Rikwanto Beberkan Efek Penggunaan Whip Pink Hampir sama dengan Lem Aibon
Awalnya, Rikwanto lebih dulu mempertanyakan soal kesamaan efek dari Whip Pink dengan lem aibon.
Anggota Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI Rikwanto mempertanyakan soal fenomena gas NO2 atau Whip Pink. Hal ini ditanyakan Rikwanto saat melakukan Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) dan Kepala BNNP di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta.
Awalnya, Rikwanto lebih dulu mempertanyakan soal kesamaan efek dari Whip Pink dengan lem aibon.
"Sudah mulai in ini whip pink gas NO2 itu. Apakah ini sudah bisa dimasukkan ke narkotika, narkoba atau tertentu atau disamakan dengan isep aibon saja itu seperti yang teler-teler di jalanan itu," kata Rikwanto dalam rapat, Selasa (3/2).
Mantan Kapolda Kalimantan Selatan (Kalsel) ini pun menyebut, lem aibon digunakan untuk kalangan bawah dan whip pink menengah ke atas.
"Jadi kalau lem aibon itu ya untuk kelas bawah gitu ya karena murah harganya. Kalau Whip Pink untuk kelas meneng atas, karena harganya bisa naik," sebutnya.
Menurut eks Kapolda Maluku Utara ini, Whip Pink memiliki gejala untuk terbang atau fly agar kehilangan kesadaran dengan rentang waktu yang singkat.
"Nah ini cukup membahayakan ini jadi tren, kemarin ada kasus mudah-mudahan bukan karena Whip Pink. Tapi sudah mulai mengejala Whip Pink ini digunakan sebagai alat untuk fly ya, supaya kehilangan kesadaran sebentar dan euphoria gembira," ujarnya.
Harap BNN Selamatkan Anak dari Whip Pink
Dengan adanya fenomena tersebut, ia pun berharap agar BNN dibawah pimpinan Komjen Suyudi Ario Seto ini dapat menyelamatkan anak-anak bangsa Indonesia.
"Nanti bisa mungkin Pak Suyudi menjelaskan tentang kedudukan whip pink ini Masalah-masalah narkotika Itu saja dari saya," ucapnya.
"Mudah-mudahan BNN semakin kuat lagi dalam menjalankan tugas-tugasnya menyelamatkan anak-anak bangsa ke depan," pungkasnya.