Psikolog Ungkap Bahaya Tren Gas Tertawa dan FOMO Remaja: Waspada Pengaruh Media Sosial

Fenomena Tren gas tertawa dan FOMO remaja semakin meresahkan. Seorang psikolog menjelaskan alasan di balik perilaku remaja yang mudah terpengaruh tren berbahaya di media sosial.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Psikolog Ungkap Bahaya Tren Gas Tertawa dan FOMO Remaja: Waspada Pengaruh Media Sosial
Waspada efek penyalahgunaan gas tertawa atau nitrous oxide yang bisa merusak saraf permanen dan menyebabkan ketergantungan psikologis kuat. Simak bahaya lengkapnya! (AntaraNews)

Jakarta, 30/1 (ANTARA) - Fenomena tren di kalangan remaja seringkali menjadi sorotan, terutama ketika tren tersebut berpotensi membahayakan kesehatan atau keselamatan. Belakangan ini, tren penggunaan gas tertawa atau whip pink ramai dibicarakan di media sosial, memicu kekhawatiran dari berbagai pihak.

Psikolog Cakra Medika Ayu S. Sadewo, S.Psi., menyoroti bahwa remaja cenderung mengikuti tren karena kebutuhan mendalam untuk diterima oleh teman sebaya dan adanya rasa takut ketinggalan atau fear of missing out (FOMO). Faktor-faktor ini seringkali menutupi pertimbangan akan risiko yang mungkin timbul dari tren yang diikuti.

Menurut Ayu, validasi sosial dan rasa ingin tahu yang besar menjadi pendorong utama bagi remaja untuk mencoba hal-hal baru, termasuk tren yang sedang populer. Mereka merasa bahwa partisipasi dalam tren tersebut adalah bagian dari proses pencarian identitas dan penerimaan di lingkungan sosial mereka.

Mengapa Remaja Mudah Terpengaruh Tren dan FOMO?

Kebutuhan akan penerimaan sosial merupakan salah satu faktor dominan yang mendorong remaja untuk mengikuti berbagai tren. Psikolog Ayu S. Sadewo menjelaskan, "Yang penting bagi mereka adalah diterima. Risiko sering kali tidak menjadi pertimbangan utama. Ketika ada tren yang dianggap populer, muncul rasa kalau tidak ikut berarti ketinggalan atau tidak nyambung." Pernyataan ini menggarisbawahi bagaimana tekanan sosial dapat mengesampingkan rasionalitas.

Selain itu, rasa ingin tahu yang besar juga menjadi pemicu remaja mencoba hal-hal baru. Tren yang ramai dibicarakan sering dianggap sebagai bagian dari proses memahami diri sendiri dan menentukan pilihan hidup. Fase remaja adalah masa krusial di mana individu mencari identitas diri, dan penerimaan dari lingkungan sebaya menjadi sangat penting.

Ayu menambahkan, "Masa remaja saat seseorang ada dalam fase mencari identitas. Di usia ini, penerimaan orang lain jadi faktor yang penting bagi mereka – dianggap keren, dianggap seru, dianggap ‘sama’." Ini menunjukkan bahwa validasi dari teman sebaya memiliki bobot yang signifikan dalam keputusan yang diambil remaja, bahkan jika itu berarti mengabaikan potensi bahaya dari tren tersebut.

Mengenal Tren Gas Tertawa (Nitrous Oxide) dan Risiko Kesehatan

Fenomena whip pink, yang merupakan salah satu merek tabung nitrous oxide, telah menjadi perbincangan hangat di media sosial. Gas tertawa atau nitrous oxide (NO2) sebenarnya adalah zat yang biasa digunakan secara medis sebagai anestesi, namun belakangan ini disalahgunakan secara rekreasional.

Penyalahgunaan gas tertawa ini disebabkan oleh efek euforia sesaat yang ditimbulkannya, membuat banyak remaja tertarik untuk mencobanya. Kepopuleran tren ini semakin mencuat setelah kematian pemengaruh sekaligus kreator konten Lula Lahfah dikaitkan oleh warganet dengan penggunaan gas tersebut, meskipun penyebab pasti kematiannya belum dikonfirmasi oleh pihak berwenang.

Psikolog Ayu menekankan bahwa banyak remaja sebenarnya tidak sepenuhnya memahami dampak dan risiko kesehatan yang melekat pada tren yang mereka ikuti. Fokus utama mereka lebih pada validasi sosial, merasa diakui, dan diyakini mampu mengambil keputusan sendiri seperti teman-temannya, tanpa mempertimbangkan konsekuensi jangka panjang.

Pentingnya Pemahaman Risiko di Tengah Pengaruh Media Sosial

Fenomena whip pink menjadi peringatan serius tentang bagaimana tren yang beredar di media sosial dapat memengaruhi perilaku remaja. Media sosial, dengan kecepatan penyebaran informasinya, seringkali menjadi platform utama bagi tren-tren baru untuk berkembang, baik yang positif maupun yang berpotensi negatif.

Pentingnya pemahaman risiko sebelum mengikuti sesuatu yang populer tidak bisa diabaikan. Remaja perlu dibekali dengan edukasi yang memadai mengenai bahaya penyalahgunaan zat seperti nitrous oxide, serta kemampuan untuk berpikir kritis terhadap informasi dan tren yang mereka temui di dunia maya.

Orang tua, pendidik, dan masyarakat memiliki peran krusial dalam membimbing remaja untuk membuat keputusan yang bijak. Diskusi terbuka mengenai tekanan teman sebaya, FOMO, dan dampak kesehatan dari tren berbahaya dapat membantu remaja mengembangkan ketahanan diri dan memprioritaskan keselamatan di atas popularitas sesaat.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi