Temui Jokowi di Solo, Rismon Sianipar Minta Maaf soal Ijazah
"Ya tentu ya, saya pun minta maaf kepada publik gitu loh. Apalagi kepada pihak terkait seperti Bapak Joko Widodo," ujar Rismon.
Tersangka kasus dugaan penyebaran tuduhan ijazah palsu Presiden ke-7 Joko Widodo (Jokowi), Rismon Sianipar datang ke Solo untuk meminta maaf Jokowi. Rismon bertemu empat mata dengan Jokowi sekitar 30 menit. Ia mengaku sempat meminta maaf.
"Ya tentu ya, saya pun minta maaf kepada publik gitu loh. Apalagi kepada pihak terkait seperti Bapak Joko Widodo," ujar Rismon seusai pertemuan.
"Itulah pertanggungjawaban seorang peneliti yang harus independen, yang siap dicerca dihina dengan narasi-narasi sesuka mereka. Meskipun narasi mereka tidak bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah, seperti saya menyajikan buku Jokowi's Word Paper yang saya tantang secara terbuka untuk dikoreksi dan dibentuk dalam buku juga," sambungnya.
"Karena hal itu tidak dilakukan oleh orang lain dan kebetulan saya melanjutkan penelitian saya, maka saya bertanggung jawab untuk menuliskan itu kembali," katanya lagi.
Kata Kuasa Hukum Rismon, Jahmada Girsang
Ahli digital forensik itu mengakui memperoleh temuan baru dari penelitian ijazah Jokowi. Menurutnya, penelitian yang dilakukannya merupakan penelitian independen yang tidak ada ketergantungan dengan Roy Suryo dan dokter Tifa.
"Jadi saya garis bawahi, secara independen metodologi itu saya tuliskan sekitar 480-an halaman dari 700 halaman lebih di buku Jokowi’s White's Paper. Karena buku tersebut adalah tulisan yang independen, artinya tulisan kami antara Pak Roy (Suryo) dan Bu Tifa tidak ada saling ketergantungan, tidak ada saling keterkaitan karena ditulis secara terpisah baik secara geografi maupun analisa," kata Rismon.
Dikatakannya, penelitian kembali ijazah Jokowi dilakukan secara intens dua bulan terakhir. Beberapa hasil temuan tersebut mematahkan hasil riset sebelumnya yang menyebut ijazah Jokowi tidak identik.
"Pertama, saya dapati memang sejak gelar perkara ditunjukkan ijazah analog dari Bapak Joko Widodo. Terus saya kaji lagi apa yang saya amati di situ, bahwa ada emboss, ada watermarks. Jadi emboss dan watermarks ini menjadi objek kajian saya dan saya teliti memang tidak ada hologram. Mungkin setelah saya kaji dengan beberapa objek ijazah lainnya di tahun yang sama dari UGM, memang pada saat itu hologram memang tidak dipakai sebagai pengunci atau pengaman dalam sebuah ijazah. Jadi memang yang ada hanya watermarks dan emboss," jelasnya.