Bangunan Ponpes Al Khoziny Ambruk Saat Pengecoran, Pengasuh Ungkap Kronologi
KH Abdus Salam memastikan bangunan tersebut belum ditempati santri lantaran masih tahap pembangunan.
Pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Al Khoziny, Sidoarjo, KH Abdus Salam Mujib, akhirnya angkat bicara terkait insiden robohnya bangunan bertingkat di kompleks ponpesnya pada Senin (29/9). Ia menjelaskan, musibah tersebut terjadi saat proses pengecoran lantai paling atas tengah berlangsung.
“Pengecoran itu dimulai sejak pagi dan selesai sekitar pukul 12 siang. Jadi ini pengecoran yang terakhir saja,” jelasnya.
KH Abdus Salam memastikan bangunan tersebut belum ditempati santri lantaran masih tahap pembangunan.
"Bangunan baru tiga lantai, rencana nanti sampai empat lantai dengan atap dak. Lantai bawah memang sudah dipakai untuk sholat, tapi lantai atas masih kosong,” ungkapnya.
Meski begitu, saat insiden terjadi disebutkan ada jemaah Salat Asar di lantai dasar bangunan tersebut. Namun KH Abdus Salam mengaku tidak mengetahui jumlah pastinya.
“Saya tidak tahu persis, mungkin ratusan. Waktu itu saya juga tidak sedang di lokasi,” katanya.
KH Abdus Salam mengaku pembangunan gedung dikerjakan secara bertahap.
"Bagian atas bangunan rencananya akan digunakan untuk ruang kelas dan kegiatan santri, sementara lantai bawah sudah difungsikan sebagai musala," jelasnya.
Ketika ditanya mengenai penyebab ambruknya bangunan, KH Abdus Salam menduga penopang pengecoran tidak kuat menahan beban.
“Sepertinya penopang cor itu tidak pas, sehingga ambruk ke bawah,” jelasnya.
Meski begitu, ia menekankan bahwa musibah ini harus diterima dengan penuh kesabaran.
“Saya kira memang ini takdir dari Allah. Jadi semuanya harus bisa bersabar dan mudah-mudahan diberi ganti oleh Allah yang lebih baik, serta dibalas dengan pahala,” ucap KH Abdus Salam.
Sementara itu, update jumlah korban dalam insiden tersebut kini total menjadi 100 orang santri. 99 orang dinyatakan selamat dan satu orang disebut meninggal dunia akibat kejadian tersebut.
Kepala Kantor SAR Kelas A Surabaya, Nanang Sigit, selaku SAR Mission Coordinator, menyampaikan bahwa delapan korban berhasil dievakuasi langsung dari reruntuhan dalam kondisi selamat. Tujuh di antaranya ditemukan pada Senin malam (29/9), sementara satu korban terakhir dievakuasi pada Selasa dini hari pukul 01.58 WIB.
“Meski menghadapi kondisi reruntuhan bangunan yang tidak stabil dan banyaknya material di lokasi, tim SAR tetap berupaya mengevakuasi korban dengan mengutamakan keselamatan,” kata Nanang.
Delapan korban yang dievakuasi dari reruntuhan telah dibawa ke sejumlah rumah sakit di Sidoarjo, antara lain RSUD Notopuro, RS Delta Surya, dan RSI Siti Hajar, untuk mendapatkan perawatan medis.
Berdasarkan data sementara, total korban dalam insiden ini mencapai 100 orang. Sebanyak 99 orang berhasil diselamatkan, terdiri dari 91 santri yang melakukan evakuasi mandiri dan 8 orang yang dievakuasi oleh tim SAR. Satu orang dilaporkan meninggal dunia.
Operasi SAR melibatkan ratusan personel dari berbagai instansi, termasuk BPBD Jawa Timur, BPBD kabupaten/kota sekitar, TNI, Polri, PMI, Damkar, serta puluhan organisasi relawan seperti SAR MTA, LPBI NU, IOF Rescue, dan lainnya. Tim dilengkapi dengan peralatan ekstrikasi, SCBA, perlengkapan medis, dan alat pendukung lainnya.
Hingga berita ini diturunkan, proses evakuasi dan pencarian korban masih berlangsung di lokasi kejadian.