Tragedi KA di Bekasi Picu Desakan DPR, Lintas Sebidang Harus Diperbaiki Tanpa Diskriminasi Gender
Bahkan, dalam insiden yang terjadi di Stasiun Bekasi Timur ini juga mengakibatkan puluhan orang mengalami luka-luka.
Belasan orang telah meninggal dunia akibat kecelakaan kereta api yang melibatkan KRL, taksi, dan Kereta Api Argo Bromo yang terjadi pada Senin, (27/4) malam.
Bahkan, dalam insiden yang terjadi di Stasiun Bekasi Timur ini juga mengakibatkan puluhan orang mengalami luka-luka.
Satu persatu para korban dievakuasi dari gerbong yang memang prioritas wanita, baik korban jiwa maupun luka-luka. Mereka yang mengalami luka dibawa ke sejumlah rumah sakit terdekat.
Sedangkan, 10 orang lainnya yang dipastikan meninggal dunia langsung dibawa ke Rumah Sakit (RS) Polri Kramat Jati, Jakarta Timur.
Mulai Panik
Mengetahui adanya kejadian tersebut, sejumlah sanak keluarga pun mulai panik dan mencari tahu apakah keluarga mereka turut menjadi korban atau tidak.
Salah satunya dengan menyambangi RS Polri, yang ketika sejumlah korban jiwa telah dibawa ke sana. Akhirnya, identitas korban jiwa yang berjumlah 10 orang pun sudah mulai diketahui pada Selasa (28/4) sore.
Selanjutnya, puluhan korban jiwa yang berjenis kelamin perempuan dan sudah teridentifikasi dan diserahkan ke pihak keluarga masing-masing yakni Tutik Anitasari (31), Harum Anjasari (27), Nur Alimantun Citra Lestari (19), Farida Utami (52).
Berikutnya, Vica Acnia Fratiwi (23), Ida Nuraida (48), Gita Septia Wardany (20), Fatmawati Rahmayani (29), Arinjani Novita Sari (25) dan Nur Ainia Eka Rahmadhyna (32).
Setelah evakuasi korban selesai dilakukan, para petugas gabungan pun lanjut melakukan evakuasi terhadap kereta yang mengalami kecelakaan tersebut.
Kronologi
Kementerian Perhubungan (Kemenhub) mengungkap kronologi awal dugaan kecelakaan kereta api di Stasiun Bekasi Timur, Jawa Barat, yang bermula saat kereta rel listrik (KRL) relasi Bekasi–Cikarang tertemper mobil di perlintasan sebidang JPL 85 sehingga memicu insiden.
"Berdasarkan kronologi awal, insiden kecelakaan bermula ketika rangkaian KRL relasi Bekasi–Cikarang tertemper mobil di perlintasan sebidang JPL 85," kata Menteri Perhubungan (Menhub), Dudy Purwagandhi dalam keterangan di Jakarta, Selasa (28/4).
Akibat kejadian tersebut, rangkaian KRL harus dievakuasi dan ditetapkan sebagai Perjalanan Luar Biasa (PLB) dengan kode 5181 karena berhenti berdinas dan berjalan di luar jadwal reguler.
Sebagai dampaknya, petugas memberhentikan satu rangkaian KRL lainnya dengan kode PLB 5568 yang mengarah ke Cikarang di peron Stasiun Bekasi Timur.
Namun, KA Argo Bromo Anggrek (KA 4) relasi Jakarta–Surabaya tidak sempat berhenti sepenuhnya sehingga terlibat insiden dengan KA PLB 5568 yang sedang berhenti.
Evakuasi Kereta
VP Corporate Secretary KAI Commuter, Karina Amanda mengatakan, evakuasi terhadap kereta dilakukan agar gangguan dan mobilitas masyarakat tidak berlarut-larut sehingga warga tidak terhambat lebih lama.
"Baik. Jadi dapat kami sampaikan bahwa proses evakuasi saat ini di Stasiun Bekasi Timur untuk unit KRL masih berlangsung," ujar Karina dalam konferensi pers di RS Polri, Jakarta, Selasa (28/4).
