Profil Ponpes Al Khoziny Sidoarjo, Pencetak Ulama Terkemuka Sejak Lebih dari Satu Abad
Ponpes Al Khoziny Sidoarjo, salah satu pesantren tertua di Jawa Timur yang telah melahirkan banyak ulama besar dan kini menghadapi tantangan pasca musibah.
Pondok Pesantren (Ponpes) Al Khoziny, yang juga dikenal sebagai Pesantren Buduran, merupakan salah satu institusi pendidikan Islam tertua di Jawa Timur. Pesantren ini berlokasi di Jalan KHR Moh Abbas I/18, Desa Buduran, Sidoarjo, dan telah berdiri selama lebih dari satu abad.
Keberadaan Ponpes Al Khoziny memiliki peran vital dalam pengembangan pendidikan agama Islam serta pencetakan ulama di Indonesia. Sejak didirikan, pesantren ini telah menjadi pusat keilmuan yang melahirkan banyak tokoh berpengaruh dalam sejarah keislaman Nusantara.
Baru-baru ini, Ponpes Al Khoziny menghadapi musibah ambruknya bangunan musala yang menimpa sejumlah santri. Insiden ini tidak mengurangi semangat pesantren untuk terus berkontribusi dalam dunia pendidikan agama, sekaligus menyoroti pentingnya standar keselamatan bangunan.
Sejarah Panjang dan Pendiri Ponpes Al Khoziny Sidoarjo
Nama Ponpes Al Khoziny diambil dari pendirinya, yaitu KH Raden Khozin Khoiruddin. Beliau merupakan menantu dari KH Ya'qub, pengasuh Pesantren Siwalanpanji pada periode ketiga, yang menunjukkan akar keilmuan dan jaringan ulama yang kuat.
Mengenai tahun pendiriannya, terdapat beberapa versi yang beredar. Kiai Salam Mujib, pengasuh pesantren saat ini, menyatakan bahwa pesantren telah ada sekitar tahun 1915-1920 Masehi. Perkiraan ini didasarkan pada catatan santri pertama KH Moch Abbas serta cerita tutur dari alumni sepuh, mengindikasikan usia Ponpes Al Khoziny telah melampaui satu abad.
Namun, beberapa sumber lain menyebutkan bahwa pesantren ini berdiri sekitar tahun 1926–1927. Pondok pesantren Al Khoziny dibangun di atas tanah milik KHR. Mohammad Abbas Khozin, yang terletak di Desa Buduran Sidoarjo, dan sejak awal telah menjadi pusat kegiatan keagamaan.
Awalnya, pondok di Buduran dibuat sebagai kediaman bagi putra Kiai Khozin, KH Moch Abbas, setelah beliau kembali dari menuntut ilmu di Makkah selama kurang lebih sepuluh tahun. Kedatangan KH Moch Abbas disambut baik oleh masyarakat setempat, sehingga pondok ini kemudian berkembang menjadi sebuah pesantren yang dikenal luas.
Kontribusi Besar dalam Mencetak Ulama Nusantara
Ponpes Al Khoziny adalah salah satu pondok pesantren tua di Jawa Timur yang telah mencetak banyak ulama Nusantara. Pesantren ini telah lama menjadi pusat pembinaan ulama dan melahirkan banyak tokoh penting agama yang berperan dalam menyebarkan ajaran Islam di seluruh pelosok negeri.
Dari pesantren inilah lahir banyak ulama besar yang namanya dikenal luas. Beberapa di antaranya adalah KH M. Hasyim Asy'ari, pendiri Pondok Pesantren Tebuireng di Jombang, serta KH Wahab Hasbullah dari Tambakberas, Jombang.
Selain itu, Ponpes Al Khoziny juga merupakan tempat menimba ilmu bagi tokoh-tokoh seperti KH Usman Al Ishaqi dari Al-Fitrah Kedinding, Surabaya, hingga KH As'ad Syamsul Arifin dari Situbondo. Jejak kontribusi Ponpes Al Khoziny Sidoarjo dalam melahirkan ulama-ulama besar ini menunjukkan perannya yang tak tergantikan dalam sejarah pendidikan Islam di Indonesia.
Sistem Pendidikan dan Tradisi Keilmuan di Ponpes Al Khoziny
Tradisi pengajaran di Ponpes Al Khoziny sangat konsisten, menekankan pendidikan salaf yang mendalam melalui pemahaman kitab kuning. Bimbingan langsung dari para kiai memastikan para santri tidak hanya menguasai ilmu, tetapi juga meneladani nilai-nilai spiritual melalui pengamalan lima tarekat utama.
Setelah wafatnya KH Moch Abbas pada tahun 1978, kepemimpinan pesantren dilanjutkan oleh putranya, KH Abdul Mujib Abbas. Di bawah pengasuhannya, pondok terus berkembang dengan mendirikan berbagai jenjang pendidikan formal.
Pada tahun 1964, Madrasah Tsanawiyah Al-Khoziny didirikan, disusul Madrasah Aliyah Al-Khoziny pada tahun 1970, dan Madrasah Ibtidaiyah pada tahun 1975. Kurikulum yang digunakan adalah kurikulum departemen agama, yang kemudian dilengkapi dengan pendidikan tinggi seperti Sekolah Tinggi Diniyah (1982), yang diformalisasi menjadi Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) dan Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur'an (STIQ) pada tahun 1993, dan kini berkembang menjadi Institut Agama Islam (IAI) Al Khoziny.
Nilai-nilai dan tradisi di Ponpes Al Khoziny sangat kuat, salah satunya adalah kewajiban salat jemaah bagi para santri. Terdapat cerita yang beredar bahwa santri yang melanggar salat berjemaah akan mendapat sanksi batin berupa kesulitan dalam menerima ilmu yang disampaikan oleh guru, menunjukkan betapa ditekankannya disiplin spiritual di lingkungan pesantren.
Musibah Terbaru dan Implikasinya bagi Ponpes Al Khoziny
Pada Senin, 29 September 2025, Ponpes Al Khoziny Sidoarjo mengalami musibah ketika bangunan empat lantai yang salah satunya difungsikan sebagai musala ambruk. Insiden ini terjadi saat santri sedang khusyuk melaksanakan salat Asar berjemaah, menyebabkan kepanikan dan duka mendalam.
Hingga H+1 operasi SAR, sebanyak 11 santri berhasil dievakuasi dalam kondisi selamat dari balik reruntuhan beton musala. Peristiwa ini menjadi perhatian nasional dan memicu berbagai pihak untuk memberikan dukungan serta bantuan.
Dugaan awal penyebab ambruknya bangunan adalah konstruksi yang tidak mampu menahan beban tambahan pembangunan lantai lima, sehingga runtuh secara tiba-tiba. Tragedi ini menjadi pengingat pentingnya standar pembangunan yang aman di setiap fasilitas pendidikan, termasuk pesantren.