Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid baru-baru ini menyoroti peran krusial partai politik dalam mencetak pemimpin bangsa. Ia menegaskan bahwa parpol harus mampu menghadirkan sosok negarawan, bukan hanya sekadar politisi. Pernyataan ini disampaikan dalam keterangan yang dikonfirmasi di Jakarta, Minggu (26/10).
Hidayat Nur Wahid memandang bahwa keberadaan pemimpin berjiwa negarawan sangat esensial. Hal ini diperlukan untuk menyongsong visi besar Indonesia Emas 2045 di masa mendatang. Selain itu, pemimpin negarawan juga akan memastikan cita-cita proklamasi dan reformasi dapat terwujud sepenuhnya.
Menurutnya, partai politik memiliki potensi besar sebagai gerbang utama. Mereka dapat melahirkan kembali figur-figur kepemimpinan yang memiliki semangat kenegarawanan. Ini adalah kunci untuk mencapai kemajuan bangsa yang berkelanjutan.
Advertisement
Advertisement
Partai politik memegang peranan fundamental dalam sistem demokrasi suatu negara. Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid menekankan bahwa parpol seharusnya menjadi pintu besar yang melahirkan kembali pemimpin berjiwa negarawan. Ini adalah langkah krusial untuk mencapai tujuan besar Indonesia Emas 2045.
Menurut Hidayat, konstitusi telah memberikan legalitas yang kuat bagi partai politik. Legalitas ini memungkinkan mereka untuk menghadirkan kepemimpinan yang memiliki visi kenegarawanan. Namun, seringkali partai politik melupakan sejarah keberhasilan ini dan potensi yang mereka miliki.
Kritik ini muncul karena adanya kecenderungan parpol untuk lebih fokus pada aspek politik praktis. Padahal, peran mereka jauh lebih besar dari sekadar memenangkan pemilu. Mereka memiliki tanggung jawab moral dan konstitusional untuk mencetak pemimpin yang memikirkan kepentingan bangsa di atas segalanya.
Advertisement
Advertisement
Hidayat Nur Wahid mengingatkan bahwa sejarah bangsa Indonesia telah membuktikan hal tersebut. Partai-partai politik terdahulu, kata dia, mampu melahirkan politisi yang sekaligus berjiwa negarawan. Figur-figur ini menjadi teladan dalam memimpin dan membangun negara.
Ia menyebutkan beberapa nama besar sebagai contoh nyata. Di antaranya adalah HOS Tjokroaminoto, Kasman Singodimedjo, dan Syafruddin Prawiranegara. Ada pula Mohammad Natsir, serta dwi-tunggal proklamator, Soekarno dan Mohammad Hatta, yang dikenal sebagai politisi sekaligus negarawan sejati.
Para tokoh ini menunjukkan bahwa keterlibatan dalam partai politik tidak menghalangi seseorang untuk memiliki jiwa kenegarawanan. Mereka mampu menempatkan kepentingan bangsa di atas kepentingan pribadi atau golongan. Ini adalah warisan berharga yang harus terus dijaga dan dikembangkan oleh generasi penerus.
Advertisement
Advertisement
Hidayat Nur Wahid juga menyinggung dan mengkritik pandangan yang menciptakan dikotomi antara negarawan dan politisi. Pandangan ini sebelumnya disampaikan oleh mantan Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Yudi Latif. Dikotomi tersebut seolah-olah memisahkan kedua peran penting ini.
“Seolah-olah politisi atau politikus bukan negarawan dan sebaliknya,” ujar Hidayat. Ia menambahkan bahwa pandangan ini dapat dimaknai bahwa partai politik hanya menghasilkan politisi, bukan negarawan. Persepsi ini dinilai kurang tepat dan berpotensi menyesatkan.
Ia menegaskan bahwa politisi yang sekaligus negarawan adalah hal yang sangat mungkin terjadi pada saat ini. Oleh karena itu, masyarakat dan terutama partai politik tidak perlu terjebak pada dikotomi tersebut. Tidak ada keharusan bagi seorang tokoh untuk keluar dari partai politik agar bisa disebut sebagai negarawan.
Advertisement
Justru, partai politik harus menjadi wadah yang subur bagi pengembangan karakter kenegarawanan. Dengan demikian, mereka dapat terus berkontribusi dalam melahirkan pemimpin yang berkualitas. Pemimpin yang mampu membawa Indonesia menuju masa depan yang lebih baik dan bermartabat.
Sumber: AntaraNews