Kemenag Gelar Takjil Pesantren: Membangun Proyeksi Santri Masa Depan yang Adaptif

Kementerian Agama (Kemenag) melalui program 'San Trend Ramadhan' membahas Proyeksi Santri Masa Depan, mendorong santri menguasai ilmu agama dan kebangsaan untuk peran strategis di berbagai bidang.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Kemenag Gelar Takjil Pesantren: Membangun Proyeksi Santri Masa Depan yang Adaptif
Kementerian Agama (Kemenag) melalui program 'San Trend Ramadhan' membahas Proyeksi Santri Masa Depan, mendorong santri menguasai ilmu agama dan kebangsaan untuk peran strategis di berbagai bidang. (AntaraNews)

Kementerian Agama (Kemenag) menyelenggarakan kegiatan Takjil Pesantren yang dirangkai dengan Talkshow dan Ngaji Bareng Santri. Acara ini berlangsung di Pesantren Luhur Al-Tsaqafah, Jakarta Selatan, sebagai bagian dari rangkaian program Ramadhan Direktorat Pesantren bertajuk “San Trend Ramadhan”. Kegiatan ini bertujuan untuk mengulas dan merumuskan arah Proyeksi Santri Masa Depan yang relevan dengan tantangan zaman.

Sekretaris Jenderal Kemenag, Kamarudin Amin, menekankan pentingnya santri tidak hanya mendalami ilmu agama atau tafaqquh fiddin. Namun, santri juga dituntut untuk memahami serta menguasai ilmu ketatanegaraan dan kebangsaan. Hal ini krusial agar mereka mampu mengambil peran strategis di berbagai sektor kehidupan berbangsa dan bernegara.

Kamarudin Amin menyatakan bahwa santri masa kini diharapkan memiliki target yang lebih luas dari sekadar tafaqquh fiddin. Mereka perlu belajar ilmu ketatanegaraan agar dapat sukses menempati posisi-posisi strategis. Oleh karena itu, Kemenag berupaya membekali santri dengan wawasan yang komprehensif.

Sekretaris Jenderal Kemenag, Kamarudin Amin, menegaskan bahwa santri memiliki potensi besar untuk berkontribusi pada kemajuan bangsa. Mereka tidak hanya diharapkan menjadi ahli agama, tetapi juga pemimpin yang cakap di berbagai bidang. Penguasaan ilmu ketatanegaraan dan kebangsaan menjadi bekal penting bagi santri untuk berpartisipasi aktif dalam pembangunan nasional.

Visi ini sejalan dengan upaya Kemenag untuk memperkuat peran pesantren sebagai lembaga pendidikan yang mencetak generasi unggul. Santri didorong untuk memiliki pemahaman mendalam tentang Pancasila, UUD 1945, serta nilai-nilai kebangsaan lainnya. Dengan demikian, mereka dapat menjadi agen perubahan yang membawa kemaslahatan bagi masyarakat luas.

Pembekalan ini diharapkan dapat melahirkan santri yang tidak hanya saleh secara spiritual, tetapi juga memiliki integritas dan kompetensi. Mereka akan siap menghadapi dinamika sosial dan politik, serta mampu memberikan solusi konstruktif untuk permasalahan bangsa. Ini merupakan bagian dari Proyeksi Santri Masa Depan yang dicanangkan Kemenag.

Pengasuh Pondok Pesantren Al-Tsaqafah, Said Aqil Siradj, menyoroti kekayaan tradisi keilmuan yang dimiliki pesantren. Salah satu fondasi utama pembelajaran di pesantren adalah khazanah kitab kuning yang telah diwariskan secara turun-temurun. Kitab kuning menjadi sumber rujukan utama dalam memahami ajaran Islam secara mendalam.

Kiai Said menjelaskan bahwa konstruksi keilmuan pesantren bertumpu pada tiga pilar utama yang saling melengkapi. Pilar pertama adalah bayan ilahi, yang bersumber dari wahyu Allah SWT. Kedua, bayan nabawi, yang merujuk pada sunnah atau ajaran Nabi Muhammad SAW. Ketiga, bayan aqli, yang berkembang melalui ijtihad ulama seperti ijma dan qiyas.

Ketiga pilar ini membentuk metodologi istinbath hukum yang kokoh dan adaptif. Dengan demikian, pesantren mampu menghasilkan pemikiran-pemikiran Islam yang relevan dengan perkembangan zaman. Tradisi ini menjadi kekuatan pesantren dalam membentuk karakter dan intelektualitas santri.

Direktur Pesantren, Basnang Said, menjelaskan bahwa kegiatan Takjil Pesantren ini adalah bagian dari rangkaian “San Trend Ramadhan”. Rangkaian ini meliputi berbagai agenda seperti Pesantren di Radio, Ramadhan Insight, dan Ngaji Bandongan Online. Kegiatan ini dirancang dengan pendekatan tematik untuk memaksimalkan dampaknya.

Pada pelaksanaan perdana di PP Al-Tsaqafah Ciganjur, tema yang diangkat adalah “Dari Pesantren untuk Dunia: Proyeksi Santri Masa Depan”. Basnang menegaskan bahwa tema ini bukan sekadar slogan, melainkan arah strategis pembinaan santri ke depan. Tujuannya adalah menghadirkan figur santri yang kuat dalam tradisi, adaptif terhadap perubahan, dan memiliki komitmen kebangsaan yang kokoh.

Basnang Said menggarisbawahi bahwa santri masa depan yang diproyeksikan adalah mereka yang berakar kuat pada tradisi keilmuan pesantren, seperti yang dicontohkan oleh Kiai Said. Mereka diharapkan menguasai khazanah klasik, namun tetap terbuka terhadap perkembangan zaman. Keseimbangan antara tradisi dan modernitas menjadi kunci dalam Proyeksi Santri Masa Depan.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi