Fakta Unik: Bangunan Pesantren Banyak Berusia Tua, Menko PM Dorong Adaptasi Demi Keselamatan Bangunan Pesantren
Menteri Koordinator PM menyoroti kondisi bangunan pesantren yang banyak berusia tua dan rentan. Ia mendesak adaptasi untuk meningkatkan keselamatan bangunan pesantren, menyusul insiden robohnya bangunan di Sidoarjo.
Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat (Menko PM), Abdul Muhaimin Iskandar, mendesak seluruh pondok pesantren di Indonesia untuk lebih adaptif dalam menanggulangi potensi kerawanan pada bangunan mereka. Permintaan ini disampaikan di Jakarta pada Selasa (07/10), menyusul kekhawatiran akan kondisi fisik bangunan pesantren yang mayoritas telah berusia tua.
Koordinasi berkelanjutan menjadi kunci utama dalam upaya ini, bertujuan agar pesantren bersedia beradaptasi menghadapi ancaman yang mungkin timbul dari struktur fisik bangunan. Langkah ini dianggap krusial untuk menjamin keselamatan para santri dan mencegah terulangnya insiden tragis seperti gedung roboh yang menelan korban jiwa.
Pentingnya adaptasi ini semakin mengemuka setelah insiden ambruknya mushalla di lantai tiga Pondok Pesantren Al Khoziny, Sidoarjo, Jawa Timur, pada Senin (29/9) lalu. Kejadian tersebut menyoroti urgensi peninjauan dan perbaikan kondisi bangunan pesantren di seluruh wilayah Indonesia.
Kondisi Bangunan Pesantren yang Rentan
Abdul Muhaimin Iskandar mengungkapkan bahwa mayoritas pondok pesantren di Indonesia memiliki usia yang sangat tua, bahkan beberapa di antaranya telah berdiri sejak masa pra-kemerdekaan. Kondisi ini menyebabkan banyak bangunan pesantren tidak lagi kokoh dan rentan terhadap kerusakan.
Ia mencontohkan Pesantren Al Khoziny di Sidoarjo yang telah berdiri sejak masa pra-kemerdekaan, menunjukkan betapa tuanya umur bangunan tersebut. Usia yang sangat tua ini menjadi faktor utama kerawanan fisik yang perlu segera ditangani.
Di sisi lain, tidak semua pesantren memiliki sumber daya yang memadai atau pengetahuan yang cukup untuk melakukan rehabilitasi bangunan secara komprehensif. Umumnya, pesantren mengedepankan independensi dalam pengelolaan, yang seringkali berujung pada perbaikan bersifat tambal sulam.
Menko Muhaimin Iskandar menyatakan, “Sehingga, pesantren sering menggunakan cara tambal sulam dalam melaksanakan pembangunannya.” Praktik ini, meskipun bertujuan menjaga fungsionalitas, dapat memperburuk kondisi struktural bangunan dalam jangka panjang dan membahayakan keselamatan.
Pentingnya Koordinasi dan Adaptasi
Melihat kondisi tersebut, Menko PM menekankan perlunya koordinasi yang berkelanjutan dengan para pengelola pesantren. Tujuannya adalah mendorong mereka untuk lebih adaptif dalam memperbaiki bangunan yang sudah tua dan tidak lagi kokoh.
Langkah ini merupakan bagian dari upaya pemerintah untuk memastikan lingkungan belajar yang aman bagi santri. Koordinasi diharapkan dapat menjembatani kesenjangan informasi dan sumber daya yang mungkin dihadapi oleh pesantren.
Menko Muhaimin Iskandar juga menegaskan bahwa upaya ini mendapat dukungan penuh dari pucuk pimpinan negara. Ia menyampaikan, “Atas perintah Pak Presiden, saya akan terus mengambil langkah-langkah cepat, terutama memprioritaskan kepada pesantren-pesantren yang sangat rawan untuk segera kita tangani.”
Prioritas penanganan akan diberikan kepada pesantren-pesantren yang teridentifikasi memiliki tingkat kerawanan bangunan paling tinggi. Ini menunjukkan komitmen serius pemerintah dalam mengatasi masalah keselamatan bangunan pesantren.
Tragedi Pesantren Al Khoziny sebagai Peringatan
Insiden ambruknya mushalla di lantai tiga Pondok Pesantren Al Khoziny di Buduran, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, menjadi peringatan serius. Peristiwa ini terjadi pada Senin (29/9) saat mushalla tersebut tengah menjalani renovasi.
Saat kejadian, ratusan santri sedang melaksanakan shalat berjamaah dan dilaporkan terjebak di bawah puing-puing reruntuhan. Kejadian ini menimbulkan duka mendalam dan menyoroti pentingnya standar keselamatan bangunan.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) segera merespons insiden tersebut. Deputi Bidang Penanganan Darurat BNPB, Budi Irawan, memastikan bahwa seluruh jenazah korban reruntuhan telah berhasil ditemukan oleh tim SAR gabungan.
Total ada 63 jenazah berhasil dievakuasi dari lokasi kejadian, sebuah angka yang menunjukkan skala tragedi tersebut. Insiden ini menjadi momentum bagi semua pihak untuk lebih serius dalam memastikan keselamatan bangunan, khususnya di fasilitas pendidikan seperti pesantren.
Sumber: AntaraNews