Diduga Lecehkan 2 Guru Wanita, Pimpinan Pesantren di Lahat Diusir Warga
Warga sebelumnya menggeruduk pondok pesantren dengan maksud meminta penjelasan dan pertanggungjawaban pelaku.
Seorang pimpinan pondok pesantren di desa Cempaka Sakti, Kecamatan Kikim Timur, Lahat, Sumatera Selatan, inisial AS, diusir warga diduga akibat melakukan pelecehan seksual terhadap dua guru wanita. Kejadian ini sempat membuat desa setempat mencekam.
Warga sebelumnya menggeruduk pondok pesantren dengan maksud meminta penjelasan dan pertanggungjawaban pelaku. Namun warga tidak puas karena orang yang dituju enggan keluar.
Orangtua santri pun datang ke pesantren untuk membawa pulang anaknya. Beberapa santri juga diantar pulang oleh pengurus pesantren.
Turun ke jalan kembali direncanakan warga yang terlanjur tersulut emosi. Namun niat mereka berhasil diredam kepolisian bersama tokoh agama dan pemerintah setempat.
Warga diajak dialog dan musyawarah dengan perwakilan ponpes, Sabtu (2/5). Pertemuan ini dihadiri juga Forum Ponpes Lahat, camat, dan kades setempat.
"Kita fasilitasi pertemuan dan menghasilkan beberapa poin penting sesuai permintaan warga," ungkap Kapolsek Kikim Timur AKP Pamris Malau, Senin (4/5).
Kesepakatan yang Dikeluarkan
Pamris menjelaskan, beberapa kesepakatan yang dikeluarkan di antaranya pelaku AS segera meninggalkan desa setempat, menutup sementara pesantren, dan mengizinkan santri kelas III MTs untuk tetap mengikuti ujian baik di pesantren teraebut maupun di sekolah lain sesuai rekomendasi Kementerian Agama.
Pelaku juga diminta menandatangi surat pernyataan setelah mengakui tuduhan itu. Surat ini turut ditandatangi oleh salah satu korban yang telah berusia 22 tahun.
"Sudah ada kesepakatan bersama dan kondisi sudah kondusif," kata Pamris.
Belum Diketahui Bentuk Pelecehan Seksual
Hanya saja, Malau belum membeberkan bentuk pelecehan seksual yang dilakukan AS karena korban hingga kini belum melapor ke polisi. Namun dia membenarkan korban berjumlah dua orang yang berstatus sebagai pengajar di pesantren tersebut.
Informasi yang diterimanya, korban tidak melapor karena sebelumnya sudah ada perdamaian dengan pelaku. Mereka sepakat mengambil jalur kekeluargaan untuk menuntaskan kasus ini.
"Kami luruskan bahwa korban bukan santri, tapi pendidik wanita, infonya ada dua orang," kata Pamris.