Jusuf Kalla: Tahukah Anda, Peran Masjid Lebih dari Sekadar Tempat Ibadah?
Jusuf Kalla menekankan Peran Masjid sebagai pusat peradaban umat, bukan hanya tempat ibadah. Simak bagaimana DMI Jatim akan mengoptimalkan fungsi masjid di Jawa Timur.
Jusuf Kalla, Ketua Umum Pimpinan Pusat Dewan Masjid Indonesia (DMI), menegaskan bahwa masjid memiliki fungsi yang jauh lebih luas. Ia menekankan bahwa masjid bukan sekadar tempat ibadah semata, melainkan pusat peradaban umat. Pernyataan ini disampaikan saat pelantikan Pengurus Wilayah (PW) DMI Jawa Timur di Surabaya.
Dalam acara yang berlangsung pada hari Sabtu tersebut, Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI itu menyoroti pentingnya masjid sebagai pusat persatuan dan dakwah. Masjid juga diharapkan menjadi lokus pendidikan serta pemberdayaan ekonomi umat. Konsep ini sejalan dengan ajaran Rasulullah SAW yang mengaitkan dakwah dengan kemajuan muamalah.
Pengurus DMI, khususnya PW DMI Jawa Timur periode 2025–2030, kini memikul tanggung jawab besar. Mereka bertugas mengorkestrasi berbagai fungsi masjid agar dapat berkontribusi nyata bagi kemajuan masyarakat. Hal ini juga didukung oleh Pemerintah Provinsi Jawa Timur yang siap bersinergi.
Masjid sebagai Pusat Pemberdayaan Ekonomi Umat
Jusuf Kalla menjelaskan bahwa zakat dan haji merupakan rukun Islam yang erat kaitannya dengan kemampuan ekonomi. Oleh karena itu, memajukan ekonomi umat adalah bagian integral dari misi memakmurkan masjid. Konsep ini menunjukkan bahwa aspek spiritual dan material harus berjalan seiring.
Beliau mencontohkan Rasulullah SAW yang sejak muda telah berdagang, menunjukkan bahwa dakwah tidak terlepas dari kemajuan muamalah. Ini menggarisbawahi pentingnya masjid sebagai wadah untuk mengembangkan potensi ekonomi masyarakat. Dengan demikian, masjid dapat menjadi motor penggerak kesejahteraan umat.
Peran masjid dalam pemberdayaan ekonomi juga mencakup inisiatif yang mendukung kemandirian finansial. Hal ini bisa diwujudkan melalui pelatihan kewirausahaan atau program ekonomi berbasis masjid. Tujuannya adalah menciptakan ekosistem ekonomi yang kuat di sekitar lingkungan masjid.
Sinergi Pemerintah dan DMI untuk Kemajuan Masjid di Jatim
Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak, menyatakan komitmen Pemerintah Provinsi Jawa Timur untuk bersinergi dengan DMI. Ia menekankan bahwa meskipun nilainya mungkin kecil, keberkahan dari masjid sangatlah besar. Masjid dianggap sebagai amal jariyah lintas generasi yang menjadi pusat peradaban.
Data dari pemerintah provinsi menunjukkan bahwa terdapat sekitar 53.500 masjid di seluruh Jawa Timur. Angka ini mencerminkan potensi besar peran masjid dalam kehidupan sosial dan keagamaan masyarakat. Sejak tahun 2019, sekitar 80.000 imam masjid di Jawa Timur juga telah memperoleh tunjangan kehormatan.
Sinergi ini diharapkan dapat mengoptimalkan fungsi masjid dalam berbagai aspek kehidupan. Dukungan pemerintah menjadi krusial dalam memastikan program-program DMI berjalan efektif. Kolaborasi ini bertujuan untuk menciptakan masjid yang tidak hanya berfungsi spiritual, tetapi juga sosial dan ekonomi.
Program Unggulan DMI Jatim: Memakmurkan Masjid dan Umat
Ketua PW DMI Jatim, Dr. KH Sudjak, menegaskan bahwa pelantikan ini bukan sekadar formalitas belaka. Ia menyatakan bahwa ini adalah amanah besar dan mulia untuk memakmurkan masjid. Tujuannya adalah menjadikan masjid benar-benar sebagai pusat kemaslahatan umat.
PW DMI Jatim periode 2025–2030 akan menggerakkan 12 departemen untuk mencapai tujuan tersebut. Mereka telah merancang tiga program unggulan yang diharapkan memberikan dampak signifikan. Program-program ini dirancang untuk memperkuat peran masjid di tengah masyarakat.
Tiga program unggulan tersebut meliputi Program Uang Kehormatan Imam Masjid (UKIM) untuk kesejahteraan imam. Ada juga program Masjid Award yang bertujuan meningkatkan kualitas pengelolaan masjid. Terakhir, Halal Center DMI akan mendukung proses sertifikasi halal di Jawa Timur, memperkuat ekosistem ekonomi syariah.
Acara pelantikan diakhiri dengan tausiyah dari As-Syeikh Prof. Muhammad Fadhil Al-Jailani. Beliau adalah cicit dari ulama tasawuf dunia Syaikh Abdul Qadir Jaelani. Dalam kesempatan itu, beliau memperkenalkan Kitab Nahrul Qadiriyah, hasil penelitian puluhan tahun atas karya leluhurnya.
Sumber: AntaraNews