Analisis Pakar ITS Ungkap Ponpes Al Khoziny Sidoarjo Ambruk karena Kegagalan Struktur
Muji Himawan, seorang pakar konstruksi dari Departemen Teknik Sipil ITS, menganalisis penyebab ambruknya bangunan empat lantai di Ponpes Al Khoziny, Sidoarjo.
Pakar Konstruksi dari Departemen Teknik Sipil Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Muji Himawan, menyatakan bahwa ambruknya bangunan musala Pondok Pesantren Al Khoziny yang terletak di Buduran, Sidoarjo, Jawa Timur, menunjukkan adanya kegagalan pada struktur bangunan tersebut. Muji menegaskan bahwa tim ahli dari ITS turut mendukung upaya evakuasi korban di bawah komando Basarnas. Saat ini, perhatian utama adalah menembus reruntuhan guna mencapai korban yang terjebak di dalamnya.
"Kalau fasenya sudah bergeser ke tahap berikutnya, kami akan meng-assist proses pengangkatan elemen-elemen struktur, baik balok, beton, maupun plat, yang runtuh hingga ke lantai dasar," ujar Muji, Rabu (1/10).
Menurut Muji, kondisi bangunan yang ambruk sangat rumit, karena terdapat empat lapis lantai yang runtuh dan saling menimpa. Hal ini membuat tim SAR kesulitan dalam menembus lokasi korban.
"Intinya, elemen strukturnya sudah hancur semua kolom, balok, maupun plat. Proses evakuasi tidak boleh dilakukan sembarangan karena sebagian elemen masih menempel pada bangunan di samping," tambah Muji.
Muji juga mengungkapkan bahwa ada bagian struktur yang masih terhubung dengan gedung sebelah, meskipun tidak sampai menyebabkan keruntuhan susulan. Namun, hal ini tetap perlu diwaspadai agar upaya penyelamatan korban tidak menimbulkan bencana baru.
"Kami harus pastikan gedung di sekitar aman. Puing-puing akan diangkat piece by piece, dengan teknik yang tepat dan kapasitas maksimal satu ton. Tidak boleh ditarik sembarangan," tegas Muji.
Dari perspektif keilmuan, Muji memastikan bahwa penyebab musala ponpes ambruk adalah kegagalan struktur secara total, meskipun rincian penyebabnya belum dapat dipastikan.
"Kerusakan ini bukan parsial, tapi menyeluruh. Semua elemen strukturnya gagal. Namun, soal kenapa itu bisa terjadi, nanti butuh penelitian lebih lanjut. Saat ini kami fokus pada penyelamatan korban," ujar Muji.
Banyak Santri Masih Terjebak
Tim gabungan terus berupaya melakukan evakuasi terhadap para korban yang tertimbun akibat ambruknya musala di Ponpes Al Khoziny, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, hingga Selasa (30/9/2025) pukul 19.00 WIB. "Berdasarkan data absensi santri, sebanyak 91 orang diduga masih tertimbun material bangunan," ungkap Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, pada Rabu (1/10/2025).
Abdul menjelaskan bahwa pihaknya telah menerjunkan 332 personel SAR gabungan yang terdiri dari Basarnas, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Timur, dan BPBD Kabupaten Sidoarjo. "BPBD dari kabupaten sekitar seperti Jombang, Mojokerto, dan Nganjuk, Dinas PU SDA Provinsi, Tagana Dinas Sosial, serta aparat TNI dan Polri juga telah dikerahkan dengan metode kerja bergantian untuk menjaga ketahanan tim," tambahnya.
Dia juga menambahkan bahwa peralatan berat telah disiapkan, tetapi penggunaannya belum dapat dilakukan karena khawatir getaran dari alat tersebut dapat memperburuk kondisi reruntuhan. "Saat ini, fokus penyelamatan dilakukan secara manual dengan menggali lubang dan celah untuk mengevakuasi korban yang masih hidup," jelas Abdul.
Tim SAR gabungan telah mendeteksi indikasi adanya enam orang korban yang masih bertahan di salah satu segmen reruntuhan. "Melalui celah yang ada, petugas telah menyalurkan makanan dan minuman untuk menjaga kondisi para korban," ujarnya. Proses evakuasi juga menunggu hasil asesmen dari pihak berwenang di bawah komando Basarnas.
Abdul menambahkan, "Jika hasil asesmen menyatakan tidak ada lagi korban yang masih hidup, tahap selanjutnya akan dilakukan dengan menggunakan alat berat untuk mengevakuasi korban meninggal dunia yang masih tertimbun." Sementara itu, tim juga sedang merumuskan langkah teknis bersama ahli konstruksi untuk membersihkan puing pada jalur evakuasi secara aman tanpa memicu reruntuhan susulan," imbuhnya.
Data Korban
Data terbaru per hari Sabtu (30/9) pukul 19.00 WIB menunjukkan bahwa sebanyak 100 orang terdampak akibat kejadian ini. Dari total tersebut, 26 orang masih menjalani perawatan di rumah sakit, sedangkan 70 orang sudah diperbolehkan pulang. Tiga orang dilaporkan meninggal dunia dan satu pasien dirujuk ke rumah sakit di Mojokerto. "Sejumlah fasilitas kesehatan telah ditunjuk sebagai rujukan utama untuk penanganan korban, di antaranya RSUD RT Notopuro, RS Siti Hajjar, RS Delta Surya, RS Sheila Medika, dan RS Unair," ungkap Abdul.
Rincian lebih lanjut menunjukkan bahwa RSUD RT Notopuro merawat 40 pasien, dengan delapan di antaranya dirawat inap dan dua pasien dilaporkan meninggal dunia. Sementara itu, RS Siti Hajjar menangani 52 pasien, di mana 11 pasien dirawat inap, satu meninggal dunia, dan satu pasien dirujuk. "Selanjutnya, RS Delta Surya merawat enam pasien rawat inap, RS Sheila Medika menangani satu pasien yang sudah diperbolehkan pulang, dan RS Unair merawat satu pasien rawat inap," jelas Abdul. "Perkembangan penanganan darurat di lapangan akan terus diperbarui dan dilaporkan secara berkala seiring dengan upaya yang dilakukan oleh pihak-pihak terkait," tambahnya.