Berkaca dari Tragedi Ponpes Al Khoziny Ambruk, Begini Langkah Berbenah Dilakukan Kemenag-Basarnas di Ponpes
Penyebab utama bangunan di pondok pesantren Al Khoziny ambruk adalah kegagalan konstruksi.
Kementerian Agama (Kemenag) dan Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) membahas langkah-langkah penguatan mitigasi risiko di lingkungan pesantren. Hal ini dilakukan usai tragedi pondok pesantren Al Khoziny, Sidoarjo, ambruk dan menelan korban jiwa.
Direktur Pesantren Kemenag, Basnang Said mengatakan, insiden pondok pesantren Al Khoziny menjadi pengingat untuk memprioritaskan keselamatan santri dan kelayakan bangunan dalam penyelenggaraan pendidikan pesantren. Basnang mengatakan Kemenag akan berkoordinasi dengan sejumlah kementerian untuk mencegah insiden kembali terulang.
"Kami sangat berduka atas musibah yang menimpa para santri di Sidoarjo. Namun, duka ini juga menjadi panggilan moral bagi kita untuk berbenah. Direktorat Pesantren akan memperkuat koordinasi lintas kementerian dan lembaga agar sistem keamanan dan mitigasi risiko di pesantren semakin kokoh," kata Basnang dikutip dari siaran pers Kemenag, Minggu (12/10).
Menurut dia, langkah awal ditempuh adalah membangun sistem mitigasi risiko di lingkungan pesantren. Mulai dari pendataan, pembinaan, dan peningkatan kapasitas kelembagaan.
"Kami ingin memastikan setiap satuan pendidikan keagamaan memiliki standar keamanan yang memadai, agar santri dapat belajar dan tinggal dengan aman," ujar Basnang.
Penyebab Ponpes Al Khoziny Ambruk
Sementara itu, Kepala Subdirektorat Pengerahan dan Pengendalian Operasi Bencana dan Kondisi Membahayakan Manusia Basarnas, Emi Freezer mengungkapkan bahwa penyebab utama bangunan di pondok pesantren Al Khoziny ambruk adalah kegagalan konstruksi.
"Tidak adanya struktur penyangga bertahap membuat bangunan runtuh total. Ini menjadi pembelajaran penting bagi kita semua bahwa gedung pendidikan, termasuk pesantren, harus memenuhi standar teknis dan keselamatan," tutur Emi.
Basarnas mencatat tragedi di Sidoarjo sebagai salah satu bencana non-alam terbesar tahun 2025. Adapun korban meninggal mencapai 67 santri.
"Kami siap memperkuat sinergi dengan Kemenag dan lembaga terkait untuk memastikan kesiapsiagaan serta penanggulangan risiko di pesantren dan lembaga pendidikan keagamaan lainnya," ujar dia.