Sosok Perempuan Hebat Korban Tabrakan Kereta di Bekasi Timur, Guru Bergelar Magister hingga Lulusan Cum Laude
Tabrakan antara KRL dan KA Argo Bromo Anggrek terjadi di dekat Stasiun Bekasi Timur, Senin (27/4). 15 Orang seluruhnya perempuan dinyatakan meninggal dunia
Malam mencekam di Stasiun Bekasi Timur. Orang-orang panik. Pekikan minta tolong bersahutan. Sakit dan bingung menggelayut.
Satu per satu penumpang berusaha keras menyelamatkan diri. Sementara lainnya ada yang pasrah menahan sakit akibat terjepit.
Itulah malam dimana KRL ditabrak KA Argo Bromo Anggrek yang tengah melaju kencang, Senin (27/4) sekira pukul 21.00 di sekitar Stasiun Bekasi Timur.
KRL yang tengah diam menunggu sinyal hijau untuk berangkat diseruduk KA Argo Bromo Anggrek. Satu gerbong paling belakang yang merupakan khusus perempuan ringsek ditembus lokomotif. Korban jiwa berjatuhan.
Hingga tanggal 29 April 2026, total 16 orang dinyatakan meninggal dunia akibat insiden tragis ini, semuanya adalah perempuan. Hal ini disebabkan karena KRL yang ditabrak hanya mengangkut penumpang di gerbong khusus perempuan.
Vice President (VP) Corporate Secretary KAI Commuter Karina Amanda, menyampaikan bahwa korban terbaru yang meninggal adalah Mia Citra, seorang wanita berusia 25 tahun yang sempat dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Bekasi.
"Kami turut berduka dan berbelasungkawa bahwa penumpang atas nama Mia Citra meninggal dunia di RSUD Bekasi," ungkap Karina pada Rabu (29/4).
Selain Mia, terdapat juga nama-nama lain yang menjadi korban, di antaranya adalah Tuti Aditasari (31), Harum Anjasari (27), dan Nur Alimantun Citra Lestari (19), serta banyak lagi. Keluarga dan rekan-rekan dari para korban merasakan duka yang mendalam, mengenang kisah-kisah indah dari mereka yang telah pergi.
Salah satu korban, Nurlaela, adalah seorang guru di SDN Pejagan 11 Pulogebang, Jakarta Timur. Ia telah menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sejak tahun 2019 dan menjalankan tugasnya di SDN Pulogebang 11.
Selain sebagai pengajar kelas 2, Nurlaela juga berperan sebagai bendahara dan pengelola perpustakaan sekolah. Setiap hari, ia menggunakan moda transportasi KRL untuk pergi dan pulang dari tempat kerja. Nurlaela dikenal sebagai sosok yang pekerja keras dan pendiam, serta baru saja menyelesaikan pendidikan magister di Universitas Negeri Jakarta tiga bulan yang lalu.
Di sisi lain, ketika jenazah Nur Ainia Eka Rahmadhyna tiba di rumah, suasana haru langsung menyelimuti keluarga. Pintu ambulans yang terbuka membuat tangisan pecah tanpa aba-aba, dan halaman rumah yang dipenuhi kerabat dan tetangga seketika larut dalam kesedihan.
Di tengah kerumunan tersebut, adik Nur Ainia, seorang karyawan Kompas TV, menjadi pusat perhatian karena tampak sangat terpukul. Tangisnya yang pecah menjadi jeritan memohon agar peti jenazah itu dibuka. Kisah haru dari para perempuan hebat yang menjadi korban kecelakaan kereta di Bekasi ini patut untuk dikenang.
Nurlaela Guru Bergelar Magister Penuh Dedikasi
Nurlaela atau akrab disapa Bu Ela seorang guru di SDN Pejagan 11 Pulogebang, Jakarta Timur, merupakan salah satu korban yang meninggal dunia dalam insiden kecelakaan yang melibatkan KRL Commuter Line dan KA Argo Bromo Anggrek di Stasiun Bekasi Timur (27/4) malam.
Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta, Nahdiana, menjelaskan bahwa almarhumah telah menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sejak tahun 2019 dan bertugas di SDN Pulogebang 11. Selain mengajar di kelas 2, Nurlaela juga memiliki tanggung jawab tambahan sebagai bendahara dan pengelola perpustakaan sekolah.
