Polres Metro Jakarta Utara Beri Trauma Healing Keluarga Usai Tragedi Pembunuhan Kakak Adik
Polres Metro Jakarta Utara memberikan Trauma Healing Keluarga kepada ibu korban dan pelaku pembunuhan kakak adik di Kelapa Gading untuk membantu menghadapi duka ganda.
Polres Metro Jakarta Utara memberikan layanan trauma healing atau penyembuhan trauma kepada ibu dari MAR (22), korban pembunuhan, dan MAH (16), pelaku pembunuhan. Insiden tragis ini terjadi di kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara, pada Selasa (24/2) sore. Upaya ini dilakukan untuk membantu sang ibu menghadapi guncangan emosional akibat kejadian menimpa kedua anak kandungnya.
Kasat Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Metro Jakarta Utara, Kompol Ni Luh Sri Arsin, menyatakan bahwa ibu korban masih dalam kondisi histeris saat pertama kali didatangi. Tim khusus dengan kemampuan trauma healing langsung mendatangi rumah untuk memberikan pendampingan psikologis. Pendampingan ini diharapkan dapat menenangkan kondisi kejiwaan sang ibu yang terguncang.
Layanan pemulihan trauma ini diberikan melalui metode hipnoterapi untuk menstabilkan emosi sang ibu. Pendampingan ini adalah bagian dari arahan Kapolres Metro Jakarta Utara Kombes Pol Erick Frendriz. Pihak kepolisian akan terus memantau dan melanjutkan layanan trauma healing sesuai kondisi kejiwaan ibu.
Penanganan Trauma Healing untuk Ibu Korban dan Pelaku
Kompol Ni Luh Sri Arsin menjelaskan bahwa kondisi ibu korban dan pelaku sangat berat untuk dihadapi. Oleh karena itu, tim PPA Polres Metro Jakarta Utara segera bertindak cepat memberikan dukungan psikologis. Mereka mendatangi langsung kediaman ibu dengan personel yang terlatih dalam pelayanan trauma healing.
Pada kunjungan awal, kondisi ibu sudah menunjukkan kestabilan meskipun sempat histeris. Selain memberikan hipnoterapi, tim juga mengambil keterangan dari sang ibu mengenai peristiwa tragis tersebut. Ini merupakan langkah awal dalam proses pemulihan dan pengumpulan informasi terkait kasus.
Ibu korban dan pelaku mengaku tidak pernah pilih kasih terhadap kedua anak kandungnya. Namun, terungkap bahwa MAH (pelaku) mendapatkan perhatian lebih karena menderita penyakit lambung. Sementara itu, MAR (korban) diketahui berkuliah di tiga tempat, yang membutuhkan biaya pendidikan lebih besar.
Pihak kepolisian berencana untuk terus melanjutkan sesi trauma healing ini. Mereka akan memantau perkembangan kondisi kejiwaan sang ibu secara berkala. Tujuannya adalah memastikan ibu mendapatkan dukungan penuh dalam menghadapi cobaan berat ini.
Kronologi dan Motif Pembunuhan Kakak Adik
Polres Metro Jakarta Utara sebelumnya telah mengungkap kronologi pembunuhan yang melibatkan kakak beradik ini. MAH (16) diduga memukul kepala kakaknya, MAR (22), berkali-kali menggunakan palu. Insiden fatal ini terjadi pada Selasa (24/2) sore di kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara.
Menurut Kompol Ni Luh Sri Arsin, pelaku MAH sangat emosi saat melakukan aksinya. Setelah MAR tersungkur, pelaku terus memukul kepala korban, bahkan sampai lima kali. Korban masih dalam keadaan hidup dan bersuara di lokasi kejadian, namun meninggal dunia dalam perjalanan menuju rumah sakit.
Motif di balik pembunuhan ini diduga kuat karena permasalahan keluarga dan rasa cemburu. Pelaku merasa kakaknya lebih diperhatikan oleh ibu mereka. "Apa yang diinginkan oleh kakaknya selalu dituruti oleh orang tuanya," terang Sri, menjelaskan kecemburuan yang dirasakan MAH.
Kecemburuan ini memicu konflik internal yang berujung pada tragedi. Dinamika keluarga yang tidak harmonis dan perasaan tidak adil menjadi pemicu utama. Kondisi ini menunjukkan kompleksitas masalah yang melatarbelakangi tindakan kekerasan tersebut.
Dinamika Komunikasi dan Perhatian Keluarga
Kompol Ni Luh Sri Arsin juga menyoroti buruknya komunikasi antara kedua anak tersebut. Ia menjelaskan bahwa kakak dan adik jarang berkomunikasi secara langsung. "Jika si abang ingin bicara dengan adik, melalui ibunya, dan begitu sebaliknya," jelas Sri.
Pola komunikasi tidak langsung ini menunjukkan adanya jarak emosional di antara keduanya. Ketergantungan pada ibu sebagai perantara komunikasi bisa menjadi salah satu faktor pemicu kesalahpahaman. Hal ini memperburuk ketegangan yang mungkin sudah ada dalam keluarga.
Meskipun ibu menyatakan tidak pilih kasih, perhatian lebih yang diberikan kepada MAH karena kondisi kesehatannya mungkin disalahartikan oleh MAR. Sementara itu, kebutuhan finansial MAR yang lebih besar untuk kuliah di tiga tempat juga menjadi beban tersendiri.
Tragedi ini menyoroti pentingnya komunikasi terbuka dan penanganan konflik dalam keluarga. Peran orang tua dalam menyeimbangkan perhatian dan kebutuhan setiap anak menjadi krusial. Kasus ini menjadi pelajaran berharga tentang dampak dari dinamika keluarga yang tidak sehat.
Sumber: AntaraNews