Persagi Siapkan Sertifikasi Tenaga Pengawas Gizi Dapur MBG, Kunci Mutu Pangan Nasional
Persatuan Ahli Gizi Indonesia (Persagi) menyiapkan **sertifikasi tenaga pengawas gizi** khusus untuk dapur Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) demi menjamin kualitas dan keamanan pangan, serta mendukung target penurunan stunting.
Persatuan Ahli Gizi Indonesia (Persagi) tengah mengambil langkah strategis dengan menyiapkan standardisasi profesi serta **sertifikasi tenaga pengawas gizi** khusus. Inisiatif ini ditujukan bagi para tenaga pengawas gizi yang bertugas di dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dalam Program Makanan Bergizi Gratis (MBG).
Langkah ini krusial untuk menjamin mutu dan keamanan pangan yang disajikan, mengingat pentingnya program MBG bagi kesehatan masyarakat. Ketua Umum Persagi, Dodi Izwardi, dalam dialog "Dari Pangan Bergizi Menuju Kecerdasan Bangsa" APPMBGI National Summit 2026 di Jakarta, Sabtu, menjelaskan bahwa kurikulum pendidikan ahli gizi selama ini lebih banyak disiapkan untuk kebutuhan rumah sakit, klinik, dan puskesmas.
Oleh karena itu, diperlukan adaptasi kurikulum dan penguatan kapasitas agar tenaga gizi siap bekerja di ekosistem dapur MBG yang memiliki kebutuhan sangat spesifik. Program ini merupakan langkah konkret pemerintah menuju Indonesia Emas 2045 dengan target signifikan menurunkan angka stunting hingga 14,2 persen pada tahun 2029.
Pentingnya Standardisasi dan Sertifikasi Gizi untuk MBG
Kebutuhan di lapangan untuk dapur MBG sangatlah spesifik dan berbeda dari lingkungan fasilitas kesehatan tradisional. Tenaga gizi di SPPG dituntut memiliki jiwa entrepreneur dan keberanian untuk mengelola sistem produksi makanan dalam skala besar. Persagi menyadari pentingnya penguatan kapasitas ini agar para ahli gizi dapat bekerja secara efektif dalam ekosistem tersebut.
Persagi telah membangun komitmen kuat untuk mendukung program strategis pemerintah ini melalui pendekatan satu data dan satu kata. Penguatan kompetensi yang disiapkan mencakup berbagai aspek penting, mulai dari perencanaan bahan makanan, estimasi biaya, penentuan kecukupan standar gizi, hingga pengawasan mutu menggunakan sistem Hazard Analysis Critical Control Point (HACCP).
Pemenuhan gizi MBG yang lengkap, terdiri dari karbohidrat, protein, vitamin, dan mineral, tidak bisa lagi hanya mengandalkan suplementasi. Riset membuktikan bahwa pemberian makanan lengkap setidaknya satu kali sehari mampu mengubah perilaku konsumsi anak secara signifikan. Program ini dinilai sebagai salah satu yang terbaik di dunia dalam konteks pemenuhan gizi terstandar.
Tantangan Implementasi dan Solusi Strategis
Meskipun memiliki tujuan mulia, Dodi Izwardi juga menyoroti sejumlah tantangan dalam implementasi program di lapangan. Tantangan tersebut meliputi kesenjangan regulasi dan perbedaan standar operasional prosedur (SOP) di berbagai daerah, yang diakibatkan oleh keberagaman budaya makan masyarakat.
Sebagai contoh, SOP tidak dapat diseragamkan secara total antara wilayah Aceh, Jawa, dan Papua karena perilaku makan masyarakatnya yang berbeda-beda. Selain itu, kapasitas daerah dalam hal sistem pengawasan mutu juga belum merata, menjadi hambatan tersendiri dalam menjaga kualitas program.
Sebagai solusi, Persagi telah mengambil langkah proaktif dengan melakukan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) bersama asosiasi pengusaha dapur. Kerja sama ini bertujuan untuk menyediakan pendampingan teknis serta pengawasan higiene sanitasi oleh tenaga profesional yang kompeten.
Melalui upaya ini, Persagi memastikan bahwa setiap rupiah yang dikeluarkan negara untuk program MBG benar-benar memberikan dampak gizi yang optimal bagi generasi mendatang. Tenaga pengawas gizi yang tersertifikasi akan menjadi garda terdepan dalam menjaga kualitas dan keamanan pangan di dapur-dapur SPPG.
Sumber: AntaraNews