"Jadi almarhumah ini 2019 menjadi PNS Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang tugasnya di SDN Pulogebang 11. Dedikasi almarhumah menurut kesaksian kepala sekolah, teman-temannya, beliau sangat bertanggung jawab. Jadi kita doakan Insya Allah almarhumah husnul khotimah," ungkap Nahdiana saat pemakaman almarhumah di Cikarang pada 28 April 2026.
Sehari-hari, Nurlaela (37) menggunakan KRL sebagai moda transportasi untuk pergi dan pulang dari tempat kerja. Ia dikenal sebagai sosok yang pekerja keras dan pendiam.
Tiga bulan sebelum kejadian, Nurlaela baru saja menyelesaikan pendidikan magister di Universitas Negeri Jakarta. "Dia pekerja yang ulet, enggak banyak bicara, benar-benar kerja orangnya. Dia baru lulus S2 tiga bulan lalu di UNJ," kata Mulyadi, paman korban.
Nurlaela meninggalkan seorang anak yang saat ini duduk di bangku kelas enam sekolah dasar. Almarhumah dimakamkan di kompleks pemakaman keluarga yang tidak jauh dari rumah duka. Saat kejadian, Nurlaela dalam perjalanan pulang setelah mengajar di SD Pejagan 11 Pulogebang, Jakarta Timur.
Ponsel Nurlaela terus berusaha dihubungi, namun tidak ada jawaban. Beberapa saat kemudian, nomor Nurlaela menghubungi kembali, tetapi suara yang terdengar bukanlah suara almarhumah.
Melainkan, seseorang yang memberitahukan bahwa ponsel ibu satu anak tersebut ditemukan di sekitar lokasi kecelakaan, sementara keberadaan Nurlaela belum diketahui. "Kami sudah khawatir karena belum pulang, ditelepon tidak angkat. Pas diangkat orang lain dari pihak berwenang bilang handphone ditemukan, tapi korban belum diketahui ada di mana," ungkap Mulyadi saat ditemui di rumah duka.
Keluarga yang syok segera menuju lokasi kejadian. Setelah satu jam pencarian, Nurlaela akhirnya ditemukan, tetapi sudah tidak bernyawa. Jenazahnya kemudian dibawa ke rumah duka di Kampung Ceger, RT 02/RW 02, Desa Tanjungbaru, Kecamatan Cikarang Timur, Kabupaten Bekasi, dan tiba sekitar pukul 03.00 WIB.
"Jam satu kami baru ketemu, terus koordinasi dan jemput. Sampai rumah jam tiga pagi," kata Mulyadi.
Menurut Mulyadi, kondisi jenazah almarhumah masih utuh meskipun mengalami patah kaki dan diduga luka dalam.
Nur Ainia Sosok Periang Pecinta Kucing
Malam di Griya Asri 2, Tambun, Bekasi, baru saja memasuki kegelapan ketika suara sirene memecah keheningan. Pada pukul 19.33 WIB, sebuah ambulans dari RS Polri perlahan-lahan berhenti di depan rumah duka. Di dalam ambulans tersebut, terbaring jenazah Nur Ainia Eka Rahmadhyna, korban kecelakaan kereta api di Stasiun Bekasi Timur, yang malam itu akhirnya kembali ke rumah.
Pantauan di lokasi Selasa (28/4) menunjukkan bahwa kedatangan jenazah tidak hanya membawa kesedihan, tetapi juga memicu emosi yang terpendam dalam keluarga. Begitu pintu ambulans dibuka, tangisan pun pecah tanpa peringatan. Halaman rumah yang dipenuhi oleh kerabat dan tetangga seketika larut dalam kesedihan yang mendalam.
Beberapa orang menunduk dalam diam, sementara yang lain tidak dapat menahan air mata mereka. Petugas dengan hati-hati menurunkan peti jenazah karyawan Kompas TV tersebut. Di atas peti, hanya ada nama almarhumah yang menjadi satu-satunya pengenal bagi keluarganya.
Wajah Nur Ainia tidak dapat lagi dilihat untuk terakhir kalinya, menyisakan ruang kosong yang tak tergantikan dalam ingatan orang-orang terdekat. Di tengah kerumunan, sosok adiknya menarik perhatian. Ia terlihat paling terpukul, tangisnya berubah menjadi jeritan, memohon agar peti itu dibuka. Dengan tangan bergetar, ia mengetuk peti jenazah, seolah berharap keajaiban kecil bisa terjadi, sekadar untuk melihat wajah kakaknya sekali lagi. Namun, kenyataan tetap tak berubah; kepergian itu adalah akhir yang tidak dapat diubah.
