Siapa Buya Hamka? Muhammadiyah Resmikan Rumah Hamka di Malaysia untuk Perkuat Dakwah dan Persatuan
Muhammadiyah Malaysia meresmikan Rumah Hamka di Batu Caves, Selangor, sebuah pusat dakwah dan persatuan yang juga diharapkan jadi tempat aman bagi WNI, mengabadikan pemikiran Buya Hamka.
Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Malaysia baru-baru ini meresmikan Rumah Hamka di Batu Caves, Selangor, Malaysia, sebagai pusat dakwah dan persatuan. Peresmian fasilitas ini berlangsung pada hari Minggu, menandai langkah penting dalam memperluas jangkauan syiar Islam di negeri jiran. Nama Rumah Hamka diambil dari nama ulama besar Indonesia, Buya Hamka, untuk mengenang dan menyebarkan pemikiran-pemikiran beliau.
Acara peresmian ini dihadiri oleh berbagai tokoh penting, termasuk Wakil Duta Besar Indonesia untuk Malaysia, Danang Waskito, serta perwakilan dari Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Kehadiran mereka menunjukkan dukungan kuat terhadap inisiatif ini yang diharapkan dapat memberikan manfaat luas. Rumah Hamka tidak hanya difokuskan pada kegiatan keagamaan, tetapi juga sebagai wadah pengembangan intelektual.
Selain sebagai pusat dakwah, Rumah Hamka juga diharapkan dapat berfungsi sebagai tempat perlindungan dan fasilitas yang aman bagi warga negara Indonesia yang berada di Malaysia. Inisiatif ini mencerminkan upaya kolaboratif antara organisasi keagamaan dan perwakilan pemerintah. Tujuannya adalah untuk menciptakan lingkungan yang mendukung bagi WNI di luar negeri.
Mengenang Jejak Pemikiran Buya Hamka
Rumah Hamka didirikan untuk mengabadikan nama dan pemikiran mendalam dari Abdul Malik Karim Amrullah, atau yang lebih dikenal sebagai Buya Hamka. Beliau adalah seorang ulama terkemuka Muhammadiyah, politikus, jurnalis, penulis, filsuf, dan dosen yang sangat dihormati di Indonesia. Buya Hamka juga pernah menjabat sebagai Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) dari tahun 1975 hingga 1981, meninggalkan warisan intelektual yang kaya.
Wakil Duta Besar Indonesia untuk Malaysia, Danang Waskito, menyampaikan harapannya agar Rumah Hamka dapat memberikan manfaat bagi semua pihak. Ia menekankan pentingnya fasilitas ini dalam mendorong pengembangan intelektual. "Ini adalah upaya kolektif kami untuk meningkatkan pengembangan intelektual, mengingat Buya Hamka dikenal tidak hanya sebagai ulama terkemuka tetapi juga sebagai seorang penulis," ujar Danang.
Danang Waskito juga menyoroti pujian dari pemerintah Selangor terhadap novel-novel karya Buya Hamka, yang menunjukkan pengakuan atas kontribusi beliau di bidang sastra. Penamaan rumah ini dengan nama Buya Hamka diharapkan dapat terus menginspirasi generasi muda. Hal ini juga bertujuan untuk mempelajari dan mengamalkan nilai-nilai luhur yang beliau ajarkan.
Peran Strategis Rumah Hamka di Malaysia
Fasilitas baru ini diharapkan dapat melayani berbagai tujuan yang lebih luas dari sekadar dakwah Islam. Wakil Duta Besar Danang Waskito juga berharap Rumah Hamka dapat menjadi tempat yang aman bagi warga negara Indonesia di Malaysia. "Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah Malaysia telah mengatakan bahwa rumah ini terbuka untuk semua -- ia menawarkan perlindungan bagi warga negara kita. Tentu saja, kedutaan bertanggung jawab atas masalah ini, tetapi akan lebih baik jika kita semua bekerja sama," kata Waskito.
Agus Taufiqurrahman, perwakilan dari Pimpinan Pusat Muhammadiyah, menggambarkan Rumah Hamka sebagai pusat dakwah yang mempromosikan inklusivitas dan persatuan. Ia mengutip perkataan Buya Hamka yang menekankan pentingnya menghargai perbedaan untuk membangun rasa persaudaraan. Pesan ini relevan dalam konteks masyarakat majemuk seperti di Malaysia.
Ketua Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah Malaysia, Fauzi Fatkhur, menjelaskan visi Rumah Hamka sebagai tempat untuk membantu bangsa Indonesia menumbuhkan generasi intelektual dengan karakter mulia. "Rumah Hamka adalah simbol persatuan di antara orang-orang dari berbagai lapisan masyarakat di bawah persaudaraan Islam," tegas Fauzi. Ia menambahkan bahwa keberadaan rumah ini adalah bukti kolaborasi antar semua pihak yang terlibat.
Dengan peresmian Rumah Hamka, Muhammadiyah Malaysia menegaskan komitmennya untuk tidak hanya menyebarkan ajaran agama. Mereka juga berupaya membangun komunitas yang kuat dan suportif bagi WNI. Fasilitas ini diharapkan menjadi mercusuar bagi pengembangan spiritual dan intelektual di kawasan tersebut.
Sumber: AntaraNews