Dokter Ayie Sri Kartika, Kepala Instalasi Napza RSJ Marzoeki Mahdi Bogor, menyoroti pentingnya edukasi mekanisme pelepasan stres. Hal ini merupakan cara efektif mengurangi risiko adiksi zat psikoaktif, termasuk "whip pink".
Dalam sebuah webinar yang diikuti secara daring di Jakarta, ia menjelaskan bahwa kemampuan mengelola stres sangat vital. Banyak individu yang mencari pelarian dalam zat adiktif saat menghadapi tekanan hidup yang berat.
Menurutnya, memahami cara melepaskan stres dapat menjadi benteng. Ini mencegah seseorang terjerumus pada penggunaan zat psikoaktif yang berbahaya dan menimbulkan ketergantungan.
Advertisement
Advertisement
Dr. Ayie menekankan bahwa mekanisme kelola stres bisa bervariasi bagi setiap individu. Misalnya, bagi individu dengan tipe agresif, menyiapkan samsak di rumah dapat menjadi saluran pelepasan emosi.
Selain itu, mencari sistem pendukung (support system) dari orang terdekat yang dapat dipercaya juga sangat penting. Berbagi cerita dan perasaan dapat meringankan beban pikiran.
Namun, ia mengamati bahwa di Indonesia, banyak orang merasa kesulitan menemukan individu yang bisa dipercaya sebagai pendukung. Kondisi ini sering kali memicu rasa kesendirian yang mendalam.
Advertisement
Rasa kesendirian ini, pada akhirnya, dapat mendorong seseorang untuk mencari pelarian. Salah satu pelarian yang berbahaya adalah penggunaan zat psikoaktif yang bersifat adiktif.
Advertisement
Zat psikoaktif seperti "whip pink" sangat berbahaya karena menyebabkan ketergantungan. Zat ini memberikan efek menenangkan, rasa senang, dan tubuh terasa ringan.
Efek inilah yang kerap disalahgunakan sebagai solusi instan dari masalah yang dihadapi. Namun, dampak yang ditimbulkan jauh lebih merusak daripada manfaat sesaatnya.
Dampak jangka pendek setelah pemakaian pertama meliputi pusing, mual, dan bicara pelo. Hal ini terjadi karena ada saraf yang terblokir akibat zat tersebut. Pengguna juga bisa mengalami panik, gelisah saat tidak memakai, hingga pingsan mendadak karena kurangnya oksigen ke otak.
Advertisement
Secara jangka panjang, pengguna akan mengalami emosi tidak stabil dan paranoid. Mereka juga berisiko mengalami tremor atau kelumpuhan akibat defisiensi vitamin B12, kecemasan berat, gangguan tidur, serta halusinasi menetap.
Advertisement
Dr. Ayie menyarankan masyarakat untuk tidak ragu meminta bantuan profesional jika melihat tanda kecanduan. Tanda-tanda ini termasuk sulit berhenti menggunakan zat atau menarik diri dari lingkungan sosial.
Ia menegaskan bahwa orang terdekat seringkali tidak bisa bersikap objektif dalam menilai kondisi kecanduan. Oleh karena itu, konsultasi langsung dengan profesional adalah langkah terbaik.
"Nggak usah takut aduh nanti jelek namanya dan lain sebagainya. Konsultasi saja langsung," ujar Ayie, menekankan pentingnya mengatasi stigma.
Advertisement
Selain itu, sangat disarankan untuk segera menjauhi lingkungan yang menormalisasi pemakaian zat adiktif. Edukasi diri mengenai risiko hipoksia atau kerusakan saraf juga krusial untuk melepaskan diri dari kecanduan.
Sumber: AntaraNews