Ayah, ibu, dan nenek almarhumah berusaha menenangkan sang adik yang terus meronta dalam duka. Mereka memeluknya erat sebagai bentuk dukungan di tengah kehilangan yang begitu mendalam, meskipun kesedihan malam itu terasa terlalu besar untuk diobati dengan kata-kata.
Di tengah kesedihan tersebut, Hary Marwata, sang ayah, mencoba menggambarkan sosok putrinya dengan suara yang tertahan. Hary mengungkapkan bahwa komunikasi terakhirnya dengan Ain terjadi pada Senin sore, ketika ia mengirim pesan kepada putrinya untuk dijemput, seperti kebiasaan mereka. "Biasanya memang minta dijemput sekitar setengah sembilan malam. Itu sudah rutin," ucap Hary.
Namun, malam itu, Ain, sapaan akrabnya belum juga pulang. Keluarganya bahkan sempat kesulitan melacak keberadaannya karena ponselnya tertinggal di lokasi kecelakaan. Selama bekerja, Ain dikenal menggunakan KRL sebagai moda transportasi utama dan lebih memilih berada di gerbong khusus perempuan.
"Dia memang selalu di gerbong wanita. Sudah kebiasaannya begitu," tuturnya. Di mata orang tua, Ain adalah anak yang sederhana dan penurut. Sehari-hari, ia lebih sering menghabiskan waktu di rumah setelah pulang kerja dan jarang bepergian. "Anaknya nurut, enggak banyak tingkah. Pulang kerja ya di rumah. Jarang keluar," kenang ayahnya.
Beberapa hari sebelum kejadian, Ain bahkan sempat menghabiskan waktu bersama ibunya untuk berbelanja, dan turut membantu perekonomian keluarga. Meskipun sang ayah masih bekerja, kontribusi Ain dianggap cukup berarti. "Iya, dia ikut bantu," ucap Hary singkat.
Momen terakhir yang diingat sang ayah terjadi pada Senin pagi, sebelum Ain berangkat kerja. Seperti biasa, ia menyiapkan bekal makanannya sendiri. "Enggak ada firasat apa-apa. Pamit biasa saja," tutup Hary.
Harum Anjarsari yang Selalu Ingin Pulang
Pekan ini, Harum Anjarsari (30) bersama suaminya Radit (36) dan anak mereka seharusnya menikmati liburan bersama. Namun, insiden kecelakaan kereta KRL yang terhantam KA Argo Bromo di Stasiun Bekasi Timur pada Senin, 27 April 2026, menghancurkan harapan indah keluarga kecil ini. Kecelakaan tragis tersebut merenggut nyawa Harum Anjarsari.
Pada malam itu, Radit menunggu di rumah mereka yang terletak di kawasan Tambun, Bekasi, ditemani oleh anak bungsunya yang baru berusia tiga tahun. Layar ponselnya terus menyala, menantikan kabar dari sang istri yang malam itu menjadi penumpang KRL Cikarang Line. Beberapa saat sebelum tragedi terjadi, pesan terakhir dari dalam gerbong KRL tiba.
Dia menginformasikan bahwa ada KRL yang menabrak sebuah mobil di Bekasi Timur. "Sayang, ini keretanya nabrak mobil," ungkap Radit mengulang pesan istrinya pada Rabu (29/4).
Radit, yang sudah terbiasa menggunakan kereta, menyadari bahwa situasi seperti itu bisa berlangsung lama. Dia pun menyarankan istrinya untuk turun dan berbagi lokasi, bersiap untuk menjemput pujaan hatinya. Namun, Harum memilih untuk menunggu. Setelah empat puluh menit tanpa kabar, Radit memutuskan untuk berangkat dari Tambun menuju Bekasi Timur, membawa anaknya yang masih kecil.
Di lokasi, suasana sudah sangat kacau, dengan orang-orang berkerumun dan informasi yang simpang siur, sehingga tidak ada kepastian yang jelas. Akhirnya, dia memutuskan untuk pulang sejenak untuk mengantarkan anaknya. Malam itu belum berakhir. Bersama dua temannya, Radit mulai mencari di beberapa rumah sakit.
Sayangnya, tidak ada nama istrinya yang terdaftar. Menjelang setengah lima sore, teleponnya berbunyi lagi, kali ini bukan untuk mencari, melainkan untuk memastikan. Radit tidak lagi bertanya banyak; dia pasrah menerima kenyataan. "Kalau memang sudah takdirnya," ujarnya.
