DPRD Jabar Apresiasi Program Reboisasi Berinsentif Warga: Ubah Pola Seremonial Jadi Berkelanjutan
Wakil Ketua DPRD Jabar menyambut baik program Reboisasi Berinsentif Warga dari Gubernur, dinilai mampu mengubah pola reboisasi seremonial menjadi lebih efektif dan berkelanjutan.
Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Jawa Barat, MQ Iswara, mengapresiasi gagasan Gubernur Dedi Mulyadi terkait program reboisasi lahan kritis. Program ini melibatkan masyarakat dengan skema insentif di wilayah Jawa Barat. Inisiatif ini diharapkan mampu mengubah paradigma reboisasi yang selama ini bersifat seremonial.
Iswara menilai bahwa pelibatan warga dengan insentif adalah kunci vital untuk memastikan keberlanjutan program penanaman pohon. Skema ini bertujuan mengatasi kegagalan program rehabilitasi lahan kritis sebelumnya. Fokus utama adalah pada pemeliharaan pasca-penanaman yang sering terabaikan.
Apresiasi ini disampaikan Iswara di Bandung pada Jumat, 6 Desember. Program ini dianggap solusi efektif untuk menekan risiko bencana hidrometeorologi. Pelibatan masyarakat diharapkan tidak hanya memulihkan ekologi, tetapi juga membangun rasa memiliki terhadap lingkungan.
Mengatasi Tantangan Pemeliharaan Pasca-Penanaman
Iswara menjelaskan bahwa program reboisasi sebelumnya, seperti Gerakan Rehabilitasi Lahan Kritis (GRLK), seringkali hanya bersifat seremonial. Pohon-pohon yang ditanam kerap ditinggalkan tanpa perawatan memadai setelah penanaman awal. Hal ini menyebabkan tingkat keberhasilan program menjadi sangat rendah.
Diferensiasi utama program Gubernur Dedi Mulyadi terletak pada penekanan fase pasca-penanaman yang krusial. Menanam pohon dianggap pekerjaan yang relatif mudah, namun tantangan sesungguhnya adalah memastikan tanaman tersebut bertahan hidup. Masa kritis tanaman keras bisa berlangsung beberapa bulan hingga satu tahun.
Tanpa pengawasan intensif selama periode kritis ini, potensi kegagalan reboisasi sangat tinggi. Oleh karena itu, pelibatan masyarakat sekitar menjadi vital. Mereka yang setiap hari melihat perkembangan tanaman dapat segera mengetahui dan mengatasi kendala di lapangan.
Peran Insentif dan Urgensi Mitigasi Bencana
Program Gubernur Dedi Mulyadi secara spesifik melibatkan masyarakat sekitar dan memberikan insentif ekonomi untuk merawat pohon. Insentif ini menjadi stimulus penting yang mendorong partisipasi aktif warga dalam pemeliharaan. Ini juga membangun rasa kepemilikan warga terhadap lingkungan mereka.
DPRD Jabar menyoroti urgensi optimalisasi lahan-lahan kritis di Jawa Barat untuk menekan risiko bencana. Penanaman pohon keras di area tangkapan air (water catchment area) diharapkan mampu menyerap air secara maksimal. Hal ini penting untuk menghambat laju limpasan air permukaan (run off).
Limpasan air permukaan merupakan pemicu utama banjir dan tanah longsor yang sering terjadi di kawasan hilir. Dengan demikian, program reboisasi ini memiliki dampak ganda. Selain pemulihan ekologi, juga berfungsi sebagai upaya mitigasi bencana yang efektif.
Implementasi Teknis dan Dampak Jangka Panjang
Iswara menekankan bahwa kebijakan strategis dari Gubernur Dedi Mulyadi harus segera diterjemahkan secara teknis dan fungsional oleh dinas terkait. Tidak perlu menunggu instruksi berulang, dinas teknis diharapkan secara otomatis melakukan tindak lanjut. Ini termasuk pengawasan dan pemeliharaan untuk memastikan program berjalan lancar.
Langkah pelibatan masyarakat dengan stimulus ekonomi ini diharapkan tidak hanya berdampak pada pemulihan ekologi Jawa Barat. Lebih dari itu, program ini juga bertujuan membangun rasa memiliki warga terhadap lingkungan di sekitarnya. Ini menciptakan keberlanjutan program secara mandiri.
Dengan demikian, program reboisasi ini bukan hanya sekadar penanaman pohon. Ini adalah investasi jangka panjang untuk keberlanjutan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat Jawa Barat. Ini juga menjadi model bagi program rehabilitasi lahan kritis di daerah lain.
Sumber: AntaraNews