Jusuf Kalla Tegaskan Peran Masjid Tak Sekadar Ibadah, Dorong Pemberdayaan Masyarakat
Ketua Umum DMI Jusuf Kalla menekankan peran masjid sebagai pusat pemberdayaan masyarakat, bukan hanya tempat ibadah, serta mengajak pengurus DMI memakmurkan masjid dan jamaahnya.
Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia (DMI) Jusuf Kalla menegaskan bahwa masjid memiliki fungsi lebih dari sekadar tempat ibadah. Ia menekankan bahwa masjid harus menjadi pusat pemberdayaan yang mampu memakmurkan masyarakat di sekitarnya. Pernyataan ini disampaikan saat pelantikan pengurus wilayah DMI di Jayapura, Papua, pada Minggu (23/11).
Dalam acara tersebut, Jusuf Kalla mengajak seluruh pengurus masjid untuk menjalankan dua fungsi utama secara beriringan. Fungsi tersebut meliputi memakmurkan masjid itu sendiri serta secara aktif memakmurkan masyarakat. Konsep ini menyoroti pentingnya kesejahteraan sosial dan ekonomi jamaah.
Mantan Wakil Presiden RI ini menyoroti bahwa kemakmuran masjid tidak hanya diukur dari kemegahan bangunan atau banyaknya jamaah. Namun, kesejahteraan masyarakat di sekitar masjid juga menjadi indikator penting. Hal ini menunjukkan visi masjid yang terintegrasi dengan kehidupan sosial ekonomi umat.
Masjid sebagai Pusat Pemberdayaan Ekonomi dan Pendidikan
Jusuf Kalla menjelaskan bahwa masjid harus menjadi pendorong kemandirian masyarakat. Ia menekankan pentingnya masjid sebagai pusat pendidikan dan peningkatan ekonomi. Dua rukun Islam, zakat dan haji, hanya dapat ditunaikan oleh mereka yang memiliki kemampuan ekonomi.
"Masjid harus mendorong masyarakatnya untuk mampu, baik secara ekonomi, pendidikan, maupun agama," ujarnya. Ia mencontohkan peran masjid sejak zaman Rasulullah SAW yang berfungsi sebagai pusat pemerintahan, pendidikan, hingga pengadilan. Model ini relevan untuk diterapkan kembali.
Model tersebut dapat diadaptasi dengan menjadikan masjid sebagai pusat kegiatan sosial. Ini termasuk pendidikan anak, pelatihan ekonomi, hingga pengembangan kerajinan masyarakat. Pendekatan ini bertujuan untuk menciptakan masyarakat yang mandiri dan berdaya.
Toleransi Beragama dan Kolaborasi Sosial
Jusuf Kalla mengapresiasi tinggi toleransi beragama yang terjalin di Papua. Ia mencontohkan kawasan Sentani, di mana masjid besar berdiri berseberangan dengan gereja besar. Fenomena ini menjadi simbol kerukunan yang patut dijaga dan terus diperkuat.
Baginya, semua rumah ibadah memiliki tujuan yang sama, yaitu membimbing umat menuju kebaikan. Oleh karena itu, ia mengingatkan agar tidak ada tindakan kekerasan atas nama agama. "Tidak ada agama yang membolehkan orang saling membunuh. Itu bukan jalan menuju surga," tegasnya.
Dalam kesempatan yang sama, Jusuf Kalla mengusulkan program sosial bersama antara masjid dan gereja. Kolaborasi ini dapat terwujud sepanjang tidak menyangkut akidah. Tujuannya adalah membangun masyarakat Papua secara lebih komprehensif dan harmonis.
"Akidah boleh berbeda, tetapi pengabdian kepada masyarakat bisa bersatu," ucapnya. Pandangan ini menunjukkan pentingnya kerja sama lintas agama dalam upaya memajukan kesejahteraan sosial.
Pesan untuk Pengurus DMI dan Visi Kemajuan
Kepada pengurus DMI yang baru dilantik, Jusuf Kalla berpesan agar mengabdikan diri untuk meningkatkan kualitas ibadah di masjid. Mereka juga diminta untuk mendorong pendidikan masyarakat serta memperkuat ekonomi jamaah. Ini merupakan tugas mulia yang diemban oleh para pengurus.
Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga keharmonisan dalam aktivitas masjid. Termasuk memperhatikan kenyamanan lingkungan sekitar agar kegiatan keagamaan tetap berjalan syahdu dan tidak mengganggu. Aspek lingkungan menjadi bagian integral dari kemakmuran.
Jusuf Kalla lebih lanjut menekankan bahwa ibadah harus berjalan seiring dengan kerja keras, ilmu pengetahuan, teknologi, dan pengabdian kepada masyarakat. "Negara tidak akan maju jika hanya memperbanyak rumah ibadah tanpa diiringi ilmu, pengabdian, dan kerja keras," tutupnya. Visi ini menggarisbawahi pentingnya keseimbangan antara spiritualitas dan upaya duniawi.
Sumber: AntaraNews