Kenangan akan sosok istrinya kembali terbayang di benaknya. Perempuan yang dinikahinya pada tahun 2021. Dalam lima tahun pernikahan, kehidupan mereka diisi dengan perjalanan pulang-pergi kerja, kadang bersama, kadang terpisah jalur.
"Hidupnya baik, makanya saya nikahin," ungkap Radit. Harum bekerja sebagai leader di sebuah perusahaan skincare, bertanggung jawab atas dua merek. Ia terbiasa berpindah moda transportasi seperti LRT, kereta, atau sesekali menggunakan satu kendaraan bersama Radit jika arah kerja mereka sejalan. Di rumah, dua anak laki-laki menunggu, di mana yang sulung berusia tujuh tahun tinggal bersama keluarga. Mengenai kecelakaan itu, Radit tidak bisa menampik perasaan yang muncul, seperti marah dan kecewa.
"Tapi kalau kita menyalahkan kejadian ya buat saya nggak dewasa sebagai manusia, karena emang apapun sudah digarisin sama Tuhan. Saya nikah sama dia sudah digarisin tanggalnya berapa, punya anak juga tanggal berapa itu pasti sudah ditulis. Dan itu meninggal pun pasti sudah ditulis," tuturnya.
Menariknya, seminggu sebelum kecelakaan KRL dengan KA Argo Bromo di Stasiun Bekasi Timur, Harum Anjarsari (30) berulang kali mengungkapkan keinginannya untuk pulang. "Aku mau pulang ke rumah mama," begitu yang diingat Sri Lestari (58), ibu Harum, saat ditemui Liputan6.com.
Ucapan itu bukan sekali, melainkan berkali-kali, seakan ada sesuatu yang belum selesai. Sri Lestari tidak merasakan firasat apa pun dan menganggapnya hanya keluhan biasa dari putrinya yang kelelahan bekerja dan ingin kembali ke rumah. Ia juga tidak merasa ada yang aneh dengan kalimat yang diulang-ulang itu.
Namun, dari cerita teman-temannya, kalimat tersebut muncul dengan nada yang berbeda. "Aku mau pulang, sudah capek," tuturnya kembali mengingat ucapan Harum. Sri tidak pernah benar-benar mengerti apa yang dimaksud anaknya dengan 'capek' tersebut. Ia baru mendengar potongan kalimat itu dari orang lain setelah semua kejadian tragis itu terjadi. "Iya, sebelum meninggal dia minta pulang," kata Sri.
Kejadian yang menimpa Harum benar-benar menyayat hati. Namun, Sri seolah menemukan makna dari kata 'pulang' yang sebenarnya, yang sering diulang Harum di akhir hidupnya. Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan, "Ya itu... akhirnya pulang." Bagi Sri Lestari, hubungan mereka bukan sekadar ibu dan anak; mereka seperti teman yang tumbuh bersama, berbagi cerita tanpa sekat. "Dekat, bestie banget, kayak teman," ungkap Sri.
Rutinitas kecil menjaga hubungan itu tetap hidup. Di siang hari, mereka masih sempat bertukar kabar. Saat libur panjang, Harum hampir selalu pulang, menginap beberapa hari di rumah dan membawa anaknya yang masih kecil. Video call juga menjadi penghubung ketika rasa rindu tiba-tiba datang. Namun kini, kebiasaan itu terhenti di satu titik. "Sudah enggak bisa lagi nginep di rumah aku," kata Sri.
Jejak Terakhir Nur Alimatun di Stasiun Jatinegara
Kabar duka menyelimuti Universitas Trisakti setelah Nur Alimatun Citra Lestari, seorang mahasiswi berusia 19 tahun dari program studi Manajemen Asuransi, ditemukan meninggal dunia.
Sebelumnya, ia dinyatakan hilang kontak setelah pulang dari kampus bersama teman-temannya di Stasiun Jatinegara. Kejadian ini membuat para sahabatnya, termasuk Riza yang merupakan orang terakhir bertemu dengan almarhumah, merasa sangat kehilangan. Riza menceritakan perpisahan mereka yang tidak biasa di stasiun tersebut.
"Jadi, bareng-bareng pulangnya. Kebetulan tujuan di keretanya sama. Cuma beda rute saja. Cuman memang pada saat itu, keretanya almarhumah itu beda sama jalur saya," ungkap Riza kepada wartawan di RS Polri, Jakarta, pada Selasa malam (28/4).
Riza menjelaskan bahwa biasanya mereka menunggu di peron yang berdekatan, namun pada malam kejadian, mereka terpisah di dalam area stasiun. "Jadi, biasanya kita peron 1 sama 2. Ini pisah di peron 2, saya peron 2 dan dia (Nur Alimantun Citra Lestari) di peron 6. Jadi, memang kita pisahnya di bagian atas itu Jatinegara," kenangnya.
