Pemprov Sumut Aktifkan Layanan Puspaga, Benteng Pencegah Kekerasan Perempuan dan Anak
Pemerintah Provinsi Sumatera Utara (Pemprov Sumut) gencar mengaktifkan Layanan Puspaga Sumut sebagai garda terdepan dalam mencegah dan menangani kekerasan terhadap perempuan dan anak, sekaligus membangun keluarga tangguh.
Pemerintah Provinsi Sumatera Utara (Pemprov Sumut) secara aktif terus mengoptimalkan peran Pusat Pembelajaran Keluarga (Puspaga) untuk memperkuat ketahanan keluarga. Inisiatif ini bertujuan utama untuk mencegah dan menangani kasus kekerasan yang menimpa perempuan dan anak di wilayah tersebut.
Layanan Puspaga menjadi fondasi penting dalam upaya mewujudkan keluarga yang tangguh dan sejahtera, sejalan dengan visi pembangunan daerah. Kepala Dinas P3AKB Sumut, Dwi Endah Purwanti, menekankan bahwa program ini merupakan bagian integral dari komitmen Pemprov dalam isu kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan.
Meskipun menghadapi berbagai tantangan, termasuk budaya patriarki dan keterbatasan anggaran, Puspaga tetap beroperasi maksimal. Program ini fokus pada peningkatan kapasitas orang tua dalam mengasuh, mendidik, serta melindungi anak, demi menciptakan lingkungan tumbuh kembang yang sehat.
Peran Strategis Puspaga dalam Pencegahan Kekerasan
Puspaga di Sumatera Utara memiliki peran krusial dalam upaya pencegahan dan penanganan kekerasan terhadap perempuan dan anak. Melalui layanan ini, keluarga didorong untuk memiliki ketahanan serta kekuatan dalam menghadapi berbagai persoalan hidup yang mungkin muncul.
Dwi Endah Purwanti menjelaskan bahwa Puspaga menyediakan layanan konsultasi dan konseling untuk berbagai persoalan keluarga, termasuk pola asuh anak. Edukasi parenting yang diberikan sangat penting agar orang tua mampu menciptakan lingkungan yang kondusif bagi tumbuh kembang anak.
Data dari Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (Simfoni PPA) menunjukkan bahwa hingga Oktober 2025, terdapat 1.444 kasus kekerasan perempuan dan anak di Sumut. Angka ini menegaskan urgensi keberadaan dan efektivitas Layanan Puspaga Sumut.
Meskipun program Puspaga berjalan dengan minim anggaran, Dwi Endah Purwanti menegaskan bahwa layanan tersebut tetap dapat berjalan maksimal. Hal ini menunjukkan komitmen kuat Pemprov Sumut dalam menjalankan program perlindungan ini.
Komitmen Pemprov Sumut dan Tantangan yang Dihadapi
Wakil Gubernur Sumut, Surya, sebelumnya telah menegaskan komitmen Pemprov Sumut dalam memperkuat perlindungan perempuan dan anak. Langkah konkret dilakukan melalui penandatanganan kesepakatan bersama Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA).
Kerja sama ini melibatkan lembaga pendidikan tinggi dan perguruan tinggi keagamaan Islam untuk mencegah serta menangani kekerasan perempuan dan anak di provinsi ini. Upaya kolaboratif ini diharapkan dapat memberikan dampak yang lebih luas dan efektif.
Pemprov Sumut berhasil menurunkan Indeks Ketimpangan Gender dari 0,425 menjadi 0,399 pada tahun 2024, sebuah pencapaian signifikan. Ini menunjukkan bahwa kebijakan sensitif gender dan peningkatan kesadaran publik mulai membuahkan hasil positif.
Namun, tantangan seperti budaya patriarki, kekerasan berbasis gender, kesenjangan digital, dan kurangnya representasi perempuan dalam pengambilan keputusan masih menjadi fokus. Untuk mengatasinya, Pemprov terus memperkuat kebijakan, meningkatkan kesadaran, dan memastikan akses perempuan terhadap pendidikan, pekerjaan, serta hak-hak lainnya.
Puspaga sebagai Bagian dari Visi Pembangunan Daerah
Pemberdayaan perempuan dan anak merupakan agenda strategis yang tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sumut 2025–2029. Ini adalah bagian dari misi kelima, yaitu memperkuat ketahanan sosial dan budaya masyarakat yang tangguh.
Layanan Puspaga Sumut secara langsung mendukung program prioritas kedua dari 17 program utama Pemprov Sumut, yakni Pemberdayaan Perempuan, Pemuda, dan Penyandang Disabilitas yang Berkarya dan Berprestasi.
Melalui program Puspaga, Pemprov Sumut berharap dapat mewujudkan kesetaraan gender dan pemenuhan hak anak dalam keluarga. Selain itu, program ini juga diharapkan mampu menekan angka perceraian serta berbagai persoalan keluarga lainnya yang seringkali muncul.
Pembangunan sumber daya manusia yang berkualitas harus dimulai dari unit terkecil, yaitu keluarga. Oleh karena itu, investasi dalam peningkatan kapasitas orang tua melalui Puspaga menjadi sangat vital untuk masa depan Sumatera Utara.
Sumber: AntaraNews