IYCTC Soroti Strategi Rokok Sasar Perempuan, Ancam Kesehatan dan Ekonomi Keluarga
Di Hari Perempuan Internasional, IYCTC menyoroti strategi rokok sasar perempuan yang manipulatif, mengancam kesehatan dan memperburuk beban ekonomi domestik keluarga di Indonesia.
Pada peringatan Hari Perempuan Internasional, Indonesian Youth Council for Tactical Changes (IYCTC) menyoroti bahaya strategi manipulatif industri rokok yang secara khusus menargetkan perempuan. Mereka menekankan risiko kesehatan serius serta dampak buruk terhadap ekonomi keluarga yang ditimbulkan oleh praktik ini.
Program Manager IYCTC, Ni Made Shellasih, menjelaskan di Jakarta, Minggu, bahwa kemajuan perempuan terhambat oleh eksploitasi identitas mereka oleh industri rokok. Hal ini secara langsung memperburuk beban ekonomi domestik yang seringkali ditanggung oleh perempuan.
Modifikasi produk rokok, seperti penambahan aroma atau sensasi hisapan yang lebih halus, merupakan taktik pemasaran. Tujuannya adalah untuk memperluas pasar ke kelompok perempuan yang sebelumnya bukan perokok, menciptakan ilusi keamanan palsu.
Taktik Manipulatif Industri Rokok dan Dampaknya pada Perempuan
Industri rokok merancang produknya dengan sangat terencana untuk menarik konsumen perempuan. Mereka mengatur agar rokok terasa tidak tajam di tenggorokan atau menambahkan aroma tertentu. Ini menciptakan ilusi bahwa produk tersebut lebih aman dan mudah diterima oleh perempuan.
Menurut studi Carpenter et al. (2005) yang merujuk pada dokumen internal industri, parameter rokok dimodifikasi secara sengaja. Perubahan ini meliputi aroma, kadar nikotin, dan sensasi hisapan yang lebih halus, agar lebih mudah diterima oleh perempuan. Manipulasi ini berlanjut hingga ke ranah domestik, menggerogoti kesejahteraan keluarga.
Edginne Nadia dari Center for Indonesian Medical Students' Activities (CIMSA) memperingatkan tentang dampak biologis spesifik bagi perempuan. Paparan zat kimia dalam rokok yang didesain "halus" justru memungkinkan racun masuk lebih dalam ke sistem pernapasan dan peredaran darah. Ini meningkatkan risiko gangguan kesehatan yang serius.
Dampak spesifik tersebut mencakup gangguan siklus menstruasi, penurunan kesuburan, serta peningkatan risiko kanker serviks dan payudara. Selain itu, ada juga risiko pada kesehatan reproduksi seperti komplikasi kehamilan dan berat badan lahir rendah pada bayi.
Beban Ekonomi dan Kesehatan Akibat Rokok pada Keluarga
Data Badan Pusat Statistik (BPS) secara konsisten menunjukkan bahwa rokok merupakan pengeluaran terbesar kedua setelah beras di rumah tangga prasejahtera. Angka ini sangat menyakitkan, karena berarti hak nutrisi keluarga seringkali dikorbankan demi pembelian rokok.
Dengan fakta bahwa satu dari dua laki-laki di Indonesia adalah perokok, jutaan perempuan terjebak dalam posisi rentan. Mereka menjadi perokok pasif dengan risiko kesehatan tinggi, sekaligus berperan sebagai manajer krisis ekonomi di rumah. Anggaran belanja keluarga tersedot oleh produk berbahaya ini.
Fenomena ini menunjukkan bagaimana strategi rokok sasar perempuan tidak hanya berdampak langsung pada perokok aktif. Namun juga secara tidak langsung membebani perempuan sebagai perokok pasif dan pengelola keuangan rumah tangga. Hal ini menghambat upaya peningkatan kualitas hidup keluarga secara menyeluruh.
Mendesak Regulasi dan Kebijakan Fiskal yang Efektif
Tim Ahli Analisis Kebijakan IYCTC, Tifany Khalisa, menegaskan bahwa regulasi yang ada harus mampu melawan agresivitas industri rokok. Industri ini sudah lama memetakan perempuan sebagai target pasar utama mereka.
Meskipun Indonesia memiliki PP 28/2024 tentang Kesehatan, aturan turunannya masih memberikan celah pada penggunaan rasa (flavor) atau iklan yang mengaitkan rokok dengan gaya hidup modern perempuan. Ini membuat regulasi tersebut belum efektif melindungi perempuan dari taktik industri yang matang.
Tifany juga menekankan pentingnya instrumen fiskal untuk melindungi kesejahteraan perempuan di level mikro. Menurut Undang-Undang Cukai Tahun 2007, fungsi utama cukai adalah pengendalian konsumsi produk berdampak negatif luas. Rokok adalah contoh nyata produk yang merugikan dan membebani negara.
Oleh karena itu, kenaikan Cukai Hasil Tembakau (CHT) yang signifikan sangat mendesak agar harga rokok menjadi mahal. Ini akan membuat anak-anak dan masyarakat prasejahtera tidak mudah mengakses rokok. Dana yang terselamatkan dapat dialihkan untuk kebutuhan penting seperti pendidikan dan nutrisi keluarga.
Sumber: AntaraNews