Penuh Haru, Majelis Barokah Pamekasan Gelar Istighatsah untuk Santri Al-Khoziny, Pesantren Tertua yang Melahirkan Ulama Besar

Majelis Shongai Barokah Pamekasan menggelar istighatsah untuk santri Al-Khoziny yang menjadi korban musibah, wujud empati spiritual bagi pesantren tertua di Nusantara.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Penuh Haru, Majelis Barokah Pamekasan Gelar Istighatsah untuk Santri Al-Khoziny, Pesantren Tertua yang Melahirkan Ulama Besar
Majelis Shongai Barokah Pamekasan menggelar istighatsah untuk santri Al-Khoziny yang menjadi korban musibah, wujud empati spiritual bagi pesantren tertua di Nusantara. (AntaraNews)

Majelis Shongai Barokah Pamekasan, sebuah perkumpulan pengajian gabungan pemerintah dan masyarakat, menggelar istighatsah dan doa bersama pada Minggu malam (5/10). Kegiatan ini didedikasikan untuk para santri yang menjadi korban musibah runtuhnya Pondok Pesantren Al-Khoziny di Sidoarjo.

Acara khidmat tersebut berlangsung di Dusun Serkeser Dejeh, Desa Buddagan, Kecamatan Pademawu, Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur. Inisiatif ini merupakan bentuk kepedulian mendalam dan solidaritas atas tragedi yang menimpa pesantren tersebut.

Juru Bicara Majelis, Nur Fajri Alim, menyatakan bahwa istighatsah ini adalah ikhtiar spiritual untuk mendoakan korban. Selain doa, kegiatan juga diisi dengan pembacaan shalawat, zikir, dan tausiah singkat untuk memperkuat keimanan jamaah.

Solidaritas Spiritual untuk Korban Al-Khoziny

Nur Fajri Alim, yang juga menjabat sebagai Kanit Tipikor Polres Pamekasan, menegaskan bahwa istighatsah ini merupakan wujud empati dari Majelis Shongai Barokah. Majelis yang beranggotakan sekitar 250 orang ini berkomitmen untuk mendoakan para korban.

"Khusus kegiatan rutin malam ini sengaja kami menggelar istighatsah dan doa bersama untuk keluarga besar Pondok Pesantren Al-Khoziny, Buduran, Sidoarjo, sebagai bentuk kepedulian dan solidaritas atas musibah yang menimpa pesantren itu," kata Nur Fajri Alim.

Fajri menambahkan, "Istighatsah ini kami niatkan untuk mendoakan korban musibah reruntuhan Pondok Pesantren Al Khoziny Sidoarjo, dengan harapan agar para korban mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah SWT dan keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan." Suasana khidmat dan penuh haru menyelimuti ratusan jamaah yang hadir.

Kegiatan spiritual ini juga diharapkan dapat menumbuhkan semangat kebersamaan di tengah masyarakat. Majelis Shongai Barokah dikenal sebagai wadah sholawat, ngaji, dan santai barokah yang terbuka untuk umum, terus menebarkan nilai-nilai ke-Islam-an yang rahmatan lil ‘alamin.

Sejarah dan Warisan Pondok Pesantren Al-Khoziny

Kiai Istiqom Idris, penceramah di Majelis Shongai Barokah, menjelaskan pentingnya Pondok Pesantren Al-Khoziny. Menurutnya, pesantren yang terletak di Buduran, Sidoarjo, ini merupakan salah satu pesantren tertua di Nusantara.

Pondok Pesantren Al-Khoziny telah melahirkan banyak ulama dan wali besar sepanjang sejarahnya. "Kiai Khozin Sepuh, demikian masyarakat menyebutnya, merupakan menantu KH Ya’qub dan pernah menjadi pengasuh Pondok Pesantren Siwalanpanji pada periode ketiga," ujar Kiai Istiqom.

Banyak ulama besar yang menimba ilmu di Pondok Pesantren Siwalanpanji, yang memiliki kaitan erat dengan sejarah Al-Khoziny. Di antara mereka adalah KH M. Hasyim Asy’ari (Tebuireng, Jombang), KH Nasir (Bangkalan), KH Abdul Wahab Hasbullah (Tambakberas, Jombang), dan KH As’ad Syamsul Arifin (Situbondo).

Kiai Istiqom Idris melanjutkan, "Yang saya sebut di atas adalah para kiai dan para wali. Bahkan saat ini, pesantren tersebut bisa disebut sebagai pesantren para syuhada. Mari kita doakan semoga keluarga besar Pondok Pesantren Al-Khoziny diberikan ketabahan dan kekuatan dalam menghadapi ujian ini."

Dampak Musibah dan Gelombang Doa di Berbagai Wilayah

Musibah tragis menimpa Pondok Pesantren Al-Khoziny di Buduran, Sidoarjo, pada Senin (29/9) sekitar pukul 15.00 WIB. Bangunan tiga lantai pesantren runtuh saat ratusan santri sedang melaksanakan shalat Ashar di mushalla lantai satu.

Hingga Minggu (5/10), tim gabungan berhasil mengevakuasi 149 korban dari reruntuhan. Dari jumlah tersebut, 104 korban dinyatakan selamat, sementara 45 korban lainnya meninggal dunia, termasuk dua bagian tubuh yang tidak lengkap.

Tragedi ini memicu gelombang solidaritas dan doa dari berbagai penjuru. Selain di Pamekasan, istighatsah dan doa bersama untuk para korban Al-Khoziny juga digelar oleh Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Kantor Urusan Agama (KUA) Kabupaten Sampang.

Para santri pondok pesantren di Kabupaten Sumenep dan Bangkalan juga turut serta dalam kegiatan serupa. Hal ini menunjukkan betapa besar empati dan kepedulian masyarakat serta komunitas pesantren terhadap musibah yang menimpa Pondok Pesantren Al-Khoziny.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi