PBNU Ingatkan Pesantren: Bukan Sekadar Untung, Fokus Khidmat dan Tradisi Gotong Royong Santri
Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf menegaskan **PBNU Ingatkan Pesantren** agar berorientasi pada khidmat dan pelayanan, bukan keuntungan, menanggapi isu eksploitasi santri.
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Yahya Cholil Staquf, baru-baru ini menegaskan peran fundamental pesantren di Indonesia. Ia mengingatkan bahwa lembaga pendidikan Islam ini seharusnya tidak berorientasi pada keuntungan semata. Pernyataan ini disampaikan di Jakarta pada Jumat, 10 Oktober, menyoroti esensi sejati dari keberadaan pesantren.
Menurut Yahya, pesantren didirikan sebagai wadah khidmat atau pengabdian dan pelayanan kepada masyarakat. Keberadaannya bersifat non-profit, disediakan secara ikhlas untuk memberikan kesempatan belajar bagi anak-anak. Hal ini bertujuan untuk memastikan fokus utama tetap pada pendidikan dan pembentukan karakter santri.
Penegasan ini muncul di tengah diskusi publik mengenai isu eksploitasi santri di beberapa pondok pesantren. PBNU ingin meluruskan persepsi dan mengembalikan pemahaman tentang tradisi luhur yang melekat pada sistem pendidikan pesantren. Fokus pada khidmat menjadi pijakan utama dalam menjalankan operasional pesantren.
Esensi Khidmat dan Tradisi Pesantren
Yahya Cholil Staquf menjelaskan bahwa pesantren memiliki tradisi yang kaya, melampaui sekadar menuntut ilmu. Lembaga ini juga melatih para santri untuk membersihkan jiwa dan memberikan pelayanan dengan niat tulus. Ini adalah bagian integral dari pendidikan karakter yang ditanamkan sejak dini.
Konsep khidmat ini menempatkan pesantren sebagai institusi yang berdedikasi penuh pada pengabdian. Mereka tidak beroperasi sebagai badan usaha yang mencari profit, melainkan sebagai pusat pembelajaran dan pembentukan akhlak. Orientasi non-profit ini menjadi ciri khas yang membedakan pesantren dari lembaga komersial lainnya.
Tradisi gotong royong dan kerja bakti adalah contoh nyata dari khidmat ini. Santri diajak berkontribusi dalam pembangunan dan pemeliharaan fasilitas pesantren. Ini bukan eksploitasi, melainkan bagian dari proses pendidikan dan rasa memiliki terhadap lingkungan mereka.
Meluruskan Isu Eksploitasi Santri
Terkait isu eksploitasi santri di Pondok Pesantren Al-Khoziny, Yahya Cholil Staquf memberikan klarifikasi tegas. Ia menyatakan bahwa isu tersebut tidak benar, karena para santri memiliki niat gotong royong. Mereka bersama-sama membangun pesantren yang menjadi tempat tinggal mereka sendiri.
"Itu bukan eksploitasi, itu kan tradisi dan bagian dari kegiatan pendidikan di lingkungan pesantren," ujar Yahya. Ia membandingkannya dengan kerja bakti di lingkungan masyarakat umum, seperti membersihkan selokan. Kegiatan ini merupakan upaya kolektif untuk kepentingan bersama.
Yahya mencontohkan, jika santri membangun gedung madrasah atau kamar tempat tinggal, itu adalah untuk mereka sendiri. Hal ini menjadi tradisi yang telah lama mengakar di pesantren. Partisipasi aktif santri dalam pembangunan adalah bentuk pembelajaran dan tanggung jawab.
Perbaikan Infrastruktur Pesantren dan Apresiasi Pemerintah
Kasus ambruknya mushalla Pondok Pesantren Al Khoziny di Sidoarjo, Jawa Timur, menjadi perhatian serius. Yahya mengemukakan bahwa insiden ini harus menjadi pembelajaran untuk perbaikan pesantren secara sistemis. Terutama, fokus pada peningkatan kualitas infrastruktur yang lebih baik.
"Kita tahu itu baru puncak dari gunung es masalah infrastruktur," kata Yahya. Ia menekankan pentingnya perjuangan bersama untuk perbaikan berkelanjutan di seluruh pesantren. Masalah infrastruktur ini memerlukan perhatian dan solusi komprehensif.
PBNU mengapresiasi langkah cepat pemerintah dalam membangun kembali ponpes yang terdampak. Pemerintah juga menunjukkan perhatiannya kepada seluruh santri. "Kita berterima kasih bahwa pemerintah sudah menunjukkan perhatian dalam hal ini, mudah-mudahan nanti secara sistemis masalah ini bisa kita selesaikan," pungkas Yahya.
Sumber: AntaraNews