Kemudian, terkait dengan pembatasan operasional ini terpaksa dilakukan karena jalur di Bekasi Timur belum bisa dilalui oleh rangkaian kereta secara aman. Petugas di stasiun juga telah memberikan informasi secara berkala kepada calon penumpang mengenai kondisi terkini di lintas tersebut.
"Sehingga dengan proses evakuasi yang masih terus berjalan ini, untuk layanan Commuter Line menuju dan dari Stasiun Cikarang saat ini masih belum kita layani. Sehingga untuk pengguna yang akan menuju ke Stasiun Cikarang ini hanya akan kami layani sampai dengan Stasiun Bekasi," tutur Karina.
Terkait durasi gangguan, KAI Commuter menargetkan pemindahan rangkaian kereta tersebut dapat rampung dalam waktu dekat. Karina menyebut, tim gabungan dari PT KAI dan KAI Commuter sudah dikerahkan sepenuhnya di titik evakuasi.
"Jadi kami targetkan ini dapat selesai sesegera mungkin, sehingga nanti dari PT KAI bersama KAI Commuter kami akan segera melakukan normalisasi untuk layanan Commuter Line sampai dengan Cikarang," tegasnya.
Ketua DPR RI Desak Perbaikan Perlintasan Sebidang
Ketua DPR RI Puan Maharani menekankan pentingnya Negara meningkatkan unsur keselamatan pada transportasi kereta api, terutama di perlintasan sebidang.
"Kita minta Pemerintah, KAI, bersama stakeholder terkait untuk lebih memprioritaskan persoalan keselamatan di jalur kereta api. Sistem dan keamanan pada jalur kereta api harus diperbaiki," tegasnya.
"Terutama pada perlintasan sebidang yang masih banyak kita temukan di sepanjang perlintasan kereta. Karena keamanannya sangat kurang, kecelakaan kereta seringkali terjadi dan ini harus disikapi dengan serius," imbuh Puan.
Puan memandang, kecelakaan kereta di kawasan Stasiun Bekasi Timur itu tidak hanya menghadirkan duka karena jatuhnya korban jiwa dan luka-luka, tetapi juga menempatkan kembali keselamatan transportasi publik sebagai ukuran utama kepercayaan masyarakat terhadap layanan harian yang digunakan jutaan orang.
"Dalam sistem mobilitas perkotaan seperti Jabodetabek, KAI Commuter Line atau KRL bukan sekadar moda angkut massal, melainkan infrastruktur sosial yang menopang ritme kerja, pendidikan, dan aktivitas ekonomi masyarakat setiap hari,” jelasnya.
"Karena itu, setiap insiden besar tidak hanya berdampak pada korban langsung, tetapi juga berpotensi memengaruhi persepsi masyarakat terhadap rasa aman menggunakan transportasi kereta," tambah Puan.
Keselamatan Penumpang Tak Boleh Bedakan Gender
Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono menegaskan, keselamatan dalam transportasi publik adalah hak seluruh penumpang tanpa membedakan laki-laki maupun perempuan.
"Yang jelas adalah laki-laki dan perempuan sama saja, tidak boleh menjadi korban dalam insiden apa pun," ujar AHY usai menjenguk korban kecelakaan kereta di RSUD Kota Bekasi, Selasa (28/4/2026) dikutip dari Liputan6.com.
Pernyataan ini disampaikan di tengah polemik usulan pemindahan posisi gerbong perempuan oleh Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Menteri PPA), Arifah Fauzi usai kecelakaan KRL Bekasi dengan Argo Bromo Anggrek di Stasiun Bekasi Timur.
AHY menegaskan, fokus utama bukan pada perbedaan gender, melainkan pada sistem keselamatan yang harus melindungi semua penumpang.
"Yang kita fokuskan bukan perempuan atau laki-lakinya, tetapi bagaimana sistem transportasi kereta dan transportasi publik lainnya aman, selamat, menghadirkan rasa aman dan nyaman," kata dia.
Ia menekankan prinsip keselamatan harus benar-benar diterapkan dalam operasional, bukan sekadar slogan.
"Safety first itu bukan hanya jargon, tapi harus benar-benar diterapkan dengan baik. Pemerintah akan terus melakukan evaluasi terhadap sistem operasional kereta api guna memastikan kejadian serupa tidak terulang," ucap AHY.