Dokter Tifa Usai Sidang Citizen Lawsuit: Foto di Ijazah Joko Widodo dan Saat jadi Presiden Beda 92,37%
Tersangka kasus serupa yang dilaporkan Jokowi di Polda Metro Jaya menegaskan bahwa pada kenyataannya ada dua nama Joko Widodo yang berbeda.
Tifauzia Tyassuma alias dokter Tifa mengatakan ada perbedaan signifikan antara foto Presiden ke-7 Joko Widodo (Jokowi) yang ada di ijazah dengan foto saat menjadi presiden. Pernyataan tersebut dikemukakan Tifa disela menjadi saksi ahli sidang Citizen Lawsuit ijazah Jokowi di Pengadilan Negeri Surakarta, Selasa (24/2).
"Jadi, poinnya adalah hari ini sebetulnya melalui penjelasan saya itu sudah firm tadi, konklusif ya. Bahwa foto yang ada pada ijazah seseorang bernama Joko Widodo, yang diposting oleh Dian Sandi itu berbeda 92,37% dengan foto Joko Widodo yang menjadi presiden," ujar Tifa.
Tersangka kasus serupa yang dilaporkan Jokowi di Polda Metro Jaya menegaskan bahwa pada kenyataannya ada dua nama Joko Widodo yang berbeda.
"Sudah konklusif itu. Berarti ada dua Joko Widodo yang berbeda. Ini secara saintifik ya. Secara ilmu pengetahuan ya, bukan bukan secara dokter Tifa, bukan. Secara ilmu pengetahuan, konklusif," tandasnya.
"Tugas berikutnya ya cari aja tuh yang pakai kacamata, pakai kumis ini. Cari dimana orang ini. Iya, kalau memang benar-benar sangat kesimpulan yang itu ya itu dicari," sambungnya.
Disinggung terkait analisis perilaku Jokowi yang tidak nyaman ketika ditanya soal pendidikannya, Tifa mengiyakan. Tifa mengaku jika operasi matematikanya saya menggunakan metode bayesian, mempelajari postur dan perilaku melalui otot-otot wajah.
50% Bukan dari Gudang Memori
"Namanya facial action coding system itu. Itu menunjukkan bahwa setiap kali menceritakan atau memberikan penjelasan terkait dengan riwayat pendidikan, kemudian ijazah, KKN, dan sebagainya itu, 56% bukan berasal dari gudang memori tersier. Ya, yang bernama Hippocampus. Tapi berasal dari gudang emosi, amigdala, berasal dari prefrontal cortex ya, ingatan jangka pendek. Yang namanya itu ingatan adisi, atau ingatan yang ditambahkan," terangnya.
Amigdala
"Makanya kan bahasanya adalah ketika disinggung tentang ijazah, bahasanya bahasa amikdala namanya, bahasa emosi. Dihina sehina-hinanya, direndahkan, itu bahasa amigdala. Sedangkan kalau hipocampusnya bicara, oh bentarbentar ya tunggu ya. Nah, ini loh ijazahku gitu kan dengan wajah ceria kan. Nah, itu pekerjaan hipocampus," katanya.
"Tapi kalau pekerjaan amigdala, ya itu 'saya telah dihina sehina hinanya'. Itu pekerjaan amigdala. Artinya kan ada keraguan yang luar biasa terkait dengan benar enggak sih punya ijazah atau tidak. Karena faktanya bayesian mengatakan bahwa foto yang ada di ijazah itu bukan fotonya Pak Jokowi," pungkasnya.