Fakta Menarik: Muhammadiyah Resmikan Rumah Hamka Malaysia, Jadi Pusat Dakwah dan Simbol Persatuan Umat
Muhammadiyah bersama PCIM Malaysia meresmikan Rumah Hamka Malaysia sebagai pusat dakwah dan simbol persatuan, diharapkan jadi wadah kemaslahatan umat.
Pengurus Pusat Muhammadiyah bersama Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Malaysia secara resmi meresmikan Rumah Hamka Malaysia. Peresmian ini berlangsung di Batu Caves, Selangor, Malaysia, pada hari Minggu (14/9) lalu.
Penamaan Rumah Hamka diambil dari nama ulama besar dan tokoh Muhammadiyah, Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau Buya Hamka. Bangunan ini didedikasikan sebagai pusat dakwah serta simbol penting persatuan berbagai lapisan masyarakat.
Keberadaan rumah ini diharapkan menjadi pusat peradaban yang melahirkan generasi berilmu dan berakhlak mulia. Selain itu, Rumah Hamka juga diharapkan dapat memberikan manfaat besar bagi bangsa dan negara, khususnya di Malaysia.
Rumah Hamka: Pusat Peradaban dan Simbol Persatuan Umat
Ketua PCIM Malaysia, Fauzi Fatkhur, menyatakan bahwa keberadaan Rumah Hamka diharapkan menjadi pusat peradaban. Tujuannya adalah untuk membentuk generasi yang berilmu, berakhlak mulia, serta berguna bagi bangsa dan negara.
Fauzi juga menyampaikan bahwa tahun 2024 merupakan tahun bersejarah bagi PCIM Malaysia. Pada tahun tersebut, Rumah Hamka berhasil dibeli lunas dan PCIM Malaysia secara legal terdaftar di Malaysia.
"Rumah Hamka simbol persatuan dari berbagai lapisan masyarakat dalam ukhuwah Islamiyah, demi kemashlahatan umat. Keberadaan rumah ini bukti nyata kekuatan kolaborasi semua pihak," ujar Fauzi Fatkhur dalam acara peresmian.
Pesan Buya Hamka: Ikhlas dan Persatuan sebagai Fondasi Dakwah
Ketua Pengurus Pusat Muhammadiyah, Agus Taufiqurrahman, yang turut hadir dalam peresmian, menegaskan bahwa Rumah Hamka adalah rumah dakwah bagi semua pihak. Ia mengajak semua elemen masyarakat untuk senantiasa membangun persatuan.
Agus Taufiqurrahman juga menyampaikan nasihat penting dari Buya Hamka yang relevan untuk diterapkan. "Jangan membiasakan melihat perbedaan, tapi selalulah membangun persamaan. Karena dengan persamaan kita bisa membangun persaudaraan," kata Agus.
Selain itu, Agus mengingatkan pesan Buya Hamka lainnya mengenai pentingnya keikhlasan dalam setiap tindakan. "Keikhlasan tidak bisa dilihat, namun berasal dari hati dan menyentuh hati. Lakukan semua dengan bahasa ikhlas," tambahnya.
Peran Strategis Rumah Hamka dalam Perlindungan WNI dan Literasi
Wakil Duta Besar Republik Indonesia untuk Malaysia, Danang Waskito, berharap Rumah Hamka dapat membawa kebaikan bagi semua pihak. Ia juga berharap rumah ini menjadi salah satu tempat untuk memperjuangkan semangat dan khitah Buya Hamka.
Danang menyoroti peran Buya Hamka tidak hanya sebagai ulama besar, tetapi juga sebagai sastrawan dan penggerak literasi. "Kami pernah berbincang dengan Kerajaan Selangor, mereka terkesan dengan Buya Hamka sebagai penggerak literasi dengan novel-novelnya," ujar Danang.
Lebih lanjut, Danang Waskito berharap Rumah Hamka tidak hanya berfungsi sebagai tempat dakwah. Ia juga berharap rumah ini dapat menjadi salah satu tempat yang turut memperjuangkan perlindungan warga negara Indonesia di Malaysia.
Acara peresmian ini dihadiri oleh perwakilan Kerajaan Malaysia, perwakilan KBRI, perwakilan PP Muhammadiyah, serta rekan organisasi Indonesia dan Malaysia.
Sumber: AntaraNews