Rois Syuriah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kebumen, Afifuddin Chanif Al Hasani, mengingatkan seluruh santri di tanah air untuk mengambil peran aktif dalam berbagai bidang kehidupan. Pesan ini disampaikan saat mewakili Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf, menekankan pentingnya santri berpartisipasi tanpa kehilangan jati diri.
Gus Afif, sapaan akrab Afifuddin Chanif Al Hasani, menyatakan bahwa perjuangan santri saat ini tidak lagi menggunakan senjata, melainkan dengan ilmu dan akhlak mulia. Santri diharapkan mampu hadir di dunia pendidikan, ekonomi, digital, dan peradaban global, membawa nilai-nilai luhur yang mereka miliki.
Pesan tersebut disampaikan dalam Apel Akbar Hari Santri Nasional 2025 yang diselenggarakan oleh PCNU Kebumen, Jawa Tengah. Acara ini merupakan puncak rangkaian kegiatan peringatan Hari Santri yang telah berlangsung sejak awal Oktober, mengusung tema "Menuju Peradaban Mulia".
Advertisement
Advertisement
Transformasi Peran Santri di Era Modern
PBNU melalui perwakilannya menegaskan bahwa santri harus menunjukkan eksistensinya di berbagai sektor kehidupan. Era modern menuntut santri untuk tidak hanya fokus pada kajian keagamaan, tetapi juga terlibat aktif dalam pembangunan bangsa dan peradaban global.
"Santri kini tidak lagi berjuang dengan senjata, tetapi dengan ilmu dan akhlak. Santri harus hadir di dunia pendidikan, ekonomi, digital, dan peradaban global tanpa kehilangan jati diri," kata Gus Afif. Pernyataan ini menggarisbawahi pergeseran paradigma peran santri dari masa lalu ke masa kini.
Keterlibatan santri dalam bidang-bidang tersebut diharapkan dapat memberikan kontribusi signifikan. Dengan bekal ilmu pengetahuan dan akhlakul karimah, santri memiliki potensi besar untuk menjadi agen perubahan yang positif di tengah masyarakat.
Advertisement
Advertisement
Makna Historis dan Spiritualitas Hari Santri
Hari Santri Nasional bukan sekadar perayaan rutin, melainkan momentum penting untuk mengenang sejarah dan memperkuat spiritualitas kebangsaan. Gus Afif menegaskan kembali makna historis Hari Santri yang berakar dari Resolusi Jihad 22 Oktober 1945.
"Hari Santri bukan sekadar mengenang masa lalu, tetapi momentum spiritual untuk menjaga kemerdekaan. Resolusi jihad bukan hanya seruan perang, melainkan piagam moral bangsa bahwa cinta tanah air adalah bagian dari iman," ucapnya. Penegasan ini mengingatkan kembali pada peran besar ulama dan santri dalam mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia.
Peringatan ini menjadi pengingat bahwa semangat perjuangan santri harus terus diwarisi dan diimplementasikan dalam konteks kekinian. Cinta tanah air yang merupakan bagian dari iman, menjadi landasan bagi setiap santri untuk berkontribusi aktif bagi kemajuan bangsa.
Advertisement
Advertisement
Penguatan Moral dan Konsolidasi Umat Melalui Pesantren
Apel Akbar Hari Santri Nasional 2025 di Kebumen juga menjadi wadah penguatan moral dan konsolidasi kesatuan umat. Ketua Tanfidziyah PCNU Kebumen, Imam Satibi, secara simbolis menyerahkan Pernyataan Sikap Bela Kyai kepada Ketua DPRD Kebumen.
Pernyataan sikap tersebut berisi seruan untuk menjaga marwah ulama, menegakkan nilai Aswaja (Ahlussunnah wal Jama'ah), dan mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Hal ini menunjukkan komitmen PCNU Kebumen dalam menjaga nilai-nilai kebangsaan dan keagamaan.
Imam Satibi juga menyampaikan bahwa tema nasional Hari Santri tahun ini mengingatkan bahwa pesantren adalah benteng moral bangsa. "Pesantren harus terus dijaga, diperkuat, dan dikembangkan sebagai lembaga pencetak generasi berakhlakul karimah," kata Imam Satibi. PCNU Kebumen sendiri telah menggelar 24 jenis lomba yang melibatkan ribuan santri dari berbagai lembaga pendidikan di bawah naungan NU untuk memeriahkan peringatan ini.
Advertisement
Sumber: AntaraNews