Pemkab Bandung Klaim Luas Wilayah Terdampak Banjir Bandung Menyusut Drastis Berkat Intervensi Pusat

Pemerintah Kabupaten Bandung melaporkan penurunan signifikan luas wilayah terdampak banjir Bandung berkat program Citarum Harum. Namun, sedimentasi sungai dan curah hujan tinggi menjadi tantangan baru yang harus diatasi bersama.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Pemkab Bandung Klaim Luas Wilayah Terdampak Banjir Bandung Menyusut Drastis Berkat Intervensi Pusat
Pemerintah Kabupaten Bandung melaporkan penurunan signifikan luas wilayah terdampak banjir Bandung berkat program Citarum Harum. Namun, sedimentasi sungai dan curah hujan tinggi menjadi tantangan baru yang harus diatasi bersama. (AntaraNews)

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bandung, Jawa Barat, melaporkan bahwa luas wilayah yang terdampak banjir Bandung di kawasan Cekungan Bandung terus mengalami penurunan signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Penurunan ini menjadi indikasi positif dari upaya penanganan banjir yang telah dilakukan secara intensif dan berkelanjutan. Bupati Bandung Dadang Supriatna menyampaikan informasi penting ini di Bandung pada hari Senin.

Dadang Supriatna menjelaskan bahwa intervensi dari pemerintah pusat melalui program Citarum Harum telah memberikan hasil yang sangat signifikan. Program ini berhasil mengurangi area genangan banjir Bandung secara drastis. Sebelumnya, luas area terdampak mencapai angka 4.000 hektare.

Kini, luas wilayah terdampak banjir Bandung diperkirakan hanya sekitar 1.500 hektare, sebuah pencapaian yang patut diapresiasi. Meskipun demikian, masih ada sejumlah pekerjaan rumah yang memerlukan penyelesaian bersama lintas sektor. Hal ini menunjukkan bahwa penanganan banjir adalah tanggung jawab kolektif seluruh pihak terkait.

Bupati Dadang Supriatna menyoroti peran krusial program Citarum Harum dalam mengurangi dampak banjir Bandung di Kabupaten Bandung. Program ini telah mengubah lanskap penanganan banjir di wilayah tersebut secara fundamental. Dari 4.000 hektare, kini area terdampak menyusut menjadi sekitar 1.500 hektare, menunjukkan efektivitas program.

Penurunan luas genangan ini merupakan capaian penting yang patut diapresiasi oleh berbagai pihak. Namun, Dadang juga mengungkapkan adanya tantangan baru yang muncul seiring berjalannya waktu. Kondisi sedimentasi sungai terus meningkat dan menjadi masalah serius yang perlu segera ditangani.

Sedimentasi yang tinggi ini terjadi karena kurangnya pemeliharaan atau maintenance sungai secara berkala dan komprehensif. Akibatnya, meskipun luas genangan berkurang, potensi banjir Bandung tetap ada saat curah hujan tinggi. Ini menjadi pekerjaan rumah besar bagi pemerintah daerah dan pusat dalam upaya mitigasi bencana.

Selain faktor teknis seperti sedimentasi, tingginya curah hujan juga berkontribusi pada fluktuasi durasi dan intensitas banjir Bandung. Dadang Supriatna menjelaskan bahwa durasi banjir kini lebih singkat dibandingkan sebelumnya. Dulu, genangan bisa mencapai satu bulan bahkan dua minggu.

Saat ini, durasi banjir bisa hanya satu minggu, bahkan pernah hanya dua hari pada tahun sebelumnya, menunjukkan perbaikan signifikan. Namun, saat curah hujan sangat tinggi, durasi dan intensitas banjir dapat melonjak kembali dengan cepat. Ini menunjukkan kerentanan wilayah terhadap kondisi cuaca ekstrem yang semakin tidak menentu.

Dadang menegaskan bahwa persoalan banjir Bandung tidak bisa diselesaikan hanya oleh pemerintah semata. Keterlibatan aktif seluruh elemen masyarakat sangat dibutuhkan, terutama dalam pengelolaan sampah yang inovatif. Sampah yang menumpuk di sungai memperparah sedimentasi dan menghambat aliran air.

Pemerintah daerah berkomitmen untuk terus memprioritaskan penanganan banjir secara berkelanjutan melalui sinergi dengan pemerintah pusat. Partisipasi masyarakat menjadi kunci utama keberhasilan upaya ini. Diharapkan, langkah-langkah komprehensif ini dapat mengurangi risiko banjir Bandung secara signifikan di masa mendatang.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi