Lestari Moerdijat Dorong Penguatan Kesadaran Kesetaraan Gender Indonesia
Wakil Ketua MPR Lestari Moerdijat menyerukan penguatan kesadaran akan Kesetaraan Gender Indonesia dan percepatan keadilan serta kesempatan yang sama bagi perempuan, menyoroti tantangan dan data memprihatinkan.
Hari Perempuan Internasional yang diperingati setiap tanggal 8 Maret menjadi momentum penting untuk merefleksikan dan memperkuat komitmen terhadap isu-isu perempuan.
Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR), Lestari Moerdijat, menekankan pentingnya momen ini untuk meningkatkan kesadaran nasional akan Kesetaraan Gender Indonesia.
Ia juga menyerukan percepatan upaya untuk memastikan keadilan dan kesempatan yang setara bagi semua perempuan di berbagai sektor kehidupan.
Pentingnya Komitmen Bersama untuk Kesetaraan Gender
Menurut Lestari Moerdijat, kemajuan signifikan menuju Kesetaraan Gender Indonesia membutuhkan komitmen kuat dari seluruh lapisan masyarakat.
Dukungan ini harus datang dari berbagai sektor, didukung oleh kebijakan-kebijakan yang mampu menciptakan perubahan struktural.
“Komitmen terhadap keadilan dan kesetaraan bagi perempuan tidak dapat sepenuhnya terwujud tanpa dukungan dari semua pihak dan kebijakan yang mendorong perubahan struktural dalam masyarakat,” ujarnya di Jakarta.
Hal ini menunjukkan bahwa upaya kolektif adalah kunci untuk mencapai tujuan kesetaraan yang diidamkan.
Refleksi Hari Perempuan Internasional dan Tantangan yang Ada
Tema Hari Perempuan Internasional tahun ini, “Give to Gain,” menyoroti pentingnya kolaborasi, kemurahan hati, dan investasi sosial dalam memajukan Kesetaraan Gender Indonesia.
Peringatan ini, yang bertepatan dengan bulan suci Ramadan, juga menawarkan kesempatan untuk merenungkan nilai-nilai seperti empati, keadilan, dan solidaritas sosial.
Nilai-nilai tersebut sangat selaras dengan semangat kampanye global untuk mempromosikan hak-hak perempuan dan kesempatan yang setara.
Moerdijat mengingatkan bahwa perjuangan untuk Kesetaraan Gender Indonesia bukan hanya tanggung jawab pemerintah, melainkan memerlukan partisipasi seluruh elemen masyarakat.
Data Memprihatinkan dan Seruan Tindakan Nyata
Hari Perempuan Internasional juga menjadi pengingat akan tantangan berkelanjutan yang masih dihadapi perempuan di berbagai sektor.
Tantangan tersebut meliputi ekonomi, politik, dan perlindungan dari kekerasan, yang masih menjadi isu krusial.
Moerdijat mengutip Laporan Kesenjangan Gender Global 2025 dari World Economic Forum, yang menempatkan Indonesia di peringkat ke-97 dari 148 negara dengan skor kesetaraan gender 0,692.
Peringkat ini mencerminkan kesenjangan yang masih ada dalam partisipasi ekonomi, representasi politik, akses pendidikan, dan hasil kesehatan antara laki-laki dan perempuan.
Selain itu, Survei Pengalaman Hidup Perempuan Nasional (SPHPN) 2024 menunjukkan bahwa satu dari empat perempuan Indonesia berusia 15 hingga 64 tahun pernah mengalami kekerasan fisik atau seksual sepanjang hidupnya.
Data ini menyoroti bahwa Kesetaraan Gender Indonesia dan perlindungan perempuan tetap menjadi isu kritis yang membutuhkan perhatian lebih kuat dari pembuat kebijakan dan masyarakat.
Moerdijat berharap Hari Perempuan Internasional tahun ini dapat memperkuat kesadaran kolektif dan mendorong tindakan lebih konkret untuk mempromosikan keadilan dan kesetaraan bagi perempuan Indonesia.
Sumber: AntaraNews