeksi lain, mereka mungkin tidak sepenuhnya tidak efektif—penelitian menunjukkan mikroflora yang ditemukan dalam beberapa jenis kotoran hewan mengandung zat antibiotik.

Menderita sakit kepala terus-menerus, kram otot, atau tukak lambung? Dahulu kala, dokter mungkin meresepkan ramuan yang mengandung daging, darah, atau tulang manusia. Apa yang disebut "obat mayat" adalah praktik yang sangat umum selama ratusan tahun. Bangsa Romawi percaya bahwa darah gladiator yang jatuh dapat menyembuhkan epilepsi, dan apoteker abad ke-12 dikenal karena menyimpan persediaan "bubuk mumi"—ekstrak mengerikan yang terbuat dari mumi yang digiling yang dijarah dari Mesir. Sementara itu, di Inggris abad ke-17, Raja Charles II dikenal menikmati minuman "Tetes Raja," ramuan restoratif yang terbuat dari tengkorak manusia yang hancur dan alkohol.

Obat-obatan kanibalistik ini dianggap memiliki sifat magis. Dengan mengonsumsi sisa-sisa orang yang meninggal, pasien juga menelan sebagian dari roh mereka, yang mengarah pada peningkatan vitalitas dan kesejahteraan. Jenis obat yang diresepkan biasanya sesuai dengan jenis penyakit—tengkorak digunakan untuk migrain, dan lemak manusia untuk sakit otot—tetapi mendapatkan stok segar bisa menjadi proses yang mengerikan. Dalam beberapa kasus, orang sakit bahkan akan menghadiri eksekusi dengan harapan mendapatkan secangkir murah darah orang yang baru saja dibunuh.

Dokter Yunani kuno percaya bahwa rahim wanita adalah makhluk terpisah dengan pikirannya sendiri. Menurut tulisan Plato dan Hippocrates, ketika seorang wanita tidak menikah untuk waktu yang lama, rahimnya—digambarkan sebagai "hewan hidup" yang ingin melahirkan anak—dapat terlepas dan meluncur bebas di sekitar tubuhnya menyebabkan mati lemas, kejang, dan histeria. Diagnosis aneh ini bertahan dalam beberapa bentuk sampai zaman Romawi dan Bizantium—jauh setelah dokter mengetahui bahwa rahim ditahan di tempatnya oleh ligamen.

Untuk mencegah rahim mereka berjalan-jalan, wanita kuno disarankan untuk menikah muda dan melahirkan sebanyak mungkin anak. Untuk rahim yang sudah terlepas, dokter meresepkan mandi terapeutik, infus, dan pijat fisik untuk mencoba memaksanya kembali ke posisinya. Mereka bahkan mungkin "mengasapi" kepala pasien dengan belerang dan ter sementara secara bersamaan menggosokkan losion berbau harum di antara pahanya—logikanya adalah bahwa rahim akan melarikan diri dari bau busuk dan bergerak kembali ke tempat yang seharusnya.

Bagi orang Babilonia kuno, sebagian besar penyakit dianggap sebagai akibat dari kekuatan iblis atau hukuman dari para dewa atas kesalahan masa lalu. Dokter sering memiliki lebih banyak kesamaan dengan pendeta dan pengusir setan daripada dokter modern, dan obat mereka biasanya melibatkan beberapa komponen sihir. Misalnya, jika seorang pasien menggertakkan giginya, penyembuh mungkin mencurigai bahwa hantu anggota keluarga yang meninggal sedang mencoba menghubunginya saat mereka tidur. Menurut teks-teks necromantic kuno, dokter akan merekomendasikan tidur di dekat tengkorak manusia selama seminggu sebagai cara untuk mengusir roh. Untuk memastikan perawatan yang mengganggu ini berhasil, penggertak gigi juga diperintahkan untuk mencium dan menjilat tengkorak itu tujuh kali setiap malam.

Praktik-praktik medis di masa lalu seringkali didasarkan pada pemahaman yang terbatas tentang anatomi, fisiologi, dan mikrobiologi tubuh manusia. Kemajuan dalam ilmu pengetahuan dan teknologi medis telah memungkinkan pengembangan metode pengobatan yang lebih aman dan efektif. Praktik-praktik di atas kini dianggap tidak ilmiah dan berbahaya. Pengobatan modern menekankan pada bukti ilmiah, uji klinis yang ketat, dan keselamatan pasien.

Rekomendasi