Satuan Tugas (Satgas) Penyelenggara Program Makan Bergizi Gratis (MBG) Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur, kini melakukan evaluasi menyeluruh. Langkah ini menyusul adanya temuan nasi basi di sejumlah lembaga pendidikan di wilayah tersebut. Kejadian ini memicu kekhawatiran serius tentang kualitas makanan yang disalurkan kepada para penerima manfaat.
Temuan awal terjadi di SMA Negeri 3 Bangkalan pada Senin, 22 September. Sebanyak 552 porsi makanan yang disediakan untuk siswa diketahui berbau tidak sedap dan tidak layak konsumsi. Pihak sekolah langsung menolak ratusan porsi tersebut demi kesehatan para siswa.
Juru Bicara Satgas MBG Bangkalan, Bambang Budi Mustika, menyatakan komitmen tegas. Mereka akan mencegah insiden serupa terulang kembali di masa mendatang. Evaluasi dan pemanggilan pihak terkait sedang berlangsung intensif untuk mencari solusi terbaik.
Advertisement
Advertisement
Temuan nasi basi pertama kali terjadi di SMA Negeri 3 Bangkalan. Sebanyak 552 porsi makanan yang disediakan untuk siswa diketahui berbau tidak sedap. Kondisi ini membuat makanan tersebut tidak layak untuk dikonsumsi.
Pihak sekolah segera mengambil tindakan tegas atas temuan ini. Mereka menolak ratusan porsi Makan Bergizi Gratis (MBG) tersebut. Penolakan ini bertujuan melindungi kesehatan para siswa dari risiko makanan yang tidak higienis.
Sekolah kemudian meminta pengelola makanan, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Yayasan Sehat Luhur Mandiri Martajasah, untuk menarik kembali makanan. Kejadian ini menjadi perhatian serius bagi semua pihak terkait program Makan Bergizi Gratis Bangkalan.
Advertisement
Advertisement
Juru Bicara Satgas MBG Bangkalan, Bambang Budi Mustika, menegaskan komitmen. "Kami tidak ingin kejadian serupa terjadi lagi di Bangkalan," ujarnya. Satgas langsung melakukan evaluasi menyeluruh terhadap seluruh proses distribusi makanan.
Pihaknya segera memanggil sejumlah pihak terkait insiden ini. Termasuk di antaranya adalah pengelola dapur MBG yang bertanggung jawab atas penyaluran makanan. Langkah ini diambil untuk mengantisipasi terulangnya masalah kualitas makanan di kemudian hari.
Satgas juga telah memanggil semua kepala kelompok di masing-masing kecamatan. Tujuannya adalah untuk memperketat pengawasan terhadap SPPG. Pengawasan ketat ini diharapkan dapat menjamin kualitas Makan Bergizi Gratis yang disalurkan.
Advertisement
Advertisement
Kepala SPPG Yayasan Sehat Luhur Mandiri Martajasah, Kusuma Gigih Prakoso, memberikan klarifikasi. Ia mengakui adanya masalah pada makanan yang disalurkan ke SMA Negeri 3 Bangkalan. Menurutnya, saus tiram yang digunakan terasa sedikit asam.
Rasa asam pada saus tiram tersebut membuat makanan terkesan basi. "Di internal SPPG Yayasan Sehat Luhur Mandiri Martajasah kami juga telah melakukan evaluasi," kata Kusuma. Pihaknya berjanji akan lebih berhati-hati dalam setiap proses produksi dan distribusi.
Kusuma menekankan pentingnya menjaga nama baik lembaga. Evaluasi internal ini menjadi prioritas utama untuk perbaikan berkelanjutan. Tujuannya adalah memastikan program Makan Bergizi Gratis berjalan optimal dan aman bagi penerima manfaat.
Advertisement
Advertisement
Program Makan Bergizi Gratis di Bangkalan memiliki cakupan yang luas. Program ini menyasar total 197.000 orang penerima manfaat. Mereka terdiri dari siswa jenjang PAUD hingga SMA/SMK di seluruh wilayah Bangkalan.
Selain siswa, ibu hamil juga termasuk dalam sasaran program ini. Inisiatif ini bertujuan untuk memastikan asupan gizi yang memadai bagi kelompok rentan. Kualitas makanan menjadi krusial demi keberhasilan program dalam meningkatkan kesehatan masyarakat.
Oleh karena itu, insiden nasi basi menjadi perhatian serius bagi pemerintah daerah dan Satgas MBG. Penjaminan kualitas adalah kunci keberlanjutan program ini. Satgas MBG berkomitmen penuh terhadap hal tersebut demi keberhasilan program Makan Bergizi Gratis Bangkalan.
Advertisement
Sumber: AntaraNews