Cerdas dan Peduli, Guru SMAN 2 Karanganyar Ciptakan Aplikasi Pendeteksi Makan Bergizi Gratis
Taupik Mulyadi, guru ekonomi di SMA Negeri 2 Karanganyar, berhasil mengembangkan sebuah aplikasi inovatif yang berfungsi mendeteksi kelayakan makanan.
Kasus keracunan akibat program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang marak belakangan ini mendorong seorang guru di Karanganyar untuk bertindak kreatif. Taupik Mulyadi, guru ekonomi di SMA Negeri 2 Karanganyar, berhasil mengembangkan sebuah aplikasi inovatif yang berfungsi mendeteksi kelayakan makanan sebelum dikonsumsi.
Aplikasi ini diberi nama 'Save Eat MBG', dan bisa digunakan untuk mendeteksi kelaikan menu MBG yang akan dibagikan ke siswa di sekolah tersebut.
Taupik mengatakan, dirinya termotivasi untuk menciptakan aplikasi tersebut setelah marak keracunan siswa yang mengkonsumsi menu MBG. Menurutnya, aplikasi tersebut dibuat baru dua pekan lalu.
“Aplikasi Save Eat MBG ini saya buat berdasarkan peristiwa dan kejadian banyaknya keracunan di beberapa daerah di sekolah. Oleh karena itu saya membuat sebuah aplikasi berbasis teknologi informasi, yaitu Android,” ujar Taupik saat ditemui di SMA N 2 Karanganyar, Jumat (17/10).
Dikatakan Taupik, aplikasi Save Eat MBG bekerja berdasarkan analisis visual atau gambar makanan. Selain itu, petugas menjawab pertanyaan-pertanyaan seputar kondisi makanan di aplikasi tersebut.
“Aplikasi Save Eat MBG berdasarkan konsep atau uji di organoleptik. Di mana berdasarkan analisis visual dengan perbandingan antara foto gambar yang dimasukkan dalam aplikasi dengan lima unsur yaitu nasi, lauk-pauk, sayuran, buah dan susu,” ungkapnya.
Kemudian, lanjut Taupik, unsur yang kedua adalah pengamatan dari pihak food tester atau pengelolanya. Mereka mengamati berdasarkan pertanyaan yang muncul dalam sebuah aplikasi.
"Nah, di sini ada pertanyaan-pertanyaan untuk diamati tanpa harus mencicipi atau merasakan dari menu itu,” jelas dia.
Setelah di foto dan diuji, kata Taupik, aplikasi tersebut akan mengeluarkan rekomendasi makanan. Di aplikasi tersebut akan keluar rekomendasi 85 hingga 100 persen bila layak dikonsumsi.
“Ketika ada persentase menunjukkan angka 35 sampai 84 itu waspada dengan warna kuning. Kemudian tidak layak berarti persentasenya di bawah 75 persen. Dan di dalam aplikasi ini ada data tentang yang berbahaya yang bagaimana menurut hasil analisis dari visual gambar yang di-upload seperti itu,” kata dia.
Lebih lanjut Taupik mengatakan setiap hari pihaknya melakukan pengecekan menu MBG sebelum dibagikan ke siswa bersama food testernya. Bila diketahui makanan tidak layak konsumsi maka tidak diberikan ke siswa.
“Jadi kita lihat dari makanannya, apakah berbau, berlendir, masih segar atau tidak, susu kotak apakah kemasan masih bagus. Sampling kita lakukan 3 makanan, jumlah siswa sekira seribuan,” tuturnya.
Taupik menyebut, tingkat akurasi aplikasi tersebut sekitar 80 hingga 90 persen. Menurutnya, sejak sepekan digunakan, belum ditemukan makanan yang tidak layak konsumsi.
"Aplikasi Save Eat MBG ini masih dikembangkan agar lebih baik lagi. Sementara digunakan untuk SMA N 2 Karanganyar. Karena ada masukan, ada nanti standar errornya saya lihat, masih belum bagus atau deteksinya gambarnya belum, akurasinya belum tepat itu saya perbaiki ini sudah sampai ke versi 11,” katanya.