Pemkab Bandung Tegaskan Kolaborasi Pentahelix Solusi Efektif Atasi Bencana
Pemerintah Kabupaten Bandung menegaskan pentingnya kolaborasi Pentahelix sebagai langkah strategis untuk mengentaskan berbagai permasalahan bencana, termasuk banjir dan longsor, demi melindungi masyarakat di wilayahnya.
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bandung, Jawa Barat, secara tegas menyatakan bahwa kolaborasi Pentahelix merupakan langkah krusial dalam mengatasi berbagai permasalahan bencana yang kerap melanda wilayahnya. Pernyataan ini disampaikan menyusul serangkaian bencana banjir dan longsor yang terjadi di beberapa kecamatan, menyebabkan ribuan warga terdampak dan harus dievakuasi. Pendekatan Pentahelix diharapkan mampu menyatukan berbagai elemen untuk mencari solusi terbaik.
Wakil Bupati Bandung, Ali Sakieb, pada Sabtu (6/12), menegaskan komitmen Pemkab Bandung untuk senantiasa mencari upaya terbaik dalam melindungi masyarakat dari ancaman bencana. "Pemerintah Kabupaten Bandung akan terus mencari solusi terbaik untuk melindungi masyarakat. Salah satunya ke depannya kita akan lakukan kolaborasi pentahelix," ujarnya, menyoroti pentingnya sinergi antara pemerintah, akademisi, bisnis, komunitas, dan media.
Lebih lanjut, Ali Sakieb juga memberikan peringatan keras kepada aparat, masyarakat, serta para pemangku kepentingan untuk tidak mengabaikan aturan tata ruang wilayah. Pelanggaran tata ruang disebut sebagai salah satu pemicu bencana yang dapat berdampak serius. "Ini adalah peringatan bagi kita semua. Jangan main-main dengan tata ruang karena alam akan membalas apa yang kita semua lakukan," tambahnya, menekankan konsekuensi dari tindakan yang tidak bertanggung jawab terhadap lingkungan.
Kolaborasi Pentahelix dan Penataan Tata Ruang
Pemkab Bandung melihat model kolaborasi Pentahelix sebagai fondasi utama dalam upaya mitigasi dan penanggulangan bencana yang komprehensif. Pendekatan ini memungkinkan adanya pertukaran ide, sumber daya, dan keahlian dari berbagai sektor untuk menciptakan solusi yang berkelanjutan. Keterlibatan aktif dari seluruh pemangku kepentingan diharapkan dapat mempercepat pemulihan pascabencana dan membangun ketahanan wilayah.
Selain itu, penegasan mengenai pentingnya tata ruang yang benar menjadi sorotan utama dalam upaya pencegahan bencana. Wakil Bupati Ali Sakieb menekankan bahwa perencanaan tata ruang yang tidak sesuai dapat memperparah dampak bencana, seperti banjir dan longsor. Oleh karena itu, semua pihak diimbau untuk mematuhi regulasi yang ada guna meminimalisir risiko dan menjaga keseimbangan alam.
Edukasi dan sosialisasi mengenai pentingnya menjaga lingkungan serta mematuhi aturan tata ruang juga akan terus digalakkan. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan dampak buruk dari pembangunan yang tidak terencana. Dengan demikian, kolaborasi Pentahelix tidak hanya berfokus pada penanganan darurat, tetapi juga pada pencegahan jangka panjang melalui pengelolaan lingkungan yang bertanggung jawab.
Dampak Bencana Banjir dan Longsor di Kabupaten Bandung
Bencana banjir yang melanda Kabupaten Bandung sejak Kamis (4/12) malam akibat curah hujan tinggi telah menyebabkan dampak signifikan di beberapa wilayah. Hingga Sabtu pagi, kondisi banjir di beberapa titik di Dayeuhkolot masih relatif tinggi, berkisar antara 10 hingga 150 sentimeter. Beberapa ruas jalan vital, seperti depan Metro Garmen, Pasar Dayeuhkolot, dan Jalan Cipurut, terputus aksesnya baik untuk kendaraan roda dua maupun roda empat karena genangan air mencapai pinggang orang dewasa.
Data menunjukkan bahwa tiga kecamatan terdampak parah oleh banjir, yaitu Dayeuhkolot dengan sekitar 25.918 jiwa, Baleendah dengan 5.579 jiwa, dan Bojongsoang dengan sekitar 3.000 jiwa. Akibat kondisi ini, sebanyak 162 kepala keluarga (KK) atau sekitar 457 jiwa terpaksa dievakuasi ke tempat pengungsian untuk menyelamatkan diri dari ancaman banjir yang terus meningkat.
Tidak hanya banjir, Kabupaten Bandung juga dilanda bencana longsor di beberapa titik, termasuk Pangalengan, Panyirapan, Cangkuang, Cimaung, dan Arjasari. Insiden longsor di Arjasari pada Jumat (5/12) sore menyebabkan 100 KK harus dievakuasi dan beberapa warga dilaporkan hilang. Kondisi ini menunjukkan kerentanan wilayah terhadap berbagai jenis bencana alam dan mendesaknya implementasi solusi terpadu.
Sumber: AntaraNews