Kejati Jatim Perkuat Penguatan Nilai Kebangsaan Santri Tangkal Radikalisme di Nganjuk
Kejaksaan Tinggi Jawa Timur (Kejati Jatim) gencar lakukan penguatan nilai kebangsaan santri di Nganjuk sebagai upaya krusial menangkal radikalisme dan intoleransi. Simak peran strategis mereka!
Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jawa Timur (Jatim) baru-baru ini menggelar program penguatan nilai kebangsaan bagi para santri di Pondok Pesantren (Ponpes) Al Ubaidah, Nganjuk. Kegiatan ini bertujuan untuk membentengi generasi muda dari paham intoleransi beragama dan radikalisme yang dapat mengancam persatuan bangsa. Inisiatif ini menunjukkan komitmen Kejati Jatim dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) melalui pendidikan karakter.
Analis Data dan Informasi Bidang Intelijen Kejati Jatim, Abdullah, menegaskan bahwa santri memiliki peran vital sebagai agen toleransi dan perekat persatuan di tengah kemajemukan Indonesia. Mereka diharapkan mampu mengimplementasikan prinsip "khoirun nas anfauhum linnas" atau "sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain" dalam kehidupan bermasyarakat. Prinsip ini menjadi landasan kuat bagi santri untuk berkontribusi positif di tengah masyarakat.
Program edukasi ini juga menyoroti bahwa radikalisme berakar dari sikap eksklusif yang merasa paling benar, sehingga santri diharapkan menjadi garda terdepan dalam merawat kebhinekaan. Dengan pemahaman yang mendalam tentang nilai-nilai kebangsaan, para santri diharapkan dapat menyebarkan syiar Islam secara bijak dan menyejukkan. Upaya ini merupakan langkah konkret dalam membangun masyarakat yang harmonis dan toleran.
Santri sebagai Agen Toleransi dan Penangkal Radikalisme
Abdullah dari Kejati Jatim menekankan pentingnya peran santri dalam menjaga kerukunan umat beragama. Sikap saling menghargai menjadi kunci utama untuk mempertahankan harmoni di tengah masyarakat Indonesia yang majemuk. Ia mengingatkan bahwa Indonesia adalah negara yang dibangun oleh seluruh elemen bangsa, bukan hanya milik satu golongan atau agama tertentu.
Pemahaman ini sangat krusial untuk mencegah tumbuhnya sikap eksklusif dan radikal di kalangan masyarakat. Santri diharapkan mampu menjadi teladan dalam menunjukkan bahwa Indonesia adalah negara beragama, yang diperjuangkan bersama oleh semua komponen bangsa sejak sebelum kemerdekaan. Dengan demikian, mereka dapat menjadi benteng pertahanan ideologi negara.
Penyampaian syiar Islam secara bijak dan menyejukkan, tanpa meninggalkan kearifan lokal, menjadi harapan besar bagi para santri. Selama tidak bertentangan dengan akidah maupun norma yang berlaku, kearifan lokal dapat menjadi jembatan untuk memperkuat nilai-nilai kebangsaan. Hal ini akan membantu santri beradaptasi dan memberikan kontribusi nyata di berbagai daerah.
Peran LDII dan Moderasi Beragama dari Generasi Muda
Ketua DPW LDII Jawa Timur, Moch. Amrodji Konawi, turut hadir dan menegaskan bahwa penguatan nilai kebangsaan adalah prioritas utama dalam delapan bidang pengabdian LDII untuk bangsa. Ia menyoroti pentingnya menjaga nilai-nilai kebangsaan di negara yang sangat majemuk seperti Indonesia. Komitmen ini menunjukkan keseriusan organisasi dalam mendukung program pemerintah.
LDII secara aktif mendorong seluruh pondok pesantren di bawah naungannya serta DPD LDII di kabupaten/kota se-Jawa Timur untuk memberikan edukasi. Edukasi ini mencakup pentingnya menjaga kerukunan dan toleransi antarumat beragama kepada santri dan warga LDII di masjid serta musala. Langkah ini merupakan upaya kolektif untuk menanamkan nilai-nilai positif sejak dini.
Menurut Amrodji, moderasi beragama harus dimulai dari generasi muda, yang memiliki peran strategis sebagai agen perubahan. Pemuda adalah "agent of change" yang diharapkan mampu membawa perubahan ke arah yang lebih baik bagi bangsa. Dengan demikian, investasi pada pendidikan karakter generasi muda menjadi sangat penting untuk masa depan Indonesia.
Tantangan Dakwah dan Fondasi Kebersamaan Bangsa
Pengasuh Ponpes Al Ubaidah, Habib Ubaidillah Al Hasany, menyambut baik edukasi ini sebagai bekal berharga bagi para santri. Ia menjelaskan bahwa Ponpes Al Ubaidah merupakan pusat pelatihan dai dan daiyah yang akan diterjunkan ke berbagai daerah di Indonesia. Oleh karena itu, kerja sama dengan berbagai pihak, mulai dari pemerintah daerah hingga pusat, sangat terbuka.
Para santri yang dididik di pesantren ini nantinya akan disebar ke berbagai wilayah dan harus siap menghadapi tantangan dakwah yang semakin kompleks. Tantangan tersebut mencakup munculnya pandangan yang ingin mengubah dasar dan tatanan kehidupan berbangsa yang telah disepakati oleh para pendiri bangsa. Hal ini menuntut santri untuk memiliki pemahaman yang kokoh.
Habib Ubaidillah menekankan bahwa nilai kebersamaan, persatuan, dan kerja sama merupakan fondasi utama bangsa Indonesia. Nilai-nilai luhur ini harus diwariskan kepada generasi penerus, termasuk para santri, sebagai bekal saat membina umat di tengah masyarakat. Dengan fondasi yang kuat, santri dapat menjadi pemimpin spiritual yang membawa kedamaian dan persatuan.
Sumber: AntaraNews