Setelah mendapatkan jadwal kereta lebih awal, Riza berusaha memastikan posisi sahabatnya, namun komunikasi di antara mereka terputus karena perbedaan jalur peron yang cukup jauh. "Saya kan dapet kereta duluan. Terus sempat ngecek buat kita sendiri ada di mana. Kebetulan, kita enggak liat lagi," ujarnya.
Kekhawatiran mulai muncul ketika keluarga dan teman-teman tidak mendapatkan kabar dari Alimantun hingga pukul 22.00 WIB. Teman korban lainnya, Catherine, menyatakan bahwa almarhumah adalah sosok yang sangat peduli terhadap teman-temannya.
"Dari kejadian di jam 9, dia memang udah enggak ada kabar, kata teman-teman yang sempat Whatsapp-an. Kebetulan saat hari kejadian, saya enggak sempat hubungan," jelas Catherine.
Ia menambahkan bahwa hari itu mereka baru saja menyelesaikan Ujian Tengah Semester (UTS) dan berencana untuk berkumpul lebih lama sebelum pulang. "Biasanya kita pulang lebih malam ya. Nyesel saja gitu, kenapa sih enggak malam sekalian gitu. Biasanya jam 8 kita baru keluar dari kampus, tapi ini jam setengah 8 sudah di Jatinegara," ungkapnya.
Upaya pencarian pun dilakukan sejak malam hari dengan melacak keberadaan ponsel Alimantun. Berdasarkan data lokasi, ponsel almarhumah terdeteksi berada di area Bekasi pada dini hari sebelum akhirnya tidak aktif.
"Pas di-check location hapenya tuh jam 1 ada di stasiun Bekasi Timur, masih di situ. Dan berusaha di-call juga. Sempat in another call juga. Terus, jam setengah 7 tuh masih berdering. Terus, selebihnya jam 7 ke atas udah off," jelas Catherine.
Vica Agnia Fratiwi Mahasiswa Berpredikat Cum Laude
Vica Acnia Fratiwi (23) merupakan salah satu korban yang kehilangan nyawa dalam insiden kecelakaan antara Kereta Api (KA) Argo Bromo Anggrek dan kereta rel listrik (KRL) di Stasiun Bekasi Timur. Kakaknya, Nina (30), menceritakan bahwa Vica memiliki rencana untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang S2.
"Dia mau kuliah, masih mau S2. Dia kan soalnya ambis (punya ambisi) banget kan. Anaknya pinter kayak gitu kan," ungkap Nina saat ditemui di rumah duka Vica di kawasan Telaga Murni, Kabupaten Bekasi, pada Rabu, 29 April 2026.
Nina mengenang Vica sebagai sosok yang sangat tekun dalam belajar. Vica berhasil menyelesaikan pendidikan sarjananya dalam waktu tiga setengah tahun dengan predikat cum laude dari Universitas Lampung (Unila).
"Jadi dia benar-benar kayak kalau misalnya belajar itu bener-bener kayak gitu banget. Iya pas kemarin lulusnya cum laude termasuk," tambah Nina. "(Lulus) tahun 2024, tiga setengah tahun di Unila," lanjutnya.
Nina juga mencatat bahwa Vica adalah seorang yang rajin beribadah, bahkan sempat melaksanakan salat Magrib sebelum menaiki KRL pada malam kejadian. "Orangnya cantik, pinter, nggak neko-neko, rajin ngaji dia. Rajin ngaji, rajin salat, jadi kayak sebelum dia naik KRL pun itu juga salat Magrib dulu, jadinya kayak 'Ya Allah'," cerita Nina.
Setelah Vica dinyatakan hilang, keluarganya berusaha mencarinya di gedung DVI di Rumah Sakit Polri, Kramat Jati, Jakarta Timur. Salah satu anggota keluarga yang hadir adalah Watarisin (70), yang mencari keponakannya, Vica Acnia Pratiwi (23). Keluarga kehilangan kontak dengan Vica setelah berita mengenai kecelakaan kereta api tersebar luas.
Vica diketahui berada dalam perjalanan pulang dari tempat kerjanya menggunakan KRL commuter line. "Dia (Vica) ini keponakan. Pulang kerja naik kereta," jelas sang paman, Watarisin, kepada wartawan di RS Polri pada Selasa, 28 April 2026.