Banjir Serang Rendam Ratusan Rumah, Dua Bangunan Roboh Akibat Cuaca Ekstrem
Banjir Serang melanda Kota Serang, Banten, merendam 573 rumah dan merobohkan dua bangunan, berdampak pada 1.905 jiwa akibat cuaca ekstrem yang terjadi pada Minggu dini hari.
Bencana banjir dan kerusakan bangunan melanda Kota Serang, Banten, pada Minggu dini hari, 8 Maret 2026. Sebanyak 573 rumah warga terendam banjir dan dua unit rumah lainnya dilaporkan roboh akibat cuaca ekstrem yang terjadi di wilayah tersebut. Kejadian ini berdampak signifikan pada ratusan kepala keluarga di beberapa kecamatan.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Serang mencatat bahwa bencana ini memengaruhi sekitar 1.905 jiwa dari 573 Kepala Keluarga (KK). Hujan dengan intensitas sedang hingga lebat menjadi pemicu utama banjir, diperparah oleh kegagalan fungsi drainase dan luapan air sungai. Cuaca ekstrem ini juga menyebabkan angin kencang yang merobohkan bangunan.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Serang, Diat Hermawan, menyatakan bahwa personel telah diterjunkan ke lapangan. Mereka bertugas melakukan evakuasi korban, pendataan, serta menyiagakan peralatan di lokasi terdampak. Masyarakat diimbau untuk tetap waspada terhadap perubahan cuaca ekstrem dan potensi bencana susulan.
Dampak Luas Banjir dan Angin Kencang di Kota Serang
Banjir yang melanda Kota Serang telah menyebabkan kerugian material yang tidak sedikit. Total 573 rumah terendam, berdampak langsung pada kehidupan 1.905 jiwa yang tersebar di beberapa kecamatan. Kondisi ini menciptakan tantangan besar bagi upaya penanganan darurat dan pemulihan pasca-bencana.
Penyebab utama bencana ini adalah kombinasi dari hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang mengguyur wilayah tersebut. Curah hujan tinggi ini diperparah oleh sistem drainase yang tidak berfungsi optimal serta luapan air dari sungai-sungai sekitar. Akibatnya, air tidak dapat mengalir dengan lancar dan merendam permukiman warga.
Selain banjir, cuaca ekstrem juga membawa angin kencang yang menyebabkan kerusakan lebih lanjut. Dua unit rumah warga dilaporkan roboh akibat terjangan angin kencang tersebut. Insiden ini menambah daftar panjang dampak negatif dari kondisi cuaca yang tidak menentu.
Titik Terdampak dan Ketinggian Air yang Mengkhawatirkan
Berdasarkan data dari BPBD Kota Serang, banjir terjadi di delapan titik lokasi yang berbeda. Wilayah terdampak meliputi Kecamatan Serang, khususnya Kelurahan Lopang, dan Kecamatan Cipocok Jaya di Kelurahan Banjar Agung. Namun, titik terparah berada di Kecamatan Kasemen, khususnya Kelurahan Kasunyatan dan Sawah Luhur.
Di Kecamatan Kasemen, tepatnya di Lingkungan Manggerong, ketinggian air sempat mencapai 100 sentimeter, menunjukkan parahnya kondisi banjir. Sementara itu, di beberapa titik lain seperti Lingkungan Kroya Baru dan Kroya Indah Permai, genangan air setinggi 30 hingga 50 sentimeter masih terlihat di permukiman warga. Ketinggian air ini sangat mengganggu aktivitas sehari-hari masyarakat.
Dua rumah yang roboh akibat angin kencang juga tersebar di lokasi berbeda. Insiden pertama menimpa rumah milik Aprizal di Kelurahan Lopang, Kecamatan Serang. Insiden kedua terjadi pada rumah milik Muktar di Kelurahan Nyapah, Kecamatan Walantaka, menunjukkan bahwa dampak cuaca ekstrem tidak hanya terfokus pada satu area saja.
Respons dan Imbauan BPBD Kota Serang untuk Masyarakat
Menyikapi bencana ini, BPBD Kota Serang segera mengambil langkah cepat dengan menerjunkan personel ke lapangan. Tim bertugas untuk melakukan evakuasi terhadap korban yang membutuhkan bantuan, serta melakukan pendataan (assessment) menyeluruh terhadap dampak kerusakan. Peralatan pendukung juga disiagakan di lokasi terdampak untuk respons cepat.
Diat Hermawan menegaskan pentingnya kewaspadaan masyarakat, terutama yang tinggal di daerah rawan bencana. Imbauan ini juga ditujukan kepada pengguna jalan untuk berhati-hati terhadap potensi pohon tumbang atau tanah longsor. Perubahan cuaca ekstrem yang tidak menentu memerlukan kesiapsiagaan dari seluruh elemen masyarakat.
BPBD terus memantau perkembangan situasi dan berkoordinasi dengan pihak terkait untuk memastikan penanganan bencana berjalan efektif. Edukasi dan sosialisasi mengenai mitigasi bencana juga terus digencarkan. Hal ini bertujuan untuk meminimalkan risiko dan dampak yang mungkin timbul akibat cuaca ekstrem di masa mendatang.
Sumber: AntaraNews