HNW Ajak Mahasiswa Berkontribusi Politik, Hindari Apatisme Demi Demokrasi Sehat
Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid (HNW) mendorong mahasiswa untuk aktif berkontribusi politik, memanfaatkan ruang aspirasi, dan tidak terjebak apatisme demi demokrasi yang lebih baik.
Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid (HNW) mengajak para mahasiswa untuk berpartisipasi aktif dalam membangun politik dan demokrasi yang lebih sehat. Ia menekankan pentingnya peran mahasiswa agar tidak terjebak dalam sikap apatis terhadap dinamika kebangsaan. HNW menegaskan bahwa ruang partisipasi publik di DPR selalu terbuka lebar bagi penyampaian aspirasi masyarakat.
Ajakan ini disampaikan HNW saat menerima kunjungan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Perguruan Tinggi Muhammadiyah-'Aisyiyah (PTMA) Zona III di Gedung Nusantara III, Kompleks Parlemen, Jakarta. Pertemuan tersebut membahas berbagai isu politik terkini serta menjadi ajang undangan bagi HNW untuk menghadiri Rapat Koordinasi Wilayah (Rakorwil) BEM PTMA Zona III yang akan datang.
HNW berharap mahasiswa tetap memegang teguh idealisme, membersamai perjuangan politik yang berpihak pada kemaslahatan rakyat. Mahasiswa diharapkan menjadi kekuatan moral, pencerah opini publik, serta penguat politik nilai yang berdaulat, berkeadilan, dan berkeadaban demi kemajuan bangsa.
Peran Mahasiswa dalam Memperkuat Demokrasi
HNW menekankan bahwa mahasiswa memiliki peran krusial dalam memperkuat fondasi demokrasi di Indonesia. Ia menggarisbawahi bahwa DPR memiliki Badan Aspirasi Masyarakat yang siap menerima dan menindaklanjuti berbagai gagasan dari publik. Mahasiswa dapat memanfaatkan fasilitas ini untuk menyuarakan pandangan mereka, termasuk terkait revisi undang-undang pemilu dan pilkada.
Dalam pertemuan tersebut, HNW menyambut hangat delapan perwakilan mahasiswa, termasuk Presidium Nasional BEM PTMA Zona III, Wildan Mutaqin. Kehadiran mereka menunjukkan antusiasme mahasiswa untuk terlibat dalam diskusi politik. HNW menegaskan bahwa politik seharusnya menjadi alat untuk memperjuangkan kepentingan rakyat, bukan sekadar instrumen elektoral semata.
HNW juga mengingatkan bahwa meskipun politik dan demokrasi seringkali penuh paradoks, nilai-nilai kebenaran harus tetap diperjuangkan. Prinsip membela rakyat harus tetap menjadi prioritas utama, terlepas dari hasil elektoral. Ini menunjukkan komitmen terhadap politik yang berpihak pada keadilan dan kemaslahatan umum.
Tantangan dan Solusi untuk Demokrasi Indonesia
Demokrasi di Indonesia masih menghadapi sejumlah tantangan serius yang perlu diatasi bersama. HNW menyoroti tingginya biaya politik, praktik politik uang, serta lemahnya penegakan netralitas aparat sebagai masalah fundamental. Selain itu, rendahnya literasi politik di kalangan masyarakat juga menjadi persoalan yang tidak bisa diabaikan.
Namun, HNW menegaskan bahwa menyalahkan rakyat secara keseluruhan bukanlah solusi yang adil. Pembenahan harus dimulai dari hulu, yaitu sistem kepartaian dan rekrutmen politik yang lebih transparan dan berintegritas. Penegakan hukum yang kuat dan komitmen elite politik juga menjadi kunci utama dalam memperbaiki kualitas demokrasi.
HNW sangat percaya bahwa mahasiswa tidak boleh terjebak dalam apatisme, melainkan harus menjadi sumber optimisme dan pencerahan. Ia menganalogikan peran mahasiswa seperti obor kecil yang mampu menerangi kegelapan jika dinyalakan bersama. Alternatif dari demokrasi, menurut HNW, bukanlah sesuatu yang lebih baik, karena dapat menjerumuskan pada otoritarianisme atau tirani.
Apresiasi Mahasiswa terhadap Keterbukaan Pejabat
Para mahasiswa yang hadir dalam pertemuan tersebut memberikan apresiasi tinggi terhadap HNW sebagai politisi nasional yang sangat terbuka. Mereka menilai HNW mudah ditemui dan bersedia berdialog dengan berbagai kalangan, termasuk mahasiswa, organisasi kepemudaan, dan aliansi masyarakat sipil. Keterbukaan ini menjadi catatan penting dan diapresiasi oleh BEM PTMA Zona III.
Presidium Nasional BEM PTMA Zona III, Wildan Mutaqin, secara khusus menyoroti bahwa tidak semua pejabat publik memiliki tingkat keterbukaan yang sama. Hal ini menjadikan HNW sebagai contoh positif bagi pejabat lainnya. Mahasiswa merasa bahwa HNW adalah sosok yang benar-benar mendengarkan aspirasi dan pandangan mereka.
Selain menyampaikan apresiasi, para mahasiswa juga turut memberikan pandangan kritis mereka terkait isu-isu politik. Mereka menyoroti tingginya biaya politik, lemahnya kaderisasi partai, serta fenomena perpindahan kader antarpartai yang cenderung cair dan pragmatis. Pandangan ini menunjukkan bahwa mahasiswa memiliki kepedulian mendalam terhadap kondisi politik nasional.
Sumber: AntaraNews