Rektor IMDE Dukung Mahasiswa Terlibat Politik Lewat Dialog dan Seni Budaya
Imah Mahdiah mengungkapkan pentingnya keterlibatan anak muda dalam politik sejak dini.
Rektor Institut Media Digital Entek (IMDE), Totok Amin Soefijanto, Ed.D menegaskan, kampus harus menjadi benteng demokrasi. Hal ini penting karena kampus merupakan tempat berkembangnya pemikiran kritis dan interaksi antar generasi muda serta cendekiawan.
“Sebagai tempat berkumpul dan interaksi para cendekiawan dan generasi muda, maka kampus dapat menjadi suara yang obyektif terhadap kebijakan publik,” ujar Totok saat menanggapi “Diskusi Asik: Saatnya Anak Muda Berpolitik” di kampus IMDE, Rabu (7/5).
Diskusi tersebut digelar sebagai bagian dari penutupan seremoni Dies Natalis ke-27 IMDE dan dihadiri dosen serta mahasiswa. Acara menghadirkan pembicara tunggal, Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta dari PDI Perjuangan, Imah Mahdiah, dengan moderator dosen IMDE, Dio Irsandi. Sebelum diskusi dimulai, UKM Musik IMDE membuka acara dengan dua lagu.
Totok menekankan pentingnya ruang diskusi antara warga kampus dan politisi untuk membangun tradisi dialog serta mekanisme kontrol sosial terhadap kebijakan publik.
“IMDE akan mendorong lebih banyak interaksi seperti ini karena kreativitas dalam seni budaya berkontribusi pada penguatan demokrasi kita,” tegasnya.
Anak Muda Harus Mulai Bangun Basis Politik
Dalam paparannya, Imah Mahdiah mengungkapkan pentingnya keterlibatan anak muda dalam politik sejak dini. Ia mencontohkan dirinya yang mulai aktif berpolitik saat masih mahasiswa.
“Keterlibatan dalam politik dapat dimulai dari lingkungan terdekat, seperti menjadi pengurus RT atau RW,” ujar Imah.
Ia juga menyarankan agar anak muda menjadi relawan dalam berbagai kegiatan sosial untuk membangun empati dan jejaring dengan masyarakat.
“Namun yang terpenting, niat awal yang harus ditancapkan adalah berbuat baik bagi orang lain, dan melakukan banyak hal sesuai panggilan hati nurani,” tambahnya.
Politik Bukan Jalan Jadi Kaya
Imah menyampaikan, motivasi utama terjun ke politik haruslah untuk membantu orang lain, bukan mengejar kekayaan.
“Jika seseorang ingin menjadi kaya, sebaiknya memilih jalur pengusaha daripada politisi,” tegasnya.
Sebagai politisi muda, Imah menceritakan, kariernya dimulai saat magang bersama Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Dukungan Ahok memberikan dampak besar terhadap elektabilitasnya, terutama di Jakarta Barat.
“Walau hanya sekali datang di kampanye saya, tapi banyak orang tahu kalau saya staf dan pendukung Ahok,” ujarnya.
Menjawab pertanyaan dalam diskusi, Imah menjelaskan peran anggota dewan: mulai dari pengawasan anggaran, pembuatan peraturan daerah (Perda), hingga kontrol terhadap kebijakan pemerintah.
“Sejak terpilih menjadi anggota DPRD DKI, saya rajin turun ke bawah, membangun basis, menyapa warga, serta menggunakan nomor HP pribadi untuk menerima aspirasi masyarakat,” katanya.
Imah juga dikenal sebagai Ketua Tim Transisi yang pernah menjabat gubernur sementara selama 2,5 bulan, dengan fokus utama pada sektor pendidikan.
Peluncuran Dua Buku Dosen IMDE
Dalam kesempatan tersebut juga dilakukan soft launching dua buku karya dosen IMDE:
“AI dan Revolusi Media Digital” — kolaborasi 15 dosen IMDE yang membahas keterkaitan AI dan media digital, disusun oleh Suradi dengan pengantar dari Ketua Yayasan Indosiar, Suryani Zaini, dan Rektor IMDE.
“Pencitraan Politik PDIP” — ditulis oleh Safrudiningsih, mengulas hubungan citra Megawati dan PDI Perjuangan pada 2004–2012, dengan pengantar dari Rektor Totok Amin Soefijanto.
Totok menegaskan pentingnya budaya menulis di kalangan akademisi IMDE, baik dalam konteks akademik maupun wacana publik.