Menyusul insiden ambruknya bangunan Pondok Pesantren Al Khoziny di Buduran, Sidoarjo, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya membuka layanan konsultasi teknis gratis bagi masyarakat yang tengah merencanakan pembangunan gedung, terutama lembaga pendidikan dan pesantren.
Pakar teknik sipil ITS, Mudji Irmawan menegaskan pentingnya kolaborasi antara perguruan tinggi dan masyarakat untuk mencegah kegagalan struktur bangunan. Menurutnya, banyak kasus ambruknya bangunan di Indonesia disebabkan oleh kelalaian dalam proses konstruksi, mulai dari lemahnya sambungan elemen hingga kurangnya pengawasan teknis.
“Setiap pembangunan, apalagi yang bertingkat, harus melibatkan tenaga ahli sejak tahap perencanaan. Kami di ITS siap mendampingi masyarakat secara teknis tanpa biaya, demi keselamatan bersama,” ujar Mudji.
Advertisement
Waspada “Gedung Tumbuh” dan Abaikan Evaluasi Struktur
Mudji menyoroti fenomena “gedung tumbuh”, yakni bangunan yang ditambah lantai tanpa perhitungan ulang struktur, sebagai salah satu penyebab utama ambruknya bangunan.
“Penambahan lantai harus disertai evaluasi ulang terhadap kekuatan kolom dan balok, karena beban vertikal akan meningkat signifikan,” jelasnya.
Ia juga merekomendasikan penerapan Standar Nasional Indonesia (SNI) 2847 tentang beton bertulang, yang mengatur batas kekuatan material dan margin keamanan terhadap variasi mutu di lapangan.
“Jika standar ini diterapkan secara disiplin, potensi kegagalan bisa ditekan seminimal mungkin,” ujarnya.
Advertisement
Legalitas dan Tanggung Jawab Hukum Bangunan
Tak hanya soal teknis, ITS juga mendorong masyarakat untuk mematuhi aspek legal pembangunan seperti Persetujuan Bangunan Gedung (PBG). Menurut Mudji, perizinan bukan sekadar formalitas, melainkan bentuk tanggung jawab hukum untuk memastikan bangunan telah diverifikasi oleh pihak berwenang.
“Keselamatan harus menjadi prioritas utama, bukan pelengkap,” tegasnya.
Advertisement
Bagian dari Pengabdian dan Dukungan SDGs
Program konsultasi gratis ini menjadi bagian dari pengabdian masyarakat ITS, sekaligus mendukung target Sustainable Development Goals (SDGs), terutama poin 9 (Infrastruktur dan Inovasi), poin 11 (Kota dan Permukiman Berkelanjutan), serta poin 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan).
“Kami ingin memastikan setiap bangunan yang berdiri di tengah masyarakat benar-benar aman dan layak huni,” pungkas Mudji.