Kisah Haru Orang Tua Santri Ponpes Al Khoziny, 2 Anak Selamat dari Musala Runtuh
Kejadian ambruknya bangunan di Ponpes Al-Khoziny, Buduran, Sidoarjo, yang merenggut banyak nyawa, meninggalkan kesedihan yang mendalam bagi orang tua santri.
Tragedi ambruknya bangunan di Ponpes Al-Khoziny, Buduran, Sidoarjo, telah menyebabkan banyak korban jiwa dan menyisakan duka yang mendalam bagi orang tua santri.
Salah satu orang tua tersebut adalah Ahmad Zabidi, warga Surabaya, yang dua anaknya juga terdaftar sebagai santri di ponpes tersebut.
Beruntung bagi Zabidi, kedua anaknya selamat dari kejadian tragis ini. Ia menceritakan bahwa saat musala ambruk, anaknya Zidan sedang melaksanakan salat di musala lama.
Zidan sempat berlari ketika reruntuhan menghantam dan mengira bahwa terjadi gempa, hingga terjebak di bawah bangunan yang runtuh.
“Anak saya yang Zidan itu tidak bisa keluar, lalu dibuatkan lubang untuk jalan keluar oleh beberapa santri lainnya. Zidan pun selamat,” ungkap Zabidi pada Sabtu (4/10) dikutip dari Liputan6.com.
Menariknya, sebelum berhasil menyelamatkan diri, Zidan juga berusaha membantu santri lain yang terjebak di bawah reruntuhan. Namun, setelah berhasil membantu lima santri, Zidan merasa perlu untuk pergi karena khawatir ada bangunan lain yang akan roboh.
“Jadi anak saya minta maaf ke teman-temannya. Dia bilang, Sepurane Yo, Rek. Aku wes ga isoh nolong (maaf ya, aku tidak bisa menolong lagi),” jelas Zabidi menirukan ucapan anaknya.
Sementara itu, anak Zabidi yang lain, Muhammad Ubaid Hamdani, berusia 18 tahun, juga mengalami momen yang menegangkan. Sebelum tragedi terjadi, Ubaid sempat membantu proses pengecoran musala yang ambruk tersebut.
Setelah mendengar adzan, Ubaid turun dari lantai tiga untuk beristirahat. Saat itulah, bangunan tiba-tiba ambruk, tetapi ia berhasil lolos dari maut.
Mengenai anaknya yang ikut serta dalam pengecoran, Ahmad Zabidi tidak merasa keberatan. Ia menganggapnya sebagai ladang pahala dan berkah, mengingat dirinya juga pernah mondok dan ikut membantu dalam pembangunan gedung pondok saat kecil.
“Enggak masalah, itu ladang pahala. Toh, yang ikut membantu ngecor itu enggak semua. Kalau masih kecil-kecil ya enggak boleh,” tutup Zabidi.
Orang Tua Tak Trauma
Setelah bangunan pondok pesantren Al Khoziny di Buduran, Sidoarjo roboh, Zabidi menyatakan bahwa dirinya tidak merasakan trauma.
"Jujur saja saya ingin mengembalikan dua anak saya ke pondok jika aktivitas pondok Al Khoziny sudah kembali normal," katanya.
Ia meyakinkan kedua anaknya bahwa pondok pesantren yang akan merayakan ulang tahun ke-100 tahun depan ini adalah tempat yang baik.
"Saya memberikan pemahaman kepada kedua anak saya tentang lulusan pondok Al Khoziny yang berhasil, dan bahkan pernah ada para kiai besar yang belajar di sana, seperti Kiai Hasyim Asy'ari dan Kiai Abdul Wahab Chasbullah, yang dikenal sebagai Pondok Buduran," ujarnya.
Selain itu, Zabidi juga menjelaskan kepada anak-anaknya bahwa pondok pesantren ini adalah tempat resolusi jihad di wilayah Sidoarjo sebelum para santri dan ulama berpartisipasi dalam perang 10 November di Surabaya.
Dengan demikian, ia berharap anak-anaknya memahami sejarah dan nilai-nilai yang diajarkan di pondok tersebut.