Seorang santri bernama Adam berhasil selamat dari insiden runtuhnya bangunan Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Khoziny, Buduran, Sidoarjo, Jawa Timur, Senin (29/9) sekitar pukul 15.35 WIB. Bangunan lima lantai (sebelumnya disebut empat lantai) yang tengah dalam proses pembangunan tersebut roboh saat para santri dan pengurus sedang melaksanakan salat berjamaah.
Cerita ini disampaikan oleh Rudy, kakak Adam yang juga alumni ponpes. Menurut keterangan sang adik yang sempat disampaikan padanya, suara retakan terdengar saat rakaat kedua sebelum bangunan tiba-tiba ambruk. "Alhamdulillah adik saya selamat," ujarnya.
Ia menyebut, sang adik selamat karena sempat lari dari reruntuhan bangunan. Saat itu, posisi sang adik disebut berada di barisan pinggir. Sehingga, saat bangunan ambruk, adiknya sempat lari menghindari reruntuhan. "Sempat lari menghindar tadi," tukasnya.
Bangunan yang runtuh merupakan proyek perluasan masjid di lingkungan ponpes. Lantai pertama difungsikan sebagai musala harian. Sebelumnya, area tersebut hanya terdiri dari musala kecil dan lapangan.
Advertisement
Santri lain, Muhammad Zahrowi, mengaku sempat mengira suara keras berasal dari kereta api. "Ternyata bangunan yang ambruk," katanya.
Hingga Senin malam, tim SAR gabungan dari Basarnas, BPBD, TNI, Polri, dan relawan masih melakukan pencarian karena dikhawatirkan masih banyak korban tertimbun. Jumlah pasti korban luka maupun yang belum ditemukan belum dapat dipastikan.
Sejumlah alat berat pun tampak dikerahkan untuk turut melakukan proses evakuasi atas reruntuhan bangunan Ponpes Al-Khoziny.
Pihak berwenang belum memberikan keterangan resmi terkait penyebab runtuhnya bangunan. Proses evakuasi hingga kini masih berlangsung.
Advertisement
Upaya penyelamatan terus dilakukan di Pondok Pesantren Al-Khoziny, Buduran, Sidoarjo, setelah bangunan ambruk pada Senin (29/9) sekitar pukul 15.35 WIB. Dalam proses evakuasi, tim SAR gabungan menemukan indikasi adanya dua santri yang masih hidup di bawah puing-puing bangunan.
Kepala Kantor SAR Surabaya, Nanang Sigit menjelaskan bahwa sinyal tersebut terdeteksi saat tim pertama melakukan peninjauan awal di lokasi kejadian. "Kami menemukan tanda-tanda keberadaan dua korban yang masih selamat," ujarnya.
Bangunan yang runtuh diketahui sedang dalam tahap pengecoran lantai atas sejak pagi hari. Dugaan sementara menyebutkan bahwa struktur pondasi tidak mampu menahan beban tambahan, sehingga menyebabkan keruntuhan dari lantai empat hingga ke dasar.
Sebanyak dua tim dari Basarnas Surabaya, berjumlah total 13 personel, telah diterjunkan ke lokasi. Tim kedua membawa peralatan ekstrikasi untuk membuka akses menuju titik-titik yang tertutup reruntuhan.
"Jumlah pasti korban masih belum bisa dipastikan," tambah Nanang.
Hingga malam ini, tim SAR gabungan masih berupaya membuka jalur menuju lokasi para santri yang tertimpa bangunan saat sedang melaksanakan ibadah di lantai bawah.