Dokter Ungkap Alasan Donor Ginjal Cenderung Lebih Sehat dan Berumur Panjang
Dokter menyatakan bahwa orang yang mendonorkan ginjal cenderung memiliki kesehatan yang lebih baik dan kemungkinan hidup lebih lama.
Orang yang mendonorkan ginjalnya umumnya memiliki kesehatan yang lebih baik dibandingkan dengan mereka yang tidak melakukan donor. Hal ini diungkapkan oleh dokter konsultan urologi onkologi, Profesor Agus Rizal A.H. Hamid, dari Eka Hospital MT Haryono.
"Malah data di luar negeri menunjukkan bahwa orang yang mendonorkan ginjalnya (akhirnya hidup dengan satu ginjal) lebih baik dari orang biasa. Karena apa? Karena dia sadar ginjalnya cuman satu, akhirnya dia mencoba hidup lebih sehat," jelas Agus dalam acara temu media di Eka Hospital MT Haryono, Jakarta, pada Selasa (13/1).
Agus juga menambahkan bahwa mereka yang mendonorkan ginjal cenderung memiliki umur yang lebih panjang.
"Dan data penelitian di luar negeri, orang yang donor ginjal itu lama hidupnya lebih panjang dari yang tidak donor," ucap Agus.
Namun, perlu dicatat bahwa tidak semua orang memiliki dua ginjal. Ada individu yang telah hidup selama 50 tahun dan baru menyadari bahwa mereka hanya memiliki satu ginjal.
"Pertanyaan saya, emang yakin teman-teman punya ginjal dua? Yakin enggak punya dua ginjal? Saya pernah punya pasien umur 50 tahun baru datang ke saya, ginjalnya satu, baru tahu karena enggak diperiksa," terangnya.
Bagian dari ginjal yang terkena tumor dapat diangkat
Dalam kesempatan tersebut, Agus menjelaskan bahwa ginjal yang terpengaruh oleh tumor dapat diangkat sebagian. Tindakan pengangkatan sebagian ginjal ini bertujuan untuk menjaga agar ginjal yang masih berfungsi dengan baik tetap dapat dipertahankan, sehingga tidak perlu mengangkat seluruh ginjal.
Agus menekankan bahwa pengangkatan ginjal secara keseluruhan seharusnya dijadikan pilihan terakhir. Tindakan ini biasanya dilakukan ketika ukuran tumor ginjal telah melebihi setengah dari ukuran ginjal itu sendiri.
“Kalau ukuran tumor sudah melebihi setengah ginjalnya, kita akan sulit untuk mempertahankan ginjalnya. Kurang dari itu (50 persen) sangat tergantung dengan lokasi tumornya,” ungkap Agus seperti dikutip dari Liputan6.com dalam kesempatan tersebut. Dengan adanya teknologi robotik, lanjutnya, proses pengangkatan tumor ginjal menjadi lebih mudah dan akurat. Bahkan, jika tumor tersebut berada di bagian dalam ginjal, bukan di luar, pengangkatan tetap dapat dilakukan dengan bantuan robot. Salah satu teknologi robot terbaru yang telah digunakan Agus adalah robot bedah Da Vinci XI.
“Kita potong (ginjal) dengan robot, kita keluarkan tumornya, itu berhasil,” tambah Agus. Teknologi ini tidak hanya meningkatkan efisiensi dalam prosedur bedah, tetapi juga mengurangi risiko komplikasi dan mempercepat proses pemulihan pasien. Dengan kemajuan ini, diharapkan lebih banyak pasien dapat mendapatkan penanganan yang tepat dan efektif untuk kondisi ginjal mereka.
Lanjutkan pengoperasian oleh dokter
Selain dapat digunakan untuk mengatasi tumor ginjal, robot ini juga efektif dalam menangani berbagai masalah kompleks lainnya, termasuk kanker prostat. Meskipun sering disebut sebagai robot, Da Vinci XI tetap dioperasikan oleh seorang dokter spesialis yang berpengalaman. Alat ini dirancang untuk membantu dokter melakukan operasi di area yang sulit dijangkau, tanpa perlu membuat banyak sayatan yang dapat memperparah kondisi pasien.
Sistem Da Vinci terdiri dari tiga komponen utama. Yang pertama adalah sistem audiovisual, yaitu pusat kontrol kamera yang memungkinkan dokter melihat area operasi dengan jelas. Komponen kedua adalah patient cart, unit yang dilengkapi dengan empat lengan robot yang berada tepat di atas pasien untuk melakukan tindakan medis.
Terakhir, terdapat surgical console, tempat di mana dokter bedah duduk dan mengendalikan pergerakan lengan robot dengan ergonomis. Melalui konsol ini, dokter juga dapat melihat kondisi dalam tubuh pasien secara tiga dimensi (3D), sehingga dapat menggerakkan alat dengan sangat efektif tanpa mengalami tremor.
Perbedaan utama antara laparoskopi konvensional
Perbedaan utama antara laparoskopi konvensional dan operasi robotik terletak pada kestabilan serta kemampuan manuver tangan selama prosedur. Dalam laparoskopi konvensional, dokter memegang langsung alat bedah, sedangkan dalam operasi robotik, alat tersebut dikendalikan oleh lengan robot. Lengan robot Da Vinci XI yang stabil, dengan kemampuan ujung alat yang dapat berputar dan meliuk seperti tangan manusia, memungkinkan sayatan yang lebih presisi tanpa kesalahan akibat tremor atau kelelahan tangan.
Selain itu, kelebihan lain dari Da Vinci XI adalah dilengkapi dengan empat tangan robot, sehingga seorang dokter spesialis dapat melakukan tindakan yang biasanya memerlukan dua orang. Prosedur ini yang sangat presisi dan memiliki sayatan minimal memungkinkan pasien untuk pulih jauh lebih cepat dibandingkan dengan operasi konvensional.
"Berdasarkan pengalaman kami, rendahnya angka komplikasi pascaoperasi membuat banyak pasien-pasien kami bisa keluar dari rumah sakit lebih cepat," ujar salah satu dokter